KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Rabu, 29 Oktober 2014

Quo Vadis FSP?




Setahun lebih sudah Forum SoE Peduli eksis. Forum ini lahir dari sebuah niat sederhana, bagaimana orang-orang muda di kota kecil nan dingin ini punya wadah untuk berkumpul, berbagi dan saling mencerahkan. Maka lahirlah Forum SoE Peduli. Setahun lebih berlalu, berbagai aksi sosial dilakukan. Aneka diskusi, nonton bareng hingga sekedar kumpul-kumpul, makan, jalan-jalan sambil berbagi pengalaman. FSP bahkan secara serius menggelar kelas bahasa Inggris, pengobatan gratis hingga dua kali bikin pentas seni yang lumayan menghebohkan kota SoE. J
Apresiasi terbesar saya berikan untu kawan-kawan pegiat di FSP. Ada dokter, bankir, dosen, perawat, ahli gizi, karyawan, vikaris, aktivis LSM, guru hingga pelajar SMA. Komposisi yang lumayan oke, sayangnya masih lemah di proses kaderisasi. Setahun lebih berlalu, anggota cenderung tetap, bahkan dibilang terbatas. Kemana orang-orang muda SoE yang lain? Jelas ini PR bersama semua member FSP. 

bersama kak Ira Mangililo (copyright sandra frans)

Mengapa kaderisasi penting?
Dengan jumlah member yang terbilang masih sedikit, ditambah beban dan waktu kerja dari masing-masing member pastinya akan mempengaruhi konsistensi berkegiatan. FSP memang harus menambah lagi personel, yang akan membantu membuka jaringan, dan paling tidak bisa menjaga semangat agar terus bergeliat, jangan sampai vakum sesaat. Artinya, memang tidak harus semua personel ada supaya sebuah kegiatan bisa jalan. Secara bergantian setiap personel bisa diberi tanggungjawab untuk mengkoordinir sebuah kegiatan, tidak harus menunggu ketua forum. 

Kembali ke pertanyaan quo vadis FSP?
Sandra kembali melontarkan pertanyaan ini ketika beberapa dari anggota FSP hadir dalam acara diskusi Alkitab dan Postkolonial bersama kak Ira Mangililo beberapa waktu lalu. Sandra menyadari betul kondisi FSP saat ini. Apa sih yang mau kita lakukan di FSP? Saya sependapat dengan Sandra, bahwa pada akhirnya kita tidak bisa melakukan semua hal untuk menjawab setiap permasalahan di TTS. Tapi masing-masing kita masih mungkin melakukan hal kecil yang bisa kita buat untuk lingkungan sekitar.
Supaya konsisten, kita harus fokus. Apa saja yang menjadi fokus kita? Malam itu semua sepakat bahwa taman baca atau rumah baca bisa menjadi, apa yang dikatakan Joseph, sebagai ‘unit’ atau basis kita dalam bergiat. Bagi saya taman baca bias menjadi basecamp FSP, jadi tempat segala diskusi dan ide-ide dimatangkan. Ia bisa jadi tempat yang bukan sekedar ada untuk orang baca buku. Konsep taman baca/rumah baca kini sudah jauh lebih luas dan bisa beragam makna. Terima kasih untuk kak Iren yang sudah bersedia meminjamkan tanahnya di Oenasi untuk kita ‘garap’ bersama.
Ketika mengikuti Festival Taman Bacaan Masyarakat di Kendari, September lalu, saya menemukan bahwa taman baca tidak setradisional atau sekaku yang kita pikirkan. Sebuah ruangan penuh buku, sumpek, tenang dan bisa jadi membosankan bagi banyak orang. Kita ambil saja contoh atas apa yang dilakukan daeng M. Aan Mansyur, dkk di Makassar lewat Kata Kerja. Sebuah ruang berisi banyak buku bacaan memang menjadi pusat, namun secara tematik, berbagai kegiatan bisa terjadi di sekitarnya. Nonton film, bikin kerajinan tangan, diskusi, bedah buku, workshop, seminar, bahkan latihan menari dan teater. Tak jauh beda dengan apa yang sudah dirintis kawan-kawan Kamu Rote Ndao (Komunitas Anak Muda Rote Ndao) dan Namu Angu serta Prailiu di Sumba. Di taman baca, ada kelas bahasa Inggris untuk anak-anak, ada kelas menggambar, bahkan ada relawan yang setia bergantian membimbing anak-anak belajar.  

Relawan!
Menjawab pertanyaan mengapa kaderisasi penting dan bagaimana caranya supaya tidak vakum, maka kata kuncinya adalah relawan. FSP harus membangun kesadaran setiap anggotanya bahwa bergiat di FSP adalah bergiat sebagai seorang relawan. Dalam banyak kasus, relawan menjadi tonggak penting dan tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah sukses Jokowi dalam pemilu dan bagaimana kerja kampanyenya sukses karena didukung relawan.
Bergiat dengan sistem kerja relawan akan sangat membantu kita supaya menjaga jantung FSP tetap memompa. Kendala kita selama ini adalah ketika ada niat bikin kegiatan, biasanya tertunda-tunda karena banyak yang berhalangan hadir (belum lagi problemnya anggota kita terbatas). Tapi saya optimis, ketika dalam waktu dekat kita sudah punya basecamp, sudah punya ‘unit’ atau titik dimana kita bisa berkumpul dan berkegiatan, maka kerja dengan sistem relawan ini akan banyak membantu. Misalnya, agenda Jumat minggu ini kita punya kelas bahasa Inggris, lalu Sabtunya anak-anak belajar kelompok. Minggu depannya lagi ada agenda nonton film bersama atau kelas melukis (misalnya hehehe). Maka kita sudah bisa membagi tugas, pada waktu-waktu tersebut siapa yang siap jadi relawan sekaligus koordinator kegiatan. Yang berhalangan hadir bisa mendapat giliran kegiatan berikutnya, dst. Di sisi lain, setiap anggota FSP dituntut untuk kreatif bikin kegiatan yang sesuai bidang/minatnya. Bahkan teman-teman diluar FSP pun banyak yang akan bersedia jadi relawan untuk membawakan materi tertentu.

Lalu bagaimana dengan konsep rumah baca itu sendiri?
Beberapa waktu lalu kita sudah sepakat untuk membuat rumah baca dengan konsep tradisional ala Ume Kbubu, dengan material alang-alang, kayu, bambu, dll. Josua akan membantu membuat gambaran bangunan beserta rancangan anggarannya. Usul saya kita bisa gaet teman-teman muda Soe yang arsitek yang mungkin dengan Josua membuat konsep yang matang.
Berikutnya, secara spontan malam itu kita juga sudah bikin aksi sumbangan pembangunan rumah baca FSP. Saya rasa ini perlu digencarkan lagi. Sandra akan membuat proposalnya, sambil katong pikirkan juga kira-kira setiap kita bisa sumbang apa: mungkin alang-alang, bebak, bambu, kayu, semen, atau mungkin punya keluarga yang seorang tukang—yang bisa bikin rumah tradisional Timor hehe. Paling tidak dengan cara tersebut katong bisa tekan biaya. J Semoga gebrakan malam it uterus berlanjut.
Salam.
dickysenda

Jumat, 03 Oktober 2014

Surat Pengunduran Diri Dari Jabatan Ketua FC




Yth. All Founder and member Flobamora Community
Salam sejahtera untuk kita semua...
Tanggal 11 Agustus 2014, saya telah mengirim surat pengunduran diri dari ketua FC/Komunitas Blogger NTT kepada dua orang founder FC, kak Tuteh Pharmantara dan Ilham Himawan. Untuk menindaklanjuti surat tersebut, secara terbuka, di blog pribadi saya ini, saya ucapkan sekali lagi keinginan saya ini.
Dari komunikasi saya dengan kak Tuteh saat itu yang menyebutkan bahwa pemilihan saya sebagai ketua FC baru menggantikan kak Tuteh atas usul/inisiatif dan kesepakatan para founder FC (plus om Bisot). Meski saat itu saya menolak dengan beberapa alasan, pertama soal prioritas saya untuk fokus mempersiapkan diri untuk sebuah program beasiswa,  kedua, saya mempertimbangkan mayoritas member terpusat di Flores khususnya Ende plus seabrek kegiatan FC yang selalu muncul dan aktif terlaksana di sana. Sehingga saya menawarkan sebaiknya pengurus baru dari basis Ende. Ketiga, waktu itu saya menawarkan sistem pemilihan ketua yang terbuka dan melibatkan semua member (semacam voting) bukan penunjukan langsung oleh para founder.
Kemudian setelah mengalami tarik ulur niat itu dengan kak Tuteh Pharmantara akhirnya tugasnya saya terima dengan sedikit terpaksa karena sudah kadung ditodong oleh para founder :) padahal niat awal saya untuk fokus ke bidang pendidikan dan karir saja dulu. Benar saja dalam perjalanan waktu harus saya akui bahwa ada banyak kendala yang dihadapi karena di sisi lain saya harus benar-benar fokus pada pilihan utama saya diluar aktivitas senggang (ngeblog dan berkomunitas). Maka untuk kebaikan bersama dan untuk masa depan FC saya menyerahkan kembali tugas/tanggungjawab kepengurusan ini kembali kepada para founder FC. Untuk selanjutnya hal-hal terkait FC akan menjadi urusan dan tanggungjawab para founder. Terima kasih untuk kerjasamanya yang singkat ini. Mohon maaf untuk kekurangan dan kesalahan yang mungkin pernah saya lakukan selama menjabat sebagai ketua FC. Laporan keuangan dalam pengadaan kaos FC dan donasi untuk aksi peduli pendidikan anak di TTS dan di Sumba lewat aksi #SuratInspirasi sudah saya posting ke website resmi FC.
Saya tetap akan mendukung dan berkontribusi kepada komunitas blogger terbesar dan satu-satunya di NTT ini. Demikian surat terbuka sekaligus pengajuan pengunduran diri ini saya buat dengan kesadaran penuh. Atas perhatian para founder dan seluruh member FC saya ucapkan terima kasih.


Salam Flobamorata....
Christian Senda

Taman Bacaan Masyarakat, Konsep dan Tantangannya




 catatan dari festival taman bacaan masyarakat di kendari

Beberaapa waktu lalu saya berkesempatan hadir di festival taman bacaan masyarakat di kota kendari sulawesi tenggara. Saya diundang sebagai blogger yang sudah pernah menulis buku untuk sharing pengalaman dalam salah satu forum taman bacaan masyarakat di festival tersebut. Beruntung saya diberi sesi panel bersama dengan indra wijaya (penulis idol gagal dan beberapa buku ala raditya dika). Indra termasuk juga penulis yang bermula dari blog.
Pernah dengar festival taman bacaan masyarakat? Saya baru pertama kali tahu dan secara langsung hadir. Sangat ramai, mengingat festival ini diselenggarakan sekaligus dengan hari aksara internasional yang sama-sama diselenggarakn departemen pendidikan nasional. Namun di sisi lain, sebagaimana kita sudah tahu sama tahu, kalau event yg digelar pemerintah yang secara gamblang bisa kita lihat adalah kegiatan ini semacam proyek belaka.
Di kendari hadir perwakilan forum taman bacaan masyarakat (FTBM) dari seluruh provinsi di Indonesia, komunitas taman baca indie dan apapun gerakan sosial kemasyarakatan yang terkait dengan upaya pengembangan dunia literasi di indonesia. Di sana ada Gola Gong dan rumah dunianya dan beberapa taman baca yang memang sangat lekat dengan pemerintah. Syukurlah saya masih berkesempatan ketemu dengan komunitas lain yang sangat indie dan penuh idealis sudah merintis dan mengembangkan berbagai jenis kegiatan di perpus/taman baca mereka. Misalnya, daeng Anwar Jimpe Rahman dari makassar dengan Kampung Buku dan usaha penerbitan buku bernama ‘Ininawa’, bung Dave Arga dari Manokwari, pak Tri yang keren dengan kegiatan menulis dan menerbitkan buku secara indie bersama anak-anak didiknya di Semarang, bang Neni Muhidin (penyair) dan juga pegiat komunitas literasi, Nemu Buku dari Palu juga mas Faiz dari Radio Buku. Mereka luar biasa dan saya tertatik untuk belajar dari mereka semua.
Pada umumnya teman-teman di atas hadir membawa tawaran baru dalam sebuah usaha perintisan taman baca di lingkungan masyarakat. Taman baca tidak sesempit rak buku, katalog, buku dan ruang baca. Taman baca menjadi ruang yang lebih luas, terbuka dan dinamis. Di taman baca siapapun bisa hadir untuk berdiskusi, bikin workshop, nonton film, bikin kerajinan tangan, arisan buku, teater, musik, dan apapun kegiatan kreatif lainnya yang intinya mengedepankan isu literasi dan keinginan untuk terus memasyarakatkan kebudayaan membaca. Taman baca menjadi jantung aktivitas, dan isu literasi sebagai roh utama dalam setiap aktivitas. Seperti tema festival TBM kali ini: “merayakan literasi, membangun imajinasi.”
Budayawan Bali, Cok Sawitri dalam sebuah kesempatan diskusi bersama Firman Venayaksa dari Rumah Dunia, memaparkan beberapa idenya terkait topik ‘literasi sebagai gerakan budaya.’ Taman baca tidak sebatas mengurus buku! Sebuah taman baca harus hadir dan membedayakan masyarakat yang ada di sekitar. Dan hal tersebut bisa sangat tematis menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat. Firman memberi contoh, misalnya Komunitas Madu alias Maca Dunia. Taman bacaan masyarakat didirikan, dan pada sisi yang lain, madu sebagai komoditi perekonomian masyarakat menjadi sebuah keterikatan tersendiri dalam pergerakan taman bacaan tersebut.
Pada sisi yang lain, Cok mengingatkan untuk para aktivis taman baca untuk ikut dalam proses kelahiran kembali sebuah cerita rakyat (dongeng atau legenda). “Jika bisa dibuat buku atau dipentaskan setelah melalui proses riset di taman baca, maka cerita rakyat tersebut sudah terdokumentasi dengan baik. Dan kebudayaan lokal bisa terangkat lagi,” imbuh Cok. Kepada para peserta, Cok memberi solusi cerdas untuk mendorong anak-anak muda pegiat komunitas dan taman baca untuk mulai bergerak menyelamatkan dongeng dan legenda masa kecilnya di kampung. Menurut Cok, yang paling mungkin dan mudah dilakukan adalah menulis kembali kisah tersebut, yang mungkin dulunya dari bahasa lisan dialihkan menjadi bahasa tulisan. Jika kita ragu untuk menulis, maka bisa melakukan riset kecil-kecilan ke beberapa sumber untuk menguatkan cerita yang sedang kita tulis. Apresiasi terhadap kebudayaan lokal di atas menjadi penting untuk memperkuat identitas dan karakter masing-masing daerah. Pada kesempatan lain, mbak Sekar Chamdi (koordinator festival) memberi masukan untuk saya. “Kalian anak muda NTT harus jadi pionir dalam menulis kembali dongeng dan legenda yang hidup di kampung kalian. Jika semakin hari penurut bahasa adat kita makin sedikit maka usaha untuk menuliskan kembali adalah sebuah keniscayaan besar.” Tegas mbak Sekar. Ia kemudian mempertanyakan mengapa ketika ia ingin mencari literatur/tulisan tentang dongeng atau hikayat lokal NTT di internet kok informasinya terbatas? Kalian yang aktif di media sosial punya tanggungjawab untuk itu.
Pada sesi yang lain, mas Faiz dr Radio Buku dan salah satu penyair dari Kendari berbicara tentang kerja kearsipan dari karya-karya nenek moyang kita. Menurut Faiz, yang terpenting dalam kerja kearsipan adalah pendidikan identitas. Generasi muda harus dibawa kepada identitas kultural mereka dan mulai untuk membawa jejak masa lalu itu agar bisa diakses oleh publik. Dan kerja kearsipan pun harus sesuai zaman. Misalnya, berbicara jejak lukisan di gua Muna di Kendari, pekerja kearsipan bisa mengajak dan memakai metode fotografi, naskah drama, film, dll sebagai kreasi baru yang perlu dilestarikan tanpa meninggalkan keaslian dan kesakralannya. Menurut Faiz, jika kita mengetahui sebuah informasi sejarah dan kebudayaan maka perlu untuk mulai menafsir kembali, dan hal tersebut tidak sebatas menjadi pengetahuan tiap pribadi namun menjadi pengetahuan kolektif.
Mas Faiz (kaos merah) dr Radio Buku
Setelah mengikuti festival ini, pemahaman saya akan konsep taman bacaan masyarakat menjadi lebih terbuka. Ada proses kebudayaan yang panjang dan komplit yang bisa dilibatkan dalam kegiatan di taman baca. Taman baca kalau bisa tidak menjadi tempat untuk membaca namun harus lebih dari itu, bisa menjadi tempat orang belajar menulis, berdiskusi, menerbitkan buku bacaan baru dan seterusnya. Ini harusnya menjadi tantangan bagi teman-teman di Forum SoE Peduli, di Namu Angu Sumba, Bintang United Ende, Khamu Rote Ndao, LG Corner Ruteng, Prailiu dan sekian banyak taman baca yang ada di NTT. Saya salut sama pak Tri, yang lewat taman baca, ia rangsang anak-anak untuk menulis cerpen, puisi dan bikin komik. Diterbitkan secara sederhana dan dijual untuk kalangan mereka sendiri. Luar biasa.
Teman-teman di NTT sudah banyak yang melakukan konsep-konsep di atas, saya yakini itu. Terus berjejaring dan saling dukung, saya yakin dengan gerakan ini semoga memberi sumbangsih penting bagi perkembangan NTT ke depannya. Amiiiin.....
(Christian Senda. Blogger, pegiat sastra dan konselor pendidikan. Menulis buku Kanuku Leon dan Cerah Hati. Menetap di Kupang.)

Minggu, 28 September 2014

Sehari Bersama Siswa Bikin Video Klip 'Happy'


Senang rasanya hari ini menyempatkan 1 sesi konseling kelompok bersama murid-murid saya: Nanda Oematan, Laura Kennenbudi, Dinto Menek, Thobias Helly, Edo Neloe, Carol Bangu, Echa, Ceri Lianto, Thara Siwomole, Juan, Graha, Pearly Feonale, Fritz Kleden, Anggie, dan Ivanna. Saya memang sedang berusaha memberi persepsi baru bagi mereka soal penggunaan teknologi informasi/media sosial. Kehidupan sehari-hari mereka memang lekat dengan internet.
bersama Laura Kennenbudi dan Dinto (Ketua Osis)
Melihat kasus penyalahgunaan media sosial yang masih terjadi, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan teknik konseling yang sedikit berbeda. Tidak harus di ruangan tertutup, dengan sofa dan pembicaraan serius. Saya memasukannya dalam kegiatan-kegiatan kreatif kelompok. Tahun 2012 saya memakai metode membuat video/film pendek. Siswa diajak berdiskusi tentang sebuah masalah yang sedang tren dan terjadi di sekitar kita, misalnya maki-maki di facebook, bully, dll. Sharing pengalaman dan diskusi terjadi dengan sangat cair. Sampai pada problem solving, kami menyimpulkannya dalam sebuah rencana, sebuah skenario, wah bagusnya bikin kegiatan apa nih. Bikin aksi damai dr kantin sekolah ke kantin Unika dengan poster-poster ajakan untuk berinternet secara sehat sudah pernah kami lakukan. Rangkaian kegiatan itu bahkan kami buat dalam sebuah dokumenter. Lantas film pendek itu diputar dalam sesi konseling kelompok berikutnya di kelas. Ketika tahun 2012, isu bully ada di sekolah saya, saya mengajak beberapa siswa kelas 9 (Ivanna Fulbertus, Ria Ludoni dkk) untuk bikin sebuah aksi. Muncullah ide dari kitab Amsal 17:17. Saat itu bulan kitab suci nasional dan kami menemukan perikop yang indah itu. tentang sebuah ungkapan cinta dan persaudaraan yang tulus satu sama lain sebagai umat manusia. Saya lega. Mereka dengan inisiatifnya mencari kaliamat-kalimat positif, membuat semacam poster berantai dan itu disebarkan ke setiap kelas dari satu siswa ke siswa lain, dari satu guru ke guru lain bahkan ke kepala sekolah hingga akhirnya terekamlah video Proverbs 17:17. Memvideokan sebuah topik konseling kelompok pun berlanjut setahun kemudian dengan film pendek Sang Pengelana. Masih dengan isu persahabatan dan persaudaraan tulus. Klise memang sebab sejatinya itulah problem anak-anak jaman sekarang. 
Hari ini kami berkumpul di sekolah merekam beberapa kegiatan dilanjutkan ke hotel la hasienda (miliknya mantan murid saya, yang pernah bergabung dalam kelompok jurnalistik di sekolah). Energi murid-murid saya terlalu besar dan mereka sudah tak bisa dilepaskan dari gadget! Sebagai guru saya harus up to date juga, tak boleh ketinggalan informasi dari mereka. Guru sekarang pun harus lebih fleksibel. Saya dengan gaya dan cara saya, bahkan merasa bisa mengetahui secara detail persoalan mereka hanya karena sering berkegiatan bersama mereka mengurus mading, website sekolah, bikin film pendek bareng, atau sekedar jalan-jalan ke mall atau makan bersama. 
Ah, tak ada habisnya jika berbicara tentang mereka. Sekali lagi, mereka ini kreatif! Energi mereka terlalu besar, sayang jika dihabiskan untuk hal-hal negatif. Mereka hanya butuh pengayom, pendamping, kakak sekaligus guru mereka yang bisa mengingatkan, memberi tahu sekaligus bisa mengerti kondisi mereka. Itu saja.

bikin video klip happy by pharrel william untuk ultah sekolah

narsis sudah pasti.

Menunggu teman lain, diskusi ringan hingga berat bisa terjadi dengan santai

Jumat, 26 September 2014

Surat Terbuka Aksi #StopBajualOrangNTT



Salam sejahtera, kawan-kawan muda NTT....
Belakangan ini media lokal dan nasional banyak menguak kasus pedagangan manusia (human trafficking) asal NTT. Kasus ini sudah terlalu menggurita dan menjadi sebuah sindikat besar sebab mengaitkan banyak pihak sehingga cenderung sulit untuk dibongkar bahkan dihentikan. Hingga detik ini masih saja kita saksikan dan dengar sendiri, masih banyak orang asal NTT yang diperjualbelikan, kemudian dipekerjakan dengan tidak manusiawi, mendapat siksaan psikis dan fisik hingga akhirnya ada yang meninggal dunia atau pulang namun membawa luka yang parah. Jika ini terjadi dan terus terjadi di depan mata kita, lantas apa yang bisa kita lakukan? Kami percaya, sekecil apapun niat dan tindakan kita untuk perubahan terlebih untuk sebuah nilai kemanusiaan, jika disuarakan bersama-sama pasti akan berdampak positif bagi kemanusiaan yang sedang kita bela. 

designed by @jamduapagi
Beberapa tahun belakangan ini, kawan-kawan muda NTT yang tergabung dalam gerakan internasional, Playing For Change – Kupang, telah melakukan beberapa rangkaian konser musik dan multimedia dengan tujuan menginspirasi dan saling menghubungkan manusia di bumi ini dalam satu suara: perdamaian dunia lewat musik. PFC- Kupang tahun ini hadir lagi dengan misi menolak dengan tegas human trafficking di NTT; Stop Bajual Orang NTT!
Terkait misi dan aksi #StopBajualOrangNTT di atas, kami ajak kawan-kawan sekalian yang aktif menggunakan internet sebagai media untuk bersosialisasi agar terlibat juga dalam kampanye, di manapun kita berada. Kampanye #StopBajualOrangNTT adalah tugas kita semua, dimulai dari yang paling sederhana: ikut menyuarakan di media sosial hingga ke lingkup keluarga dan tetangga. Dan harapannya bahwa satu tweet kita akan mendorong orang lain untuk ikutan me-retweet.
Jika anda setuju, kami akan kirim beberapa link berita, artikel, poster, meme, dan bahan kampanye lainnya ke alamat email anda yang harus anda sebarkan di akun media sosial masing-masing (facebook, twitter, blog, path, dll) pada hari Sabtu, 27 September 2014 dan Minggu 28 September 2014. Silahkan anda memposting dimulai jam 09.00 - 21.00 WITA (disesuaikan dengan waktu konser PFC di Pantai Lasiana Kupang). Bahan kampanye yang kami bagikan ini mungkin terbatas, dan tidak menutup kemungkinan bagi anda untuk menambah bahan kampanye (opini, foto, poster atau meme) sejauh tidak melenceng dari misi utama kita: #StopBajualOrangNTT.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan mention @dickysenda / @MUDAers_NTT/ @arysthaa / @jamduapagi / @rambukarera / @thomasbenmetan dan @sandrafrans, atau  SMS/Whatsapp ke 081338037075 (dickysenda). Atau jika tidak sempat memposting, bisa meretweet atau membagi link tulisan anda di blog pribadi dengan mention akun-akun di atas. Terima kasih untuk perhatian dan kerjasamanya. Salam. 

“Kami Yang Peduli Pada Flobamora...”

Senin, 25 Agustus 2014

Raja Boti: Apakah Jokowi Itu Orang Baik?



Pujilah Tuhan, Dicky! KarenaNya lu bisa pergi ke Boti.
Yeah, 23 Agustus 2014 saya berkesempatan mengunjungi suku Boti, salah satu bagian dari suku Dawan di TTS yang masih mempertahankan tradisi turun temurun dalam hidup keseharian mereka. Boti sudah mendunia, dan saya agak terlambat jika menilik kembali bahwa saya lahir dan besar di TTS. Eit, tapi coba Anda survey sudah berapa banyak orang TTS yang sudah pernah ke Boti? Masih sedikiiiit. Saya yakini itu. Paling tidak berdasarkan buku tamu yang sempat saya intip ketika tiba di Istana Raja Boti, Nama Benu. Kebanyakan tamu memang dari luar NTT. Hal yang sama mungkin berlaku, seperti ini: kamu anak NTT/Flobamora, sudah keliling semua kabupaten di Flobamora? Hehe apapun itu jelas alasannya akan banyak, bukan berarti tak cinta tanah sendiri. Kalau saya melihat, barangkali karena tidak banyak orang NTT yang memasukan liburan dalam perencanaan hidup mereka. (Begitukah? Hahaha ini asumni subyektif saya saja! Camkan...). Kalau kata om Oddy Messakh, salah satu pelaku bisnis pariwisata di kota Kupang, “belum ada alokasi dana secara khusus di masyarakat kita untuk membelanjakan sesuatu yang terkait dengan kesenangan (liburan atau berswisata)”. 

Kembali ke Boti. 

Saya beruntung diajak kak Audrey Jiwajenie (saudarinya komikus Ernest Prakasa), Nandita dan Nike Frans, plus om sopir yang membawa kami ke sana, Om Salim yang super komunikatif itu. (FYI, Om Salim itu sopir travel sekalugus tour guide lokal paling komunikatif yang pernah saya temui. Beliau biasa nongkrong di Hotel On The Rock).
Kami berangkat dari Kupang jam 4.30 dini hari dan mampir sarapan di Soe jam 06.30. Medan menuju Boti terbilang sulit tapi ada untungnya di musim panas seperti sekarang ini kita bisa terhindar dari jalanan licin, berlumpur dan longsor. Kami tiba di Boti jam 9 pagi dan ternyata sudah disambut dua orang Boti dalam di gerbang kampung. Dua sosok yang akhirnya kami ketahui sebagai adik dari almarhum Raja Nune Benu (Raja Boti sebelumnya) dan ipar dari Raja Nama Benu (Raja Boti kini). Mereka datang menyambut seperti sudah tahu akan ada tamu yang datang saat itu juga. Ketika mobil kami parkir, eh dari dalam kampung sudah muncul Bapa Raja, Nama Benu. Luar biasa. Agak ajaib memang kejadian itu. Siapapun yang pernah datang ke Boti pasti mengalami keajaiban-keajaiban kecil. Sebenarnya bukan di Boti saja. Waktu saya bertemu dengan Bapa Mateos Anin, seorang tokoh adat paling kharismatik di Mollo, beliau pun berlaku seperti sudah tahu akan ada tamu yang datang. Kala itu Bapa Anin bisik kepada saya, “biasanya akan ada bisikan di telingan saya bahwa akan ada tamu yang datang.” Hah? Dibisiki? Jika demikian lupakan kebiasaanmu berpikir logis. Bertemu tokoh-tokoh adat seperti mereka, banyak hal bisa saja terjadi melampaui batas nalar kita.
Kesan pertama saya memasuki kampung Boti;
  1. Keramahan penguhinya. Kami disambut layaknya keluarga yang lama tak bersua. Kami diajak bicara tidak sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara lama yang telah kembali. Untuk dicatat, mereka itu komunitas yang kita sebut sebagai ‘suku tertinggal’, ‘suku tak beragama, suku kafir’, bla bla bla... tapi lihat perilakunya. Mereka adalah manusia sederhana, manusia tulus, manusia baik, manusia yang benar-benar manusia!
  2. Bersih dan hijau. Ketika masuk ke kampung Boti, kak Nandita sontak berkomentar, nuansa di sini kayak di resort ya? Saya sepakat. Rumah-rumah tertata rapi, pepohonan rimbun, tanah yang bebas dari sampah plastik, tangga-tangga yang tersusun dari bebatuan rapi. Luar biasa. Dan satu lagi, suasana di sini tenang bahkan super tenang. Apa saya lebay? Sebagai penulis saya suka bekerja dengan lingkungan demikian, lagian saya sudah merasa sensitif dengan keadaan demikian. Pengalaman saya, setiap kali bersinggungan dengan lingkungan yang demikian, inspirasi dan kenyamanan menulis sudah pasti melimpah ruah. Hehehe.
  3. Suguhan serba organik (meski tidak semua). Saya yakin demikian. Ketika tiba kami langsung disuguhi sirih pinang yang diambil dari pekarangan. Sepuluh menit kemudian kami disuguhi kopi dan teh plus kripik pisang yang digoreng dengan minyak kelapa. Setelah puas berkeliling kami ditawari makan siang lagi, ayam goreng, telur ayam kampung rebus, jagung bose, sayur sawi hijau, dan lainnya. Nikmat yang sederhana sebab aroma minyak kelapa kuat sekali dan lidah saya cukup mampu membedakan mana makanan dengan vetsin/masako dan mana yang cuma dengan garam. Tentang makanan tambahan seperti tepung terigu, gula, beras, dll mereka mendapatkannya dari pasar tradisional mingguan di kampung Boti luar. Bahan pangan lainnya diambil dari kebun dan kandang sendiri.
  4. Hidup selaras dengan alam. Sangat mudah bagi saya untuk menemukan jawaban dari pernyataan saya kali ini. di sudut dapur saya menemukan dua batang bambu bekas pakai yang ujungnya terlilit kapas bercampur biji damar yang sudah dihaluskan. Itulah lampu penerang malam mereka. Masih disudut dapur yang sama, saya temukan dua lembar payung tradisional dari lembaran daun lontar atau gewang yang dikeringkan dan dijadikan P A Y U N G! J terassering dan tangga yang membatasi tanah datar satu dengan lainnya dibatasi oleh susunan batu-batu ceper yang sangat rapi. Sonde perlu pakai semen lai. Sebagian besar atap rumah memakai ilalang dan daun gewang, sebagian kecil lainnya sudah beratap dinding. Berbicara lantai, di rumah tempat menjual cinderamata khas Boti bisa kita lihat bagaimana lantai rumah yang berbahan tanah saja tapi entah bagaimana jadi padat, licin, basah dan dingiiiin. Kok bisa? Silahkan ke Boti dan buktikan sendiri hehehe. Lopo-lopo dibangun rapi dan open air gitu. Sejuk oi... lebih dari itu, kapas dan aneka tanaman yang akan digunakan untuk pewarna benang alami tumbuh subur di sekeliling rumah, dari Kunyit, tarum, hingga pohon mengkudu. Ada banyak lagi bukti jika mereka memang hidup selaras dengan alam.

Kesan selanjutnya banyak dan tidak bisa saya tulis semuanya. Mungkin akan terwakili dengan semua foto yang akan saya posting di bawah ini.

Ada catatan kritis saya tentang suku ini. saya punya sebuah pembanding sederhana dengan suku Baduy di Banten yang pernah saya kunjungi setahun lalu. Mereka jelas berbeda dan punya masalah sendiri-sendiri tapi izinkanlah saya mengungkapkannya.

“Boti rasanya sudah tak semurni dulu. Saya tak pernah kesana sebelumnya tapi saya yakin kondisi mereka sebelumnya jauh lebih baik. Jika melihat mereka sekarang makin tersentuh unsur-unsur modernitas, saya rasa kok mereka seperti mengalami kemunduran bukan kemajuan. Oke, mereka punya sistem kepercayaan sendiri, punya aturan hukum adat sendiri, punya struktur dan tatanan sosialnya. Mereka tidak telanjang melainkan sudah punya kemampuan mengolah kapas, menenun dan menjadikannya pakaian yang membungkus seluruh tubuh dengan indah dan elegan. Tanpa aturan hukum beragama dan bernegara seperti warga luar Boti, toh mereka sudah terbukti eksis dengan aturan-aturan yang ada. Tiada tindakan kriminal di sana, tak ada pertengkaran karena beda agama, tak ada teroris, tak ada korupsi, tak ada. Artinya sebelum bangsa ini merdeka pun saya yakin komunitas mereka sudah eksis dan teratur laksana sebuah kerajaan tumbuh. Tapi kok jadi merasa gimanaaa gitu ketika melihat simbol-simbol modernitas sudah masuk ke sana. Baju kaos, semen, keramik, seng, genset, kabel-kabel listrik, hingga ke simbol-simbol agama dan pemerintahan (tanda survey kependudukan dan KPU, kursi berukir salib dan jam dinding dengan wajah Yesus dan Maria. Kayaknya semua itu dibawa ke dalam oleh entah siapa tamunya, entah apa maksudnya. Tetapi ketika menerima simbol modernitas atau perilaku lain di luar kebiasaan yang sudah mengakar di kampung Boti, saya rasa kok mereka menjadi mundur, menjadi tak unik, menjadi biasa saja. Ah, entah bagaimana saya mendeskripsikan lebih jauh dan jelas kekhawatiran ini. saya percaya, tanpa menjadi modern seperti kita yang lain, mereka toh sudah luar biasa kok. Karena saya melihat sendiri bagaimana suku Baduy Dalam menjaga kemurnian tradisinya dari pengaruh luar.”
Apapun itu saya jatuh cinta sama kampung ini. Kita manusia-manusia modern adakalanya harus kembali ke Boti, untuk belajar segala kearifan yang mereka miliki.

            NB: Ketika saya berkesempatan mengobrol dengan raja Boti, Nama Benu dengan bahasa Dawan saya yang serba terbatas, beliau bertanya, “Siapa yang menang di MK?”. Saya yang setengah kaget setengah takjub menjawab, bahwa yang menang Jokowi. Beliau jawab, oh yang nomor 2 itu. Lalu ia melanjutkan pertanyaan, ‘apakah dia orang baik?”. Saya jawab saja, iya beliau baik. Hingga detik ini masih tergiang-ngiang percakapan singkat kami itu. 


Kupang, Agustus 2014
selamat datang di Boti
secara tiba-tiba kami sudah disambut tuan rumah
oleh-oleh yang bisa kita beli di Boti

disuguhi makan siang ayam goreng dan telur rebus plus jagung bose

bapak ini masih presiden di kampung boti! :D

di rumah ini segala jenis kerajinan tangan dijual



segala buah ini dibiarkan begitu saja tanpa ada yg curi

juga kepala dan tebu ini


buku tamu

kapas ditumbuk bersama buah damar utk penerangan

tempat ayam bertelur

Skubi anjing Boti sudah lengket aja sama kak Audrey

rumah yang dikeramatkan, milik alm raja nune benu dan isteri

anak tertua alm nune benu yg memilih keluar dr Boti. anaknya ini diambil kembali sbg calon raja berikutnya

atap dari ilalang yang dianyam dengan sangat rapi

sendok makan dari tempurung

pohon kapas di mana-mana


gelang perak putih dan kuning yg dikenakan anak bungsu raja nune benu

putri raja nune benu bersama nike frans

payung dari daun gewang/lontar

saudara dari almarhum nune benu

beliau ini senang difoto lho

bergaya bersama raja nama beny yg bersahaja ini

selfie diantara mama-mama penenun

onme-onme nunu, gimana-gimana POHON BERINGIN!

keponakan bapa Raja yg mengantar kami hingga pintu gerbang