KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Selasa, 21 April 2015

Memo Pagi Ini


Biarkan yang terlihat hidup, menari dan berbicara padaku: 
pasar muram sayapsayap patah, insang ikan kembung, 
dapur kotor, perut lapar
 televisi menyalak
semua yang tergesa-gesa pagi ini untukmu
 untuk email yang harus segera dikirim sebelum tanggal 20 berakhir

‪#‎catatanharianleon‬

Senin, 20 April 2015

Dia


Dia tak pernah mengajariku cara berenang. Dia berkali-kali mengajakku pergi berlayar dengan menumpang kapal yang diciptakan anak-anak revolusi. Dia juga tak mengajari kakak-kakakku berenang. Dia punya mimpi besar untuk ketujuh malaikat yang dia bentuk dari hembusan nafasnyā yang paling sederhana. Besok dia akan menerbangkan keempat cucunya untuk belajar mencermati ritual pati ka. Belajar menyembah kisah yang sublim di tiris rumah purba Mbengu. Dia akan menjadi pemimpin bagi kakikaki kecil kempat cucunya; langkah harus teratur. Dia memasang badan agar tak terantuk, tak celaka. Dia dengan kepala tujuhnya merasa punya dua tugas mahabesar: meniupkan dongeng ke bawah sadar anak-anaknya, dan besok kepada cucu-cucunya. Barangkali dia akan menghidupkan kembali ular di pancuran yang telah melahirkan padi dan jagung bagi saudara-saudaranya di kampung. Ular yang kini hidup dalam lumbung kepalanya. 


sumber gambar: www.seasite.niu.edu

Minggu, 19 April 2015

LDR



Lalu wajahmu akan senyap dalam ingatan

Lelap dalam satu dua kali pelukan

Entah kapan


2015



Kamis, 16 April 2015

Linimasa



 
Tahun 1997. Usia saya baru 11 tahun. Sebulan setelah kematian Kakek, saya bangun tidur dan mendapati diri saya terjebak dalam sebuah pertanyaan, kenapa pohon beringin menjadi penting. Kenapa ada beringin di halaman Gereja, halaman rumah raja, di depan kantor camat, di gerbang menuju lapangan kampung atau di tengah pekuburan umum. Anggap saja ini refleksi sederhana masa kanak saya yang selalu beranggapan tak ada satupun  dalam hidup yang tak bermakna dan sia-sia. Saya adalah anak kampung yang besar di sebuah kecamatan di wilayah Mollo yang keseringan berkelambu kabut dan mendapati itu seperti sebuah lembaran buku misteri yang harus saya cari tahu sendiri.
Di depan Gereja dekat rumah saya, ada sebatang pohon beringin bertangan sembilan. Di bawah kakinya ditakhtakan sebuah patung Maria. Maria Immaculata. Menurut Ayah, persis di depan beringin itu dulunya berdiri Gereja Katolik perdana di tanah Mollo. Di sampingnya dibangun sekolah dasar Katolik, juga yang pertama di Mollo. Seorang Klerek yang baru saja pulang merantau dari Maumere membawa dan menyatakan kabar baik dariNya kepada Mollo.
Pada sembilan tangannya, saya dan teman-teman terbiasa bergelantungan sambil berkelakar ria. Diam-diam saya merasakan adanya relasi misterius antara saya dengan pohon beringin yang semakin hari semakin kelihatan rupanya, sesosok pria sekaligus wanita renta bersorot mata kuning langit senja. Pancaran kebijaksanaan.
Saya anggap relasi itu anugerah atas pertanyaan yang datangnya seperti pencuri.  Sebab dengan demikian saya mungkin bisa mendapat jawaban yang paling berbeda yang sudah saya dapatkan dari Ayah saya. Bahkan ini terjadi karena saya bukanlah tipe orang yang mudah percaya.
Ia bahkan telah menjadi sahabat karib saya. Ia ada di mata saya, berbagi kisah dalam buku harian saya. Ia bahkan kerap berganti rupa dalam sketsa di buku gambar saya. Ia hadir melampaui  sekat-sekat ruang dan waktu. Kepada seorang sahabat pena saya di Jayapura, saya membagi kisah misterius ini. Yustin Menanti namanya.
Kepada Yustin saya menulis,
“Kawan, kau mungkin tidak percaya jika saya bisa berbicara dengan pohon beringin. Ia datang seperti pencuri.”
Pada suatu hari yang penuh hujan, saya pulang sekolah sendirian. Berbekal daun pisang saya menembus kebun kopi yang daunnya riuh diterpa hujan. Masa kanak saya tak mengenal payung apalagi jas hujan. Bergerombol di kala hujan dengan daun pisang atau daun keladi memberikan keseruan yang maha dahsyat. (Beberapa teman saya menggunakan daun lontar yang telah dikeringkan sebagai pengganti payung).
Ketika melewat beringin bertangan sembilan, saya mendengar panggilannya, katanya, “Mari sini, berteduh dulu...,” Tubuhnya basah dan murung. Tanpa ba-bi-bu saya langsung menuju ke bawah kakinya, tempat Maria berdiri dulu (patungnya telah dipindahkan ke celah jantung bikit Napi) yang kering tak tersentuh lidah-lidah hujan. Kami mengobrol lama dan saya menangkap wajah Ayah membayangi wajah pria sekaligus wanita renta.
Sebulan kemudian surat balasan dari Yustin tiba di rumah. Sudah saya duga bahwa ia menulis tertawaanya dalam sederet ‘hahahahaha’ panjang. Tapi sejurus kemudian, ia menyampaikan perspektifnya yang notabene tak jauh beda dengan apa yang sedang saya alami ini. Ia punya pertanyaan yang sama dengan yang saya miliki.
Hidup ini seumpama rollercoaster yang bergerak naik turun, menukik dan berbelok pada jalurnya sendiri. Seperti darah dalam alirannya akan dipompa jantung ke semua tempat yang harus ditujunya. Pada jalur atau pun alirannya, segala kisah dinyatakan dan diimpikan. Diberi atau diambil kembali. Pada selanya, kisah-kisah misterius dicucupkan Ayah-Ibumu. Dan saya melihat sendiri bahwa perjalanan rollercoaster saya menjadi bermakna karena berlapis-lapis kisah misterius pemberian Ayah-Ibu saya. Semua perjalanan punya tujuan masing-masing. Seperti pada saat ketika secara tiba-tiba rollercoaster itu berhenti.
Ketika saya mengalami mimpi basah pertama, wajah yang saya akrabi itu perlahan pudar dari mata, buku gambar dan catatan harian saya. Ini mungkin karena saya yang sedang dijebak fase pubertas itu mulai tergila-gila pada gadis keturunan Tionghoa, cinta pertama saya, teman bernyanyi Cinci Boncu di masa kanak saya.

Cinci boncu
Boncu laka boncu
Tanam sayur, pancing kea
Malu-malu udang de’

Ah saya malu.
Ia secara sadar dan samar mulai membiarkan ruang baru tercipta dalam jiwa saya. Dalam nyata dan mimpi saya, gadis dari Avilla itu. Benar saja, saya lupa dan melupakannya mengendap dalam ruang bawah tanah rumah jiwa saya.
Tahun 2011, usia saya sudah 25 tahun. Dalam sebuah toko buku megah di kota Kupang, secara tak sengaja, saya menemukan sesosok yang pernah saya akrabi dulu: teman berbagi mimpi. Karena misteri yang ada hanya mampu dipecahkan alam mimpi, bukan di alam nyata. Namanya bahkan baru saya ketahui. Kanuku Leon. Sang raja tua renta dengan sorot mata ‘molfa mate―yang amat menguning,’ pancaran kebijaksanaan dan keadilan hidup. Sungguh, ini pertemuan kedua yang membawa saya pada proses pemaknaan yang lebih dalam.
Ketika kembali ke rumah, saya mendapati ada nafas dan aroma tubuh ‘Kanuku  Leon’ dalam file-file puisi dan cerpen yang pernah saya tulis. Bahkan di masa-masa krisis cinta saya ketika ditinggalkan si gadis dari Avilla, saya malah begitu produktif menulis. Adakah ia sudah menyatu dalam nafas dan aroma tubuh saya? Apakah hal yang sama juga dialami warga Polinesia dan Melanesia yang menempatkan pohon beringin dan mimpi pada tempat yang spesial?


Buku ini saya persembahkan kepada Bapatua dan Mamatua. Merekalah yang sudah ‘meracuni’ jiwa saya dengan kisah-kisah gemilang tanah Mollo di masa silam. Di meja makan kami terbiasa mendongeng, bertiga atau berenam dengan kakak-kakak saya. Sudah saya bilang, pada selanya, kisah-kisah misterius akan dicucupkan Ayah-Ibumu ke mulut dan pengetahuanmu.  Merekalah ‘biang kerok’ suburnya pohon imajinasi saya.
Kepada tanah Mollo, sumber dari segala sumber kebijaksanaan hidup. Kepada sebaris gunung―Mollo, Naususu, Fatumnasi hingga Mutis yang kerap mempertontonkan segenap misteri dan keangkuhannya (saya baca itu dari senja kuning di ketinggian Bolaplelo, kilometer duabelas menuju Kapan). Merekalah struktur dari semua mimpi-mimpi saya selama ini.
Kepada Mama Aleta Baun, pejuang adat dan lingkungan asal Mollo yang menjadi inspirasi menulis saya. Kepada para atoni meto Mollo yang sejak pulau Timor ada, telah dipercayakan untuk menjaga dan memelihara hutan dan gunung. Sebab dari sanalah susu, madu dan air dialirkan ke sebagian besar pulau Timor.
Terima kasih kepada para donatur yang turut mendukung crowd-funding #KanukuLeon: Jonatan Lassa, Elcid Li, Chandra Dethan, Okke Sepatu Merah, Danny Wetangterah, dan Yanuar Awaludin. Syukurlah lewat Kanuku Leon, kita bisa membeli banyak lagi buku-buku sastra karya penulis NTT untuk didonasikan ke perpustakaan sekolah dan taman-taman baca yang ada di NTT. Misi saya, agar semakin banyak karya anak NTT yang dikenal dan diapresiasi di kampung sendiri.
Kepada saudara sehati-sejiwa, Mario F Lawi, Sandra Olivia Frans, Prim Nakfatu, Pion Ratulolly, Djho Izmail, Tuteh Pharmantara, Amanche Franck Oe Ninu, Arky Manek, Fransiska Eka, Patris Allegro, Abdul M Djou, Maria Pankratia Mete Seda, Doddy Nai Botha, Voltaire Talo, Josua Natanael Sriadi, Umbu Nababan, Fauwzya Dean, Yustina Liarian Eto dan Gerald Louis Fori. Dua manusia keren, Arystha Pello dan Rara Watupelit. Terima kasih. Komunitas Sastra Dusun Flobamora, rumah sastra saya. Komunitas Blogger NTT dan MudaersNTT, rumah menulis saya. Forum Soe Peduli, kumpulannya orang muda TTS yang punya mimpi besar untuk kabupatennya agar lebih baik. Siswa-siswi saya di SMPK St. Theresia Kupang, rumah tempat saya belajar sabar dan kreativitas. Terima kasih sudah membuat saya awet muda, ha-ha-ha.  
Inilah rollercoaster saya. Linimasa saya. Mari bermimpi.

Christian Dicky Senda

Senin, 13 April 2015

Gugur Sepe Usapi Sonbai





“Beta liat Maria datang kasih bangun beta. Dia bilang, bangun sudah Joseph, Isa ada tunggu lu di kapela. Beta bangun terus pi kapela. Di sana beta liat dong pung pakaian bercahaya, dan beta percaya, akhirnya beta sembuh.”

“Diam gila! Lu mati sa,” teriak sebagian besar umat.

“Dia bersaksi palsu, Romo!”

ilustrasi Rara Watupelit dan Ayu Pello


***

Kapela St. Theresia dari Avilla Usapi Sonbai.

Adven tiba, pohon sepe berbunga indah dan pemuda seperempat abad itu nampak sedang galau. Misa mingguan baru saja usai. Pastor tamu yang biasanya datang melayani telah kembali ke Sikumana. Umat jauh lebih gegas untuk pulang ke rumah masing-masing meninggalkan tembok kokoh kapela berwarna putih yang kini dijaga bunga segar sepe dan wajah sendu sang koster. Kontras.

Matahari nampaknya masih terlalu garang untuk Desember kali ini. Lidah-lidahnya bercahaya tajam menembus duabelas kaca patri di atas pintu sisi depan kapela dan belakang altar. Rupa Roh Kudus yang terpatri tinggi kini bergerak menukik ke arah lantai setelah tubunya ditembusi spektrum matahari yang bergerak disilih awan gemawan. Begitu juga wajah kudus Maria dan Kristus Putra Terkasihnya. Hati mereka nampak lebih merah dengan desir nadi yang juga digerakkan matahari. Kontras.

Di depan sana, sinar yang yang terpancar dari kaca-kaca patri bergerak lebih harmonis dan cenderung lamban. Tiada lidah matahari yang terlalu angkuh untuk menjilat sisi Selatan di mana pintu gerbang kapela berada. Namun dalam kesamaran cahaya, kaca-kaca itu justru sedang bercerita. Menyentuh lengan satu sama lain dalam kesunyian yang dalam, berbagi kisah tentang penciptaan mahamulia.

Ulah kaca-kaca patri itu bahkan mulai menarik perhatian pria muda seperempat abad yang tertelut galau di pojok bangku panjang coklat. Dengan peluh dan air mata yang merembes di wajah, ia mungkin sedang mengadu pada Tuhan. Ataukah novena sedang ia daraskan secara taat. Ditatapnya nanar tahta tabernakel coklat berbentuk ume kbubu, seolah sedang menunggu sebuah jawaban yang akan keluar dari rumah tabernakel itu.

****

Dua tahun sudah Maria meninggalkanku tanpa pamit dan restuku. Meninggalkan Usapi Sonbai permai, aku dan segala kisah manis kami. Maria diam-diam pergi ke Malaysia menjadi TKW.

 “Lu harus jemput lu pung mimpi, Maria!” sebuah bujukan pamungkas keluar dari mulut Omnya, sang perekrut TKI (ilegal!).

Lanjutnya berapi-api, “Lu pung mimpi ada di Malaysia. Bukan di Usapi Sonbai sini. Apalai deng itu koster yang dia pung masa depan sonde jelas. Lu mau makan ta’i deng itu anak yatim piatu, ko?!”

Terlalu banyak contoh sukses para TKI di kampung ini yang membuat perkataan Omnya terlalu di atas angin. Meski sebenarnya tak jarang juga yang pulang dengan berbagai kisah pilu, bahkan pulang sebagai jenazah penuh luka memar! Ah, mungkin saja orang Timor yang terlalu silau dengan harta benda yang dibawa pulang para TKI atau memang karena mereka terlalu berani untuk mengadu nasib dengan nyawa yang ditukar dengan ilegalitas.

Malaysia memang memberikan banyak silau bagi Maria (dan orang-orang Usapi Sonbai), tapi tidak dengan cintaku, statusku sebagai koster dan petani sederhana.

“Lu liat Joseph to?! Berdoa tiap hari, urus Tuhan pung rumah dan hidup melarat begitu saja, mau apa lai?!”

Kata-kata pedas itu toh akhirnya sampai juga ke telingaku, meski tak ada gunanya. Maria sudah bahagia di Malaysia.

Ia mungkin juga sudah lupa dengan kebiasaan kami membersihkan kapela bersama dan berkebun. Dan ketika masa adven tiba, pohon-pohon sepe di samping kapela mulai berbunga, kami bisa menghabiskan banyak waktu duduk berdua di bawah pohon sepe.

Aku ingat momen pertemuan terakhir kami lima tahun silam. Di bawah pohon sepe yang sama, aku mengutarakan niatku untuk menikahinya. Aku bercerita, bahwa pastor Agustinus berniat meminjamkan modal usaha bagiku. Sudah kubayangkan usaha peternakan babi dan kios kelontong kecil berada di dalam kepalaku. Ia mendengar dengan mata yang berkaca-kaca. Sama sekali tak kulihat ada setitik pun dusta di bola matanya. Tapi mungkinkah hasutan pamannya jauh lebih mujarab? Atau ia hanya pergi karena dipaksa keluarganya? Waktu bergulir begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin, tetapi efeknya terasa berkepanjangan dan membatu. Berat rasanya.

Lima kali sudah sepe-sepe ini berbunga dan tak pernah ada kabar berita darinya.

Secara samar aku merasa Tuhan tak adil padaku.

***

Empat minggu masa Adven lewat sudah. Hari Natal tiba. Umat bergegas ke kapela dengan pakaian terbaik mereka. Anak-anak bahagia karena kantong kemeja dan rok penuh gula-gula dengan kembang api bertengger di tangan. Binar mata akan naik berkali-kali lipat ketika misa usai, semua pintu rumah tangga terbuka bagi siapapun. Istaroop dan kukis kering kiloan bakal laris manis di meja tamu. Natal milik semua yang mencintai sukacita. Tapi untuk tahun ini, kebahagiaan itu tak berlaku bagi Joseph.

Pada saat Natal atau Paskah, seorang koster sepertinya akan bekerja ekstra. Dan biasanya ia melakukan semua hal dengan senyum lebar. Tapi tidak untuk tahun ini, tahun kedua sepe berbunga tanpa ada Maria di sisinya.

Pagi-pagi, ia bangun dalam keadaan gelisah. Sebuah mimpi buruk baru saja terjadi, pikirnya. Tapi kemudian pikirannya buntu. Mengendap bersama keringat di bantal. Tak ada bekas cerita yang terserak di memorinya. Ia menebak-nebak dalam gelisah.

Kemudian ia sarapan diiringi gelisah, ke hutan pun bersama gelisah. Ia akan mengambil cemara hutan, sekarung rumput dan tanaman menjalar yang akan dipakai sebagai dekorasi kandang Natal kapela kali ini.

Hari ini, menjelang misa malam Natal, ia lalui dengan keadaan gelisah yang makin akut. Hingga misa usai, Joseph hanyalah robot berwajah murung yang sengaja diatur untuk hilir-mudik di ruang sakristi mungil seperti setrika rusak.

Baru saja pastor Agustinus memberikan berkat penutupnya, hapenya berdering tanda SMS masuk. Sontak bunyi itu merobohkan tembok gelisahnya untuk membangun berlapis-lapis tembok gelisah baru yang campur-aduk. Praakk!! Hape tuanya terjatuh. Dengan tangan  gemetar ia meraih baterai yang terpisah dengan badan hape, memasang dengan cepat dan menekan tombol aktif. Ia melakukan dengan gemuruh di dada yang aneh. Semakin aneh, bisu dan... lututnya terjatuh menikam lantai secara tiba-tiba.

“Ose, katong dapat kabar dari teman-teman di Kupang. Dong bilang Maria su mati di Malaysia. Kena perkosa abis itu orang bunuh. Coba lu hubungi dia pung orang tua. Kuat e, Ose?! GBU! (Melky).”

Kelompok koor menyanyikan lagu penutup ‘Joy to the World’ dengan gegap gempita. Namun di telinga Joseph, lagu itu terdengar mengalir pelan dan suram. Lenyap hingga gelap menyergap.

Tuhan tak adil padaku. Novenaku sia-sia!

***

Setelah kematian Maria, perangai Joseph berubah total. Ia menjadi pemurung dan mulai menciptakan jarak dengan kapela tercintanya. Sebulan setelah Natal, Joseph benar-benar mengajukan permohonan pengunduran diri dari tugasnya sebagai koster. Namun hati kecil pastor Agustinus berkata lain. Sebagai pastor di paroki induk, ia tak boleh melepaskan koster terbaik di kapelanya terhimpit dalam keputusasaan. Ia mencari koster pengganti dan meminta Joseph tetap tinggal di kapela, mengurus kebun dengan waktu istirahat yang longgar.

“Terima kasih, Romo. Biar sa beta tinggal di pondok di kebun. Beta rasa bosan tinggal di kapela ini.”

Tuhan tak adil padaku.

Pastor Agustinus membolehkan. Namun diam-diam, ia meminta Guido—koster pengganti—untuk mengontrol kondisi Joseph di kebun. Sebab sebagai pastor di paroki induk di Sikumana, ia hanya punya waktu sebulan sekali untuk mengunjungi Usapi Sonbai.

Seminggu kemudian, tersiarlah kabar di telinga umat hingga ke telingan pastor Agustinus bahwa Joseph sudah gila! Ia dikabarkan tidur-tiduran sambil meracau tak karuan di bawah pohon sepe dekat kapela. Kadang ia terpergoki sedang memeluk pohon sepe sambil mengobrol seperti sedang berbicara dengan seseorang. Sungguh, ia sudah dianggap gila oleh umat.

Lebih naas lagi, akhir-akhir ini ia makin menjadi-jadi. Ia kedapatan menangis meraung-raung sambil memeluk pohon sepe yang mulai rontok bunga-bunganya. “Jangan jalan lai... jangaaan!” Teriaknya.

Ia berteriak hingga tertidur pulas.

Dari ujung tembok, tempat cahaya matahari biasanya jatuh menembus kaca patri, datanglah seberkas cahaya membentuk tubuh manusia menuju ke arah pohon sepe. Perempuan cantik yang murni hatinya. Katanya pada lelaki muda yang tertidur pulas,

“Bangunlah Joseph, Isa menunggumu di dalam....”

Ia pergi meninggalkan sepe yang mulai berguguran.



Kupang, 12-12-12



Ketrangan:

1.      Ume kbubu: rumah tradisional suku Dawan, Timor, dengan atap alang-alang yang menjuntai hingga menyentuh tanah. Secara harafiah, ume kbubu berarti ‘rumah bulat’.

2.      Istaroop: sirup rasa frambozen.

3.      Pohon sepe: pohon flamboyan (Delonix regia).

Cerpen ini pernah dimuat di antologi cerpen Temu 1 Sastrawan NTT, Kematian Sasando.

Minggu, 12 April 2015

Rindu dan Cermin



kau hari ini tak pergi mengajar. kau hanya duduk menulis di rumah (sekali pergi memasak, lalu makan) dan terus menulis. ada dua anak di kandungan yang mesti kau urus; dua naskah berisi belasan cerpen dan puluhan puisi, sedang menunggu waktunya lahir. kau (yang lain) entah sudah menghilang ke mana. rindu harusnya sedekat cermin.

‪#‎catatanharianleon‬


Sabtu, 11 April 2015

Lilo




Lilo menyembunyikan dua rahasia besar dibawah lipatan mimpinya
Tulang dan darah pernah mengajarkan dia
Untuk menjadi seperti orang Rote dan Kisar
Sampai suatu ketika
Tulang itu layu
Darah itu pucat
Mimpinya terhenti
Apakah karena dia Rote dan Kisar?
Tangis ibu pecah
Ayah terus pergi menguasai laut
Ayah lupa mengajarkan tanda salib untuk tubuh Lilo
Tangis ibu pecah; Ayah marah pada Tuhan



Ketika paskah tiba
Ibu masih saja menangis
Angin menggerung-gerung memuluk atap rumah
Lilo terjaga
Didapatinya mimpi mengambang dalam danau darah dekat jantungnya
Jantung itu bercahaya hingga ke lengkung matanya
Ia bingung mengapa ibu menangisi rosario di tangan
            Ibu, apakah ayah sudah mati?

Lilo berdiri dan terbang ke kapela
Ia ingin bertanya pada Tuhan
Seribu malaikat mengantarnya dalam cahaya kunangkunang
Lilo ingin minta pada Tuhan
Lilo masih ingin punya mimpi
Lilo yang katanya lumpuh layu
Lilo yang katanya berhati malaikat
Lilo yang ingin Ayah bertobat
Lilo yang ingin ibunya berhenti menangis
Lilo yang percaya bahwa tangisan mengundang amarah alam

Lilo yang bisa apaapa karena selalu dibantu malaikat
Selalu dibisiki malaikat

Di rumah ibu masih menyimpan duka
            Bapa yang kekal kepadamu
            Kupersembahkan tubuh dan jiwa putriku
            Sebagai pemulihan dosa-dosaku, suamiku
            Dan dosa seluruh dunia. Amin

Tubuh Lilo bercahaya sudah
            Tuhan, apakah ayah akan pulang pagi ini?
            Apakah ia membawa seember udang segar?
            Beritahu ayah, aku ingin makan udang itu bersamanya
            Juga ibu

2015