KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Kamis, 05 Maret 2015

Catatan Harian Konselor: Siapakah Pemimpin Kita Nantinya?


Angel Thalo dari Kelas 7G
Dalam berbagai kesempatan di program Bimbingan dan Konseling yang saya asuh, saya punya satu kebiasaan menunjuk seseorang yang secara bergantian dalam suatu kegiatan kecil menjadi team leader. Entah dalam rapat kelompok jurnalis, diskusi kelompok/FGD, kegiatan outbound, konfrensi kasus, pelatihan konselor sebaya, dll pasti ada team leadernya. Tugas sang Team Leader adalah memimpin jalannya kegiatan, mengatur/mengontrol dan memastikan kegiatan berjalan baik. Saya bilang ke mereka bahwa ini kesempatan mereka untuk melatih diri, mental, kemampuan public speaking, dsb. Dalam proses ini saya bisa sekalian mengajarkan mereka untuk saling respek, hormat menghormati dan mau peduli dengan orang lain. Dan tiap kali kegiatan, mereka akan antusias, siapa team leader berikutnya. Satu kebiasaan kecil yang harapannya membawa perubahan positif di dalam diri mereka. Kita percaya bahwa mereka adalah the next leader di tempat kerja, di kantor, di kelurahan, di kampung, di kota bahkan pemimpin bangsa dan negara ini. Siapa sangka bahwa hal-hal kecil ini akan membentuk mereka untuk mampu melakukan hal besar kelak. Semangat ya guys....


Darlene Wijaya dari kelas Akselerasi 1

Kevin Tantojo dari kelas Akselerasi 1

Josua Nalle dari kelas 7E

Iren Dandung dari kelas 7C

James Fanggidae dari kelas 7E

Angel Amalo dari Kelas Akselerasi 1

Rabu, 04 Maret 2015

Catatan Dari Noehaen: Masih Soal Memberi Dari Kekurangan



Beberapa waktu lalu saya berkesempatan pergi ke Noehaen, sebuah dusun kecil di Kecamatan Amarasi Timur, kabupaten Kupang. Saya ke sana bersama teman-teman Solidaritas Giovanni Paolo II untuk mengantar beberapa bantuan antara lain buku-buku bacaan dan pompa air untuk kelompok tani yang ada di sana. Sudah lama sekali kelompok solidaritas kami membantu masyarakat di sana. Tak banyak tapi kami berusaha membantu sebisa kami. Saya ke sana sekalian mengantar buku-buku bacaan yang telah dikumpulkan di sekolah tempat saya bekerja. Ceritanya saya dengan sekelompok murid kelas 7 yang saya ajak dalam kelompok Jurnalis Pelajar Speqsanter bikin kegiatan Solidaritas St, Theresia. Saya latih mereka juga untuk peduli dengan orang lain. Mereka punya banyak buku bacaan di rumah tak ada salahnya membagikannya untuk teman-teman mereka di Amarasi ini. Tahun kemarin kami sudah membantu membangun sebuah rumah baca St. Stefanus dan PAUD sekaligus. Rumah baca dan PAUD dikelola oleh romo stasi Noehaen dibantu relawan dari OMK setempat, Kak Susan, dkk. Tercatat ada 150an anak dan remaja yang beraktifitas di rumah baca ini setiap Rabu, Jumat dan Sabtu sore. 

Kami tiba sore harinya dan saya langsung menuju ke rumah baca dan bertemu beberapa anak yang ayik membaca. Saya membacakan beberapa puisi untuk mereka, bercerita sebentar lantas bubar karena mereka harus kerja bakti membersihkan kapela sore itu juga. Setiap Sabtu, anak-anak Sekami mendapat tugas membersihkan kapela. Malamnya kami nonton film bersama. Kakak saya membawa mesin proyektornya. Seru. Esok paginya kami misa bersama dan duduk berdiskusi dengan umat sekalian di bawah pohon asam samping kapela. Umat Noehaen sedang bersemangat dengan kelompok nelayan dan kelompok taninya. Kami menyumbang sebuah pompa air untuk mereka. Siangnya anak-anak sekami berkumpul di Taman Baca St. Stefanus. Kami bernyanyi dan menari bersama hingga waktunya makan siang. Di dapur para mama sibuk memasak. Saat ke Noehaen kami mengajak serta tante saya, suster Adelin CIJ (masih kerabat bapak saya di Paga) untuk memberi pelatihan memasak bagi ibu-ibu Noehaen. Kami akhirnya menikmati makan siang komplit berbahan pangan lokal. Oya, ikan dan udang dari Noehaen itu segar dan yaolooooh nikmaat.
Senang bisa hadir dan berbagi sukacita bersama umat di Noehaen. Selalu ada rindu yang memanggil saya untuk pergi ke sana. 

Kawan, di Solidaritas Giovanni Paolo, saya diajarkan untuk ikut berbagi dari kekurangan. Kami hanya bisa menyumbang 10ribu per bulan. Tapi siapa sangka, ada banyak orang baik yang selalu ikut membantu. Banyak hal bisa dilakukan dari sebuah aksi solidaritas. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah turut memberi harapan bagi teman-teman di sana. 
Oya saya rencananya ingin membuat kelas inspirasi di sini. Selama 3 hingga 5 hari, para relawan datang untuk mengajar secara sukarela, menginap di rumah penduduk. Mengajarlah apa yang bisa kau ajarkan atau kau bagi dari profesimu, begitu kira-kira. Jika tertarik, WA saya 081338037075 hehehe. 


semangat ngumpulin buku

komik kami untuk kawan-kawan di noehaen

duo paling semangat dari kelas 7G

Hai, kaka...terima kasih buku-bukunyaaa

drop box solidaritas St. Theresia di perpus sekolah

Kelas 7G kompak membantu saya packing 6 dus buku untuk Noehaen

sehabis nyanyi dan menari di taman baca

masakan dr bahan lokal hasil kreasi suster adelin dan para mama noehaen

bersama kak imma tora dan anak-anak noehaen

tanta suster adelin senang kelas memasaknya sukses

bersama kak priska, kak evi, lia rekan hebat saya dr Giovanni Paolo

Kami hanya orang-orang muda yg ngefans sama Johanes Paulus II!

Selasa, 03 Maret 2015

Saat Jadi Guru Di Situ Seringnya Saya Merasa Bangga




Sudah berapa lama menjadi guru? Saya memulai karir profesional di lingkungan pendidikan dengan bekerja sebagai konselor pendidikan di Playgroup, TK dan SD Alam Anak Prima di Jogjakarta sejak tahun 2009. Saat itu saya sudah di semester akhir bangku kuliah. Saya butuh uang jajan sendiri dan kebetulan teman sekelas saya yang empunya sekolah tersebut.

Awalnya saya ke sana untuk praktik dari matakuliah psikologi terapan. Akhirnya saya benar-benar ditawari bekerja di sana, menjadi asisten psikolog yang ada di sekolah tersebut sekaligus menjadi konselor pendidikan. Sempat saya diminta juga untuk menjadi supervisor guru-guru ketika rekan kerja sedang cuti melahirkan. Menyenangkan pokoknya saat itu. Sambil skripsi saya bekerja. Kadang harus home visit ke rumah orang tua murid dan disaat bersamaan harus mengejar dosen ke kampus. Begitulah serunya. Saya lulus tepat waktu (8 semester) dan melanjutkan karir saya. Tahun 2011 saya kembali ke Kupang sempat menjadi customer service di salah satu provider dan akhirnya harus kembali ke sekolah. Labuhan saya kini, SMPK St. Theresia Kupang. Menjadi guru BK memang tak mudah, untuk daerah yang persepsi terhadap peran konselor sekolah dan psikologi pendidikan masih kurang. Saya harus melawan stigma itu sedangkan di sisi lain saya harus membuktikan bahwa bimbingan dan konseling di sekolah sangat penting bagi siswa dan bicara psikologi anak juga psikologi pendidikan tak bisa disepelekan. Saya pakai berbagai teknik untuk mendekati siswa dan juga mendekati guru (mendekat untuk merubah persepsi mereka). Bicara bimbingan dan konseling maka kita akan bicara minat, bakat dan potensi diri siswa. Dari sana, kita akan bicara juga bimbingan karir, cita-cita, disamping bicara masalah pribadi dan sosial siswa. Saya mulai aktif membangun ruang kreatif untuk siswa. Bersama kita bikin film pendek, aktifkan mading, bikin kelompok fotografi, bikin kelompok jurnalistik, belajar sastra. Di dalam kegiatan-kegiatan tersebut, bimbingan dan konseling saya sisipkan. Ada konfrensi kasus, ada konseling individu, ada konseling kelompok dan klasikal. Kita bikin film pendek soal anti bullying dan memutar-mendiskusikannya di kelas. Banyak hal menyenangkan kami lakukan bersama. Saya bangga bisa bertumbuh bersama siswa-siswa saya. Kadang saya bisa menjadi guru, orang tua, kakak sekaligus sahabat mereka. Saya mengerti, menghadapi remaja kadang gampang-gampang susah. Kadang ada keinginan untuk bertualang saja, atau menulis saja, tapi panggilan untuk mengajar, berbagi ilmu dengan orang lain seperti punya kekuatan tersendiri. Kadang merasa bosan dengan rutinitas di sekolah, saya lantas mengambil inisiatif untuk bikin kegiatan outbond, pergi ke kota tua, atau sekedar mengumpulkan buku bekas dan memberikannya ke taman baca di penggiran kota Kupang. Saya tidak tahu akan menjadi konselor pendidikan hingga kapan. Di luar sekolah, saya aktif di berbagai komunitas menulis dan komunitas yang bergerak di kegiatan sosial. Keinginan saya satu, saya bisa bekerja tapi juga bisa jalan-jalan. Ah, kaki saya seperti kereta saja. Saya bersyukur saya dimampukan untuk berpikir dan bertindak kreatif, dengan demikian saya bisa menangkalnya jika sedang bosan. bosan pada rutinitas. Saya bangga, hingga usia ini saya bisa menggunakan talenta saya untuk berbagi dengan orang lain. Di situlah letak kebahagiannya. Ya, bicara materi, berapa sih gaji guru swasta? Tapi dalam hidup apa itu saja yang ingin cari? Kelak ketika saya dipanggil Tuhan, saya pasti akan merasa bangga karena sudah pernah bikin ini itu melakukan ini itu, pergi ke sana kemari, ketemu orang ini orang itu, dst...dst...
untuk melatih kemampuan leadership, selalu ada pemimpin rapat tiap minggu

Solidaritas St. Theresia

empat anak ini awalnya membuat saya kewalahan, sekarang saya sudah pegang 'kunci' mereka



Buku sumbangan kami berikan untuk taman-taman baca di Amarasi
diskusi kelompok di kelas Akselerasi

drop box ini saya letakkan di perpus. siapa saja bisa menaruh buku sumbangannya

saya latih dan beri kesempatan mereka wawancara dan menulis berita

selain mading ada juga website sebagai wadah mereka menaruh segala bentuk kreativitas




senang bahwa mereka bangga bisa berbagi dengan org lain


"Pak ini komik kesukaan saya, tapi sudahlah mau saya sumbang saja."

Senin, 02 Maret 2015

#ParampuanPungCarita: Melihat Kehidupan Dari Lensa Perempuan NTT







 "Karena kadang keindahan sepatu perempuan berbanding terbalik dengan rasa saat memakainya." Noya Letuna dalam foto Sepatu.


Bagi saya ini langkah yang baik untuk Kupang. Kota yang sudah makin sonde jelas arah pembangunannya. Kota segala macam ruko. Terima kasih untuk kak Jill, owner Forjes, sebuah cafe di tengah kota, tempat anak muda Kupang berkumpul, bukan sekedar ngopi dan bergosip namun turut melahirkan ruang diskusi, ruang utk menampilkan karya musik, sekaligus ruang pameran yang baik. 
Saya tahu betul, di Forjes orang-orang muda Kupang kreatif biasanya ngumpul. Pameran foto bertema Parampuan Pung Carita (dari bahasa Melayu Kupang, Perempuan Punya Cerita) digagas oleh Sekolah Musa (multimedia untuk semua) bentukan Danny Wetangterah, dkk. Sebelum pameran sebenarnya sudah ada workshop terlebih dahulu bagi peserta perempuan yg mendaftar. 
Tercatat ada 18 perempuan yang akhirnya berkesempatan memamerkan karya fotografinya di Forjes. Saya hadir di hari pertama pameran dengan belum semua karya sudah terpasang karena alasan teknis. Tapi sudah tergambar keragaman cerita yang ingin disampaikan. Saya menduga saja bahwa perempuan-perempuan ini bercerita dari keseharian mereka, rutinitas pekerjaan atau pengalaman liburan mereka.
 Inda Wohangara misalnya, menampilkan sudut-sudut indah dari Gili Lawa, kampung Bena dan Danau Kelimutu. Indah pun menyisipkan sepotong cerita, tentang sunrise dan kopi di Kelimutu. No coffee, no sunrise, begitu cara penjaja kopi menarik minat pembeli. Hingga terbentuklah opini tersebut. Menarik! Ada juga nama Rini Anabokay yang banyak memotret perempuan penenun dari Suku Boti. 
Ada Eva Toebe dan Irma Aini yang mencoba menerjemahkan unsur feminitas dari binatang dengan menambahkan judul, misalnya, "Orang Utan, mama terhebat dunia." Ada satu foto yang menarik mata saya, hasil karya Ana Bian. Anak perempuan dari kamp pengungsian Noelbaki, begitu keterangan fotonya. Melihat gadis kecil itu saya teringat Sharbat Gula, gadis Afghanistan yg sangat populer setelah foto tentang dirinya yg diambil fotografer National Geographic, Steve McCurry. Mata perempuan kecil dalam foto Ana Bian menyiratkan banyak makna. 
Tercatat ada nama lain seperti Helga Ndun, Vista Ratukitu, Lisye Adoe, Noy De Araujo, Yudith Ivony, Freny Mandaru, Erlina Dangu, Maria Mulle, Leli Taolin, Iva Selvia, Helen Rea, Uchi Dessy Natalia, Silviana Maria Oey, dan Melly Hadjo. Dari segi profesi kebanyakan pegawai swasta, kemudian PNS dan dosen. Namun ada juga seorang Bidan (Uchi Natalia).
Ah, lengkapnya, silahkan mampir ke Forjes Cafe. Saya cuma pengamat amatiran yang sangat mengapresiasi ruang-ruang kreatif seperti ini bertumbuh di kota Kupang. Selamat untuk kak Danny, om AP, kak Noya, kak Inda, dan semuanya. Sukses untuk PPC-nya.

Sabtu, 14 Februari 2015

Melihat Saudara Di Pinggir Danau Fatukoto



Di pinggir danau Fatukoto yang bermandikan cahaya senja kami datang. Sudah jam 5 sore. Perjalanan pulang dari Fatumnasi cukup memakan waktu, bukan saja karena jalannya yang rusak sehingga kami harus hati-hati namun karena perjalanan ini saya lalui bersama seorang fotografer sekaligus traveler hebat maka setiap jengkal bukit dan hutan adalah fantasi yang tak pernah usai. Cahaya matahari sore itu merefleksikan banyak hal indah di mata kami. Anak-anak tertawa cekikan di pinggir kebun jagung dekat ume kbubu, sementara anak lainnya berlarian di atas batu-batu marmer tanpa ragu sedikitpun. Banyak kali teman baru saja ini memotret dan sekali dua kali ia meminta saya untuk memotret dirinya. “Kamu itu ibarat tripod..” tentu saja ia berkelakar pada saya. Belum genap 24 jam setelah perjumpaan perdana di Penginapan Keuskupan Kupang, obrolan kami bahkan sudah terlalu cair, hangat dan penuh canda. Dimulai dari Kupang menuju SoE, mampir ke air terjun Oehala, lalu ke Bolaplelo, menuju Fatumnasi melewati Kapan. Sebelum tiba di Fatumnasi, kami malah menghabiskan siang hingga senja benar-benar tertelan lembah di perbukitan Tunua hingga Fatukolen. Perjalanan penuh fantasi katamu. Fantasi Fatumnasi tulismu. 

Di pinggir danau Fatukoto yang bermandikan cahaya senja, kami datang. Sudah hampir jam 6 sore dan ia, teman saya ini berharap ada perahu di tengah danau itu. Atau angsa atau biarlah ia sendiri masuk ke dalam sana. Refleksi pohon dan bukit di atas permukaan danau yang hampir berwarna hitam-kuning emas barangkali akan lebih luar biasa dengan adanya obyek lain seperti perahu, angsa atau manusia. Barangkali. 

Di pinggir danau Fatukoto, kita melihat cermin yang memantulkan diri kita.
Setiap perjalanan melahirkan cerita. Refleksi di permukaan danau mengingatkan siapa kita. 

Oke. Nama teman baru saya ini Valentino Luis. Saya memanggilnya “kae”, sapaan akrab ala orang Flores, artinya kakak. Secara umur dan pengalaman hidup, ia pantas saya panggil kae. Dari catatan di Facebook, obrolan perdana kami di dunia maya dimulai 16 April tahun 2014. Sosoknya tak asing. Sejak di Jogja saya kerap membaca tulisan dan foto-fotonya di beberapa majalah wisata. Ketika melakukan perjalanan dengan pesawat, karyanya kerap mudah ditemui di beberapa majalah maskapai. Di dunia maya nama dan karya-karyanya sangat dikenal dan diakui, sebagai anak muda NTT, fotografer sekaligus traveler. Pertama kali melihat seluruh karya foto beliau di Filckr ini, saya langsung ngefans! Jarang sekali saya bisa melihat anak muda Flores, penuh talenta seperti ini. Apakah saya terlalu memuji? Silahkan gugling sendiri namanya. 

Saya mengapresiasi betul betapa orang-orang baru hadir dalam hidup saya, memberikan diri mereka, berbagai pengalaman dan ilmu tanpa banyak syarat. Mereka yang kemudian ikut membuka dan ikut memperluas jaringan sosial di lingkaran saya. Saya punya banyak pengalaman baik soal itu maka saya tidak pernah ragu untuk membuka diri dengan siapapun. Dari pengalaman, saya mengalami banyak keajaiban setelah bertemu banyak orang keren, bisa diajak ke festival ini, festival itu , bikin project ini itu. Dikenalin ke orang hebat berikutnya dan seterusnya.

Perjalanan itu, betapa singkat dan lamanya ia, pasti akan melahirkan kesan, menghidupkan refleksi. Ada sekelumit tanya yang pada akhirnya akan kita jawab sendiri. Ada ihwal yang akan kita kenang sendiri atau kita bagi. Dalam perjalanan bersama orang lain, saya akan tahu siapa saya, siapa dia dan siapa kita. Lantas siapakah kita?

Perjalanan melahirkan cerita ini:
Saya dan teman saya ini sama-sama anak bungsu yang sejak kecil dihidupkan dengan daya imajinasi. Bermain dengan banyak rupa mimpi. Berlari dengan banyak akal. Bersembunyi karena pemalu. Di kamar, dalam kesendirian, kita hidupkan dunia kita. Dunia yang dibentuk dari dongeng ayah-ibu, diwarnai alam semesta, dijejali gunung, pantai dan warna langit, dihidupkan dari buku lima sekawan dan majalah kunang-kunang. Kita adalah catatan harian yang paling sepi sekaligus nikmat. Ah, kawan!
Ia bercerita, karena ayahnya ia akhirnya punya mimpi keliling dunia. Ia mengagumi Jerman yang kelak memanggilnya--meluaskan cakrawalanya. Saya memulai dengan dongeng dari ayah tentang manusia-manusia hebat dari kampungnya di Flores. Saya selalu haus mendengarnya berkotbah tentang segala keajaiban yang pernah terjadi di atas bumi ini. Semenjak itu, ruang imajinasi seperti terserang wabah sarang laba-laba yang kusut kacau tebal, nikmat! Kita memulai segala yang intim dalam lautan kata-kata: sunyi, puisi, Tuhan, hantu dan hal-hal yang seenaknya kita metaforakan. 
Kita adalah anak rumahan dibesarkan di ketiak ayah-ibu, sehingga barangkali sifat egois mengencer dalam darah. Barangkali. Tapi itu dulu. Sekali lagi, perjalanan membawa perubahan. Tulang kita akan kuat karena matahari sukses membakar tubuh kita. Mata kita akan lebih bersinar, karena alam semesta meminjamkan ketajaman batinnya. Tapi kemudian jalan pasti berbeda. Ia cukup tangguh dalam kisah perantauan itu. Saya mungkin sudah pernah memulai mesti tak punya nyali yang banyak untuk memberi lebih pada apa yang kita sebut nekat. Tentu saja, jalan kami berbeda karena ia lahir duluan. Dan karena kenekatan lebih ia bisa mengecap banyak hal besar. Sedangkan saya?
Saya berterima kasih kepada keadaan dan segala ucapan dadakan untuk pergi keliling Mollo, tanah kelahiran saya. Tidak. Akhir tahun kemarin sebenarnya kami sudah merencanakan itu namun batal. Singkatnya kami bisa saling nyambung, klik, dalam perjalanan ke Mollo dan sebagian tempat di Kupang selama 5 hari. Tentu karena faktor kecil tadi, kisah nan klasik di atas. Tapi lebih dari itu, saya punya pikiran, rasanya kesempatan traveling sama orang hebat itu tak datang dua kali. Apalagi orang yang ahli dalam bidang fotografi, sudah punya record jalan-jalan yang lumayaaan ke banyak negara di dunia ini. Menulis untuk majalah wisata sekelas NG Traveler pun. Saya mah bukan siapa-siapa dan belum ada apanya kalau bicara traveling. Embuh, yang penting kenal, syukur-syukur ia mau berbagi pengalaman, tips dan trik, kalau akhirnya kesempatan ini kayak sebuah batu loncatan untuk kenal lebih banyak orang hebat, itu duren runtuh lagi. Hehehe. 
Dalam sebuah kesempatan, ia bilang diri saya adalah dia beberapa tahun lalu. Sudah saya aminkan jika melihat perjalanan masa kanak dan remaja kami. Tipikal keluarga pun hampir mirip, didikan ala orang Flores. Saya yang agak kaku, moodian, suka menulis sastra, punya sejuta mimpi di kepala, tapi bisa juga heboh dan gila-gilaan. Kreatif dan potensial. Ah dua kata terakhir ini saya tambahin sendiri. Halusinasi ckckckck. Yang membuat saya berpikir keras adalah ia bilang bahwa masa depan saya akan baik. Apakah kamu punya keberanian dan sediki kenekatan itu untuk mewujudkan segala mimpimu, dicky?
Kami menutup trip keliling Mollo dan Kupang degan beberapa ide juga harapan bersama. Proyek kreatif berdua semoga saja terwujud dalam waktu dekat. Ada keinginan untuk satu dua kolaborasi. Misalnya dengan buku cerpen yang akan saya terbitkan sebentar lagi. (meski ide ini terlambat saya utarakan). Atau tentang traveling keliling NTT sambil bikin aksi sosial. Entah. Harus dibicarakan lagi. 
Lalu apa lagi ya? Harus kopdar lagi, jalan-jalan lagi. 
Sebab perjalanan belum usai. Siapapun kita disebut, pengelana, pengembara, pencari, traveler bla bla... ide kreatif atau sekedar “klik” itu kita mulai dari satu dua keisengan (tanpa belaka). “orang pung anak”, “Pasti dia”, “tripod”, “gajah”, “opa”, hingga “bikin panggung stand up sambil gangguin anak gadis orang dalam perjalanan ke Baun yang gagal”, sebenarnya adalah api-api kecil yang menjadikan kita waras dan kreatif. Duileeeh. LOL. By the way, selamat datang pengembara...

PS: Amsal 17:17! Selamat pesta santo pelindung juga,ka'e....

*belum ada foto perjalanan traveling kami ke Mollo di saya. Jadi sabar dulu,,,, #kode banget inih :p*

Jumat, 06 Februari 2015

Menikmati Kupang Kelabu, Kupang Sehabis Hujan


Menikmati Kota Kupang sehabis hujan tentu bukan sesuatu yang tak enak. Langit kelabu, jalanan becek dan laut yang surut menambah kesan tersendiri bagi kota ini. Saya iseng melewatinya kemarin, 5 Februari 2015. Tujuan saya awalnya hanya ingin ke pertokoan di kota lama untuk beli handuk. Namun karena suasana sore itu yang kelabu bak puisi (cieeeh) saya lantas saja memanfaatkan hape murahan saya untuk merekam beberapa momen menarik. Dimulai dari depan toko Arjuna, lanjut ke pasar malam dan berakhir di pantai Ketapang Satu di kawasan Tode Kisar. Semenjak direnivasi sama pemkot ada beberapa elemen tambahan yang cukup menarik mata saya ketika lewat sehari-hari. Pertama, tulisan "Ketapang Satu Beach' yang meski tak terlalu gede namun sedikit sudah memberikan identitas baru bagi kawasan yang malamnya selalu padat ini. Alasan kedua, tentu saja sepasang patung manusia yang duduk santai di dekat pohon ketapang. Patung setengah telanjang, yang, ups, patung ceweknya bertelanjang dada. Aye, bagi saya ini menarik-menarik saja. Kabar dari faceboook, pembuat patung itu adalah Apri Adiari Manu. Siapapun dia, karyanya lumayan kok. Cuma saya tak terlalu paham konsepnya seperti apa. Kalau itu patung dengan pasangan yang habis mandi di pantai, toh bertolak belakang sama kondisi pantai ini yang sudah dilarang untuk mandi karena ada buayanya. Nah lho. Apapun itu, sebagai jomblo yang sedang mencari kekasih hati, tempat ini menarik kok buat duduk menikmati sunset sambil nikmati kopi dan kacang rebus. Nikmat.







Kamis, 05 Februari 2015

Kelompok Jurnalis Pelajar Speqsanter: Kembangkan Bakat Sekaligus Belajar Peduli Sesama


Sejak akhir Januari 2015 saya mulai sibuk dengan beberapa program kecil yang saya rancang bersama kelompok murid dari kelas 7 SMPK St. Theresia. Mengapa kelas? Tahun ajaran ini saya dipercaya untuk menjadi konselor kelas 7. Saya memulai dengan sebuah kepercayaan bahwa mereka, murid-murid saya punya potensi yang besar. Sejak tahun 2012, saat pertama kali mengajar di Speqsanter, begitu biasa sekolah ini disebut muri dan alumninya, saya sudah memulai dengan membentuk kelompok jurnalis pelajar. Konselor kok bikin kelompok jurnalis? Saat itu pikiran sederhana saya adalah mading sekolah sedang tak aktif, di sisi lain para siswa sangat aktif di dunia online (media sosial). Mereka punya segala fasilitas yang bisa mendukung kegiatan memotret, mengutak-atik laptop, dll. Kedua, saya punya backgorund sebagai penulis dan blogger. Ketiga, mereka cukup percaya diri untuk menampilkan apa saja yang mereka punyai. Nah potensi itu yang saya tangkap.


Lalu hubungannya dengan dunia konseling? Media dan segala potensi itu saya pakai sebagai salah satu jalan saya untuk melakukan bimbingan dan konseling. Amanat departemen pendidikan nasional kita mengamanatkan tugas guru BK sebagai pendorong minat dan bakat siswa. Klop sudah kan? Kami memulai project perdana dengan membuat film pendek, Proverbs 17:17. Film bagi saya sebagai media komunikasi. Menyampaikan ide, gagasan sekaligus media konseling. Film bisa jadi alat kampanye. Selanjutnya kami menangkap adanya isu-isu seputar disiplin, persahabatan, dan bully maka lahirlah beberapa film kampanye yang kami buat bersama, dan kami tampilkan dari kelas ke kelas. Ada diskusi yang menarik selanjutnya.
Sebagai bloger, saya juga membuat blog yang sekarang sudah menjadi www.smpktheresia.web.id. Segala hal yang terjadi disekolah saya upayakan terekam dan dimuat di blog tersebut. Sejauh ini sudah berjalan baik. Sabtu, 7 Februari 2015 rencananya saya akan memberikan pelatihan untuk 5 siswa yang saya pilih sebagai admin blog tersebut. Selain admin, kelompok siswa yang saya rekrut ada yang bertugas sebagai reporter, saya tugaskan menulis berita, menulis artikel dan mewawancarai narasumber. Saya ingin mereka belajar sensitif terhadap perubahan kecil di sekitar mereka. Perubahan, fenomena atau kejadian yang kapan saja terjadi di sekolah.
Seminggu sekali kami bertemu. Saya percayakan mereka berganti-gantian memimpin rapat. Saya ingin melatih kemampuan leadership mereka.
Oya, mereka yang saya pilih adalah perwakilan dari setiap kelas, dua hingga 4 siswa. Saya punya tujuan, mereka ini akan menjadi contoh di kelas. Kami akan melaksanakan pelatihan konselor sebaya bulan depan. Kelompok ini juga akan menjadi konselor sebaya. Banyak sekali ya tugas mereka. Lalu siswa yang lain tidak dilibatkan?

Mewawancarai Suster Kepala Sekolah

Semua siswa yang saya bimbing mendapat kesempatan yang sama untuk menampilkan minat dan bakat mereka. Saya mengawali program saya dengan asesmen seluruh siswa: potensi, minat dan bakat paling saya utamakan, termasuk juga kelemahan mereka di bagian mana. Mulai sekarang tugas majalah dinding saya serahkan ke setiap kelas untuk menerbitkan mading per minggu. Semua mendapat jatah. Seluruh siswa dari setiap kelas saya dorong untuk menampilkan setiap potensi mereka. Bikin puisi, cerpen, opini, sketsa? Bikin manga dan fotografi? Hasil terbaik dari majalah dinding biasanya saya masukan juga ke blog.

Sejak tahun lalu, komunitas tempat saya bergiat, Solidaritas Giovanni Paolo sedang merintis taman baca dan PAUD di Noehaen Amarasi Timur, Kabupaten Kupang. Lewat kelompok Jurnalis Pelajar Speqsanter, saya ajak seluruh siswa untuk peduli pada teman-teman mereka di pinggiran Kota Kupang. Saya katakan kepada mereka, saat ini kesenjangan pembangunan dan akses ke pendidikan amat kentara antara Kota Kupang dan area di sekitarnya. Noehaen tak seberapa jauhnya dari Kupang namun akses terhadap buku bacaan sangat minim. Sedangkan murid-murid saya di sekolah, orang tua mereka mudah sekali membelikan mereka buku di Gramedia, dll. Ketika saya tanya, apa punya buku bekas pelajaran SD, Majalah Bobo dan Komik di rumah? Mereka serempak menjawab, banyaaaak pak. Katong ju sonde baca lai, tatumpuk digudang. Baik sekali kalau itu dikirim ke taman baca di Noehaen kan? Maka lahirlah ide #BukuUntukNoehaen di media sosial. Kami memakai twitter @smp_theresiakpg dan Instagram untuk menggalang buku-buku tersebut dari siswa. Lumayan responnya.
Lalu apa saja agenda berikutnya? Tanggal 15 Februari 2015 kami berencana mengunjungi Klenteng Lay untuk liputan. Sebentar lagi akan ada Imlek. Ini momen yang pas untuk mereka belajar sejarah kota tua Kupang, tahun baru Cina sekaligus belajar bertoleransi terhadap segala perbedaan agama dan budaya di sekitar mereka. Doakan kami, segala kegiatan ini berjalan baik. Bagi kakak-kakak sekalian, jurnalis, fotografer dan praktisi mulitemdia di Kupang, boleh lho ya punya waktu mampir ke sekolah kami untuk bikin kegiatan workshop kecil untuk kami. Ayolah...hehehe....
Putry Kolfidus dan Anna Waso

Habel Rodja

Liputan Cooking Class

Latihan mewawancarai narasumber

dropbox #BukuUntukNoehaen

Charryn dan Angel

Grant

Misel Bell

Laura Kennenbudi Ketua Tim Jurnalis Pelajar Speqsanter

James Fanggidae mendapat tugas pimpin rapat

Rapat Mingguan