KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Sabtu, 22 Agustus 2015

Tentang Sumba, Pria Tua Berkuda dan Film-Film Pendek yang Berputar di Kepala


Part 1

Pantai Purukambera

Sumba. Berkali-kali mendengar cerita orang tentang Sumba tanah Marapu. Berkali-kali disuguhi berbagai gambar indah tentang Sumba tapi seumur hidup belum pernah ke Sumba. Baru seminggu yang lalu akhirnya bisa kesampaian juga mimpi menginjak tanah Sumba. Beberapa bulan lalu kak Olin Monteiro dari Peace Women Across the Globe mengontak saya dan menyampaikan kabar bahwa PWAG hendak bikin sebuah mini festival di Sumba kerjasama dengan Humba Ailulu, sebuah komunitas anak muda di Waingapu. 
Tentu saja saya antusias. Sumba adalah alasan penting; ini adalah kali pertama injak tanah Sumba dan di sana ada banyak teman-teman saya para penulis dan pegiat komunitas seni budaya. Barangkali di Sumba juga ada jodoh saya. Kelak. Hahaha. Tanggal 10 Agustus 2015, jam 07.15 mendaratlah saya di bandara Umbu Mehang Kunda (dulu bernama bandara Mauhau). Sudah janjian sama teman saya Yustin Eto aka Tatin. Ini pertemuan perdana saya dengan Tatin meski sudah kenal di medsos hampir dua tahun terakhir. Dalam perjalanan ke rumahnya di Kilometer 4, saya diajak Tatin keliling kota Waingapu. Kotanya ramai hampir mirip Maumere. Kami sempatkan menjemput adik bungsu Tatin, namanya Adepio (dari Padre Pio), lalu ke pasar dan memasak untuk makan siang bersama di rumah Tatin. 
Pada momen itu saya memikirkan beberapa hal (kebiasaaaan yang tak penting hahaha). Pertama, saya ke Sumba dan ketemu banyak teman yang selama ini hanya akrab di media sosial, dan kalau ditarik ulur lingkarannya ya itu-itu saja. Saya kenal A dari B yang adalah temannya C dan D yang juga teman kelas saya kala SMA, misalnya seperti itu. Kedua, saya ketemu keluarga baru yang sekalipun baru kenal tapi akrabnya seperti sudah kenal bertahun lamanya. Ketiga, Waingapu itu kota yang dinamis dan menyediakan banyak sumberdaya yang oke punya bagi anak muda untuk berkumul dan berkreasi. Kalau dari kacamata saya nampaknya seperti itu. Potensi pariwisatanya besar. Tinggal kesadaran generasi mudanya juga pemerintah untuk mengelola itu dengan kekuatan sendiri tidak melulu bergantung pada investor luar. (Suatu sore di pantai Maujawa, kami bertukar pikiran soal pantai-pantai di Sumba yang sudah banyak dibeli orang luar Sumba. Kita prihatin. Tanah kita akan dikuasai pemodal asing. Asing tidak berarti bule lho ya). Tapi sekali lagi saya optimis dengan kesadaran anak muda Sumba yang aktif bergiat di komunitas, salah satunya komunitas seni budaya. Rasa cinta dan kepedulian pada kampung halaman akan terus terjaga. Keempat, keindahan alam bikin saya jatuh cinta. 
Oke, harus saya akui Sumba itu keren, indah, cantik, eksotik, semuanyaaa. Paduan apik laskap dan budaya asli. Padang sabana mahaluas, langit biru, udara bersih, laut biru pasir putih, kampung-kampung tradisional, kegemaran berkuda, keindahan kain tenun, banyak hal menarik yang tak akan habis dibahas tentang Sumba. Siapa yang rela bahwa semua itu kelak akan dikuasai oleh orang asing? Dalam diskusi pengembangan komunitas seni budaya di STIE KRISWINA, masih dalam serangkaian acara Sumba Art Gathering, keluarlah kesepakatan dari mulut anak-anak muda Sumba, “Kalau bukan kita, siapa lagi?” Saya sepakat, saya ikut mendorong sesama kaum muda untuk mau peduli dengan lingkungan sekitar, kampung halamanya sendiri.
Hari kedua, 11 Agustus saya diajak Tatin ke pantai Purukambera. Fiuhhh, sepanjang jalan yang ada hanyalah hamparan sabana mahaluas. Tak terhitung berapa kali saya harus memarkir motor, membiarkan Tatin sendirian sementara saya asyik foto-foto, selfie dan mengagumi titik demi titik lanskap di depan mata. Dan pantai Purukambera, oke, saya dikasih tahu bahwa masih ada puluhan atau mungkin ratusan pantai indah di Sumba Timur, tapi kalau dibandingkan dengan pantai di Timor, ya kalah jauh lah. Saya terlalu takjub misalnya di tengah sabana ada gereja dengan arsitektur indah, atau ketika ketemu kawanan kerbau, sapi dan kuda memotong perjalanan kita di tengah jalan berliku yang sepi. Sementara pohon kom berdiri saling menjauh dan menawarkan tontonan mahal ketika senja tiba dan kuda-kuda kembali ke kandang. Atau ketika takjub mendera melihat pria tua dengan ikat kepala khas Sumba sedang menunggangi kuda dan ada perempuan tua lain yang tangannya penuh tato sedang menenun atau mewarnai benang. Jangan lupakan atap rumah tradisional yang menghujam langit biru. Film-film pendek, ya seperti itu, berputar terus menerus di kepala saya. 
Baiklah, saya harus ke Sumba lagi dan menikmati surga itu lebih lama. Catatan berikutnya tentang Sumba Art Gathering akan saya tuntaskan kali berikutnya.

kru Sumba Art Gathering - Sumba Trail

Rabu, 19 Agustus 2015

Sumba Art Gathering - Sumba Trail 2015


Tanggal 12-16 Agustus 2015 berlangsung even Sumba Art Gathering dan Sumba Trail kerjasama Peace Women Across the Globe dan Humba Ailulu. didukung beberapa komunitas, kampus, aktivis perempuan, budayawan Sumba, dan seniman seperti Ana Humba Community, STIE Kriswina, Dusun Flobamora, Elson Umbu Riada, Frans Hebi, Umbu Angga, Oppie Andaresta dan Nicolas Saputra. Ada sejumlah agenda seperti pemutaran film dengan isu-isu perempuan dan perdamaian, diskusi buku, pembacaan puisi, workshop cerpen, pentas seni dan kunjungan ke beberapa situs budaya di Sumba Timur. PWAG sebagai pengagas acara merasa perlu untuk membuat even seni budaya sebagai media untuk advokasi dan penyadaran publik akan isu-isu perempuan dan perdamaian. Bertumbuhnya komunitas seni budaya di kalangan anak muda NTT kemudian dilihat PWAG sebagai sebuah potensi hingga terbentuklah kerjasama ini. Ada harapan bahwa acara ini akan terus berlanjut. Direncanakan tahun depan Flores Art Gathering akan berlangsung di Ende dan Labuan Bajo.


penyair Sumba, Umbu Nababan

cerpenis Sumba, Diana Timoria

Musisi Sumba, Elson Umbu Riada dan Hanne Ara

penampilan dari Ana Humba Community asuhan Umbu Nababam

Diana Timoria, Umbu Angga (budayawan Sumba), Fransiska Eka dan Umbu Nababan


bersama Hanne Ara

Baca salah satu puisi Mario F Lawi di Sabana dekat Rindi

Kampung adat Rindi

Di rumah salah satu kerabat Umbu Angga. Yang ditutup kain merah itu jenazah salah satu kerabat yg bertahun-tahun belum dikuburkan

satunya dari Ende satunya dari Waingapu

di set film Pendekar Tongkat Emas

Fransiska Eka di kampung adat Prainatang


Mencoba naik kuda Sumba di Purukambera beach

farewell party dengan panitia Sumba Art Gathering di HMY Cafe. Pemiliknya suka sastra juga. 

Dengan Anaci, Eka dan Diana mengapit tiga cerpenis terbaik dalam workshop cerpen

Nocolas Saputra hadir di akhir workshop dan membaca sebuah cerpen untuk peserta

peserta workshop cerpen Sumba Art Gathering

peserta nobar dan diskusi film Masih Ada Asa

Diskusi buku puisi Isis dan Musim-Musim

DUSUN FLOBAMORA!

peserta diskusi buku puisi Isis dan Musim-Musim

bersama Arnold peserta workshop cerpen dari Waitabula dan Riris, guru SM3T yang juga bergiat di Humba Ailulu


istirahat makan siang dalam Sumba Trail ke kampung Rindi

Jumat, 07 Agustus 2015

Mama Mia: Kalau Tidak Berlaku Adil, Mereka Bisa Mogok Bicara Seharian!



Catatan refleksi #KITONG SLBN SoE




Pernah berpikir untuk mengajar di depan anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah Sekolah luar Biasa? Selama 6 tahun punya pengalaman sebagai guru BK saya belum berpikir tentang itu karena saya tahu betapa sulitnya mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Dulu saat masih mengajar di Jogja saya pernah kebagian tugas menangangi satu dua murid dengan riwayat austisme selama satu semester. Cuma itu terjadi dalam konteks sekolah inklusi bukan SLB.
Saya lupa persisnya kapan pembicaraan teman-teman Forum SoE Peduli dengan om Danny Wetangterah sehingga ketemulah dengan ide kunjungan ke SLB Nunumeu di pinggiran kota SoE. Gayung bersambut ide tersebut nyambung dengan ide lain yang disebut sebagai KITONG, Kunjungan Inspirasi Timor untuk Berbagi. Kitong juga bisa berarti kita, kami, dalam bahasa Melayu Kupang. Om Danny, dkk adalah otak dari semua aksi kreatif ini. Banyak komunitas anak muda di Kupang terjaring begitu saja. Komunikasi terjadi begitu cepat dan masif, seperti yang terjadi di Festival Pakariang kali lalu. Promo gencar di lakukan via media sosial hingga akhirnya terkumpulah hampir seratusan orang muda dari berbagai profesi yang mau bekerja secara sukarela, bahkan menanggung sendiri biaya transportasi dan akomodasi, hanya demi mengajar sekaligus berbagi inspirasi kepada anak-anak Timor.
Siapa yang mau peduli pada pendidikan anak Timor? Selain para guru yang berjuang dengan segala keterbatasan infrastruktur dan mereka yang masih setia dengan predikat ‘guru honorer bergaji rendah.’ Atau perjuangan guru-guru muda dari penjuru Indonesia yang tergabung dalam SM3T. Sementara anak-anak terus bertumbuh dalam keterbatasan gedung sekolah, buku pelajaran, alat tulis, belum lagi pakaian seragam dan sepatu. Belum lagi soal wawasan anak-anak terhadap cita-cita, bagaimana mereka bermimpi tentang masa depan mereka. #KITONG lahir dari kondisi ini. Mereka bukan saja butuh guru, butuh gedung sekolah yang baik lengkap dengan buku-buku pelajaran, mereka juga butuh motivasi. Dari siapa?  Dari kita, #KITONG semua yang mau peduli pada pendidikan di Timor. Jadi, relawan yang dtang dari berbagai profesi diminta untuk berbagi pengalaman profesional mereka. Diharapkan anak-anak akan punya wawasan baru terhadap profesi dan itu akan membantu mereka menyusun mimpi dan cita-cita. Bahwa profesi itu bukan semata guru atau pendeta saja. Tawaran profesi yang beragam bisa jadi akan memberikan motivasi  dan harapan lebih.
Aksi ini membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa sudah saatnya anak-anak muda ikut bergerak, terjun langsung memberikan solusi ketimbang berkoar-koar dari jauh, di media sosial, dari trotoar depan Polda atau depan Unika :p Mau melihat masalah terus atau beralih kepada inti solusi dari setiap keberhasilan kecil yang ada, yang telah dibuat. Supaya keberhasilan itu membesar.  Silakan cek sendiri setiap motivasi yang telah disebar oleh masing-masing relawan yang tergabung dalam aksi #KITONG, Anda akan ketemu bahwa asa atau harapan itu masih ada.  Siap bergerak untuk itu? Saya rasa akan ada banyak aksi sosial lainnya yang bisa kamu ikuti. Kuncinya? Add-lah Facebook para penggerak hebat seperti Danny Wetangterah, Gusti Brewon, Yurgen Nubatonis, atau Sisca Solokana lalu kamu akan berkenalan dengan lingkaran-lingkaran positif di sekitar mereka. Kamu akan ketemu puluhan komunitas anak muda di Kupang yang sudah terbiasa bergerak bersama secara sukarela. Kamu akan ketemu orang-orang dengan energi, semangat dan wawasan yang sama: mereka itu dosen, aktifis, PNS, Guru, Polisi, pekerja NGO, seniman, MC, mahasiswa, fotografer, penulis, dll. Mengapa saya bilang begini? Ya supaya kamu sering keluar dari zona nyamanmu dan lihat bahwa dunia ini luas. Ada banyak persoalan yang menbutuhkan solusi kamu bukan omelan. Atau sederhana saja; kamu akan sangat naif dan egois jika asyik sendiri di media sosial, memaki dan ngedumel hingga abai bahwa di friendlist-mu ada nama-nama orang muda inspiratif dan lingkarannya yang (misalnya) sedang semangat posting informasi aksi keren ini itu dan mengajak orang-orang muda untuk jadi relawan. Padahal kan kamu jomblo dan aku pun. Bagaimana kalau kita.... #eh #apasih. LOL
Surprise bagi saya adalah dalam waktu singkat promos di media sosial, aksi #KITONG bisa menggaet seratusan relawan dari berbagai profesi, ada juga dari luar Kupang, bahkan Bupati Kupang ikut dalam aksi ini. *tepuk tangan* Saya doakan kamu tidak telat sadar untuk aksi sosial seperti ini. Padahal kan kamu jomblo. *digampar*
#KITONG berlangsung secara bersamaan di kecamatan Fatuleu Barat Kabupaten Kupang dan di kelurahan Nunumeu TTS, Sabtu 1 Agustus 2015. Di Fatuleu Barat berlangsung di 6 SD sedangkan di SoE, berlangsung di SLB (terdiri dari tingkatan SD, SMP dan SMA). Saya sendiri memilih ikut ke SOE bersama 23 relawan lainnya, sedangkan relawan yang lain telah bertolak ke Fatuleu Barat. Senang sekali di Nunumeu kami diterima dengan sangat baik oleh pihak SLB dan mama Mia sebagai ibu asrama. Setelah briefing singkat dengan kepala sekolah, semua relawan langsung menyasar ke 6 kelompok yang telah dibagi berdasarkan ketunaanya. Secara bergantian selama 15 menit setiap relawan berbagi inspirasi dengan kelompok siswa. Keceriaan juga kepolosan terpancar nyata dari wajah mereka. Barangkali itulah yang membuat saya melihat kondisi umum seperti tidak ada perbedaan kalau mereka punya kebutuhan khusus. Ada beberapa siswa tunanetra dan terdiagnosis autis. Bisa jadi rasa antusiasme mereka yang begitu menbuncah ditambah lingkungan belajar kondusif yang sudah dibangun  pihak sekolah sehingga semua hal berlangsung manusiawi dan alamiah. Salut pada dedikasi setiap guru-guru di SLB.
Kelompok pertama yang saya kunjungi adalah kelompok tuna wicara. Saya hampir saja speechless dan kehilangan kontrol. Barangkali sedikit bingung, gugup, terpaut emosional (sedikit) jadilah seperti itu. Dibantu dengan kertas dan spidol kami mulai berkomunikasi, juga dibantu Im, teman di Forum SoE Peduli dan guru di SLB Nunumeu. Upaya sharing bertambah seru ketika Joseph Daniel dan Frater Ardy Milik ikut bergabung. Di ruangan yang sama, om Danny Wetangterah juga sedang berbagi inspirasi sebagai fotografer kepada kelompok anak tuna netra.  Nah itu juga butuh usaha luar biasa untuk mengenalkan profesi fotografer kepada mereka yang tidak bisa melihat. Setiap 15 menit para relawan berganti kelompok, hingga jam 10.30, kelas inspirasi di SD dan SMP Luar Biasa berakhir dan sharing masih berlanjut ke kelompok siswa SMA. Ini juga menarik.
Di kelompok SMA, saya melihat proses pembentukannya sudah makin terlihat jelas. Mereka terlihat lebih tenang , mandiri dan sangat berprestasi di bidang olahraga. Di situ saya baru tahu bahwa selama ini SLB Nunumeu banyak sekali mewakili NTT untuk kompetisi olahraga khusus penyandang disabilitas. “Tahun ini saja kami baru mendapat 10 medali emas untuk cabang lari 100 meter dan lompat jauh. Kami sedang bersiap untuk pekan olahraga setara PON khusus untuk penyandang disabilitas,” jelas wakil kepala sekolah SMA Luar Biasa Nunumeu. Hadir di sesi ini, om Danny sebagai inspirator pembuka, disusul om Viktor Haning, seorang dengan disabilitas dan kini anggota DPRD Kota Kupang. Om Viktor banyak sekali bercerita bagaimana motivasi dan tekad yang kuat menjadikan keterbatasan fisik tidak menjadi halangan untuk mewujudkan cita-citanya. Senada dengan om Viktor, ada Yafas Lay yang sudah membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk sukses. Kini beliau sudah menekuni bisnis percetakan sambil terus bergiat di kelompok Persani (persatuan disabilitas kristen), mengupayakan advokasi supaya hak-hak kaum disabilitas bisa terpenuhi. Selain itu hadir juga Sisca Solokana hadir sebagai aktifis peduli disabilitas, kawan-kawan dari Uni Papua, Gerry Pratama yang mampu mengocok telur perut siswa dan para guru dan diakhir sesi, Yahya Waang, berbagi inspirasi dari dirinya yang memulai usaha dari nol, merintis usaha potong rambut di Kupang sambil kuliah. Luar biasa hidup saya hari itu. Seharian penuh dikelilingi orang-orang luar biasa. Terlalu cemen kau Dicky kalau untuk hal kecil saja kau suka mengeluh dan patah semangat, begitu bisik suara hati saya. Jleb!
Ada satu pesan yang diminta om Viktor juga para guru, supaya siapa pun yang kenal dan dekat dengan para anggota DPR Propinsi untuk bisa melihat upaya para siswa selama ini di berbagai kompetisi olahraga. Semoga om Winston Rondo membaca tulisan ini, karena menurut om Viktor Haning, om Winston dkk di DPRD NTT yang membidangi komisi pendidikan. Semoga diperhatikan. Mereka disabilitas dan mengharumkan nama NTT di cabang atletik  itu luar biasa lho.

***
Setelah istirahat makan siang sesi berikutnya adalah mengunjungi mama Mia di asrama SLB SD dan SMP. Perempuan asal Alor yang tangguhnya luar biasa. Hatinya lapang tak terkira. Mengurus lebih dari 30 anak berkebutuhan khusus tingkat SD dan SMP tentu bukan perkara mudah. Dan anak-anak itu bukan datang dari keluarga mampu sehingga kesejahteraan lahir batin bisa terpenuhi baik. Kebanyakan mereka adalah anak-anak keluarga miskin, menitipkan anaknya di asrama dan segala kebutuhan sandang dan pangan kemudian diatur oleh mama Mia dan seorang temannya. “Sedikit sekali bantuan dari pemerintah lewat sekolah. Selebihnya kami bergantung pada kebaikan hati para donatur,” jelas Mama Mia sambil membawa kami masuk ke dalam kamar tidur dengan pintu-pintu almari yang hampir terlepas. “Ini kasur saya alas tambah dengan kardus supaya anak-anak bisa tidur nyaman,” lanjutnya. Ia menunjukkan wajah tegarnya seketika sedangkan beberapa teman relawan tak kuasa menahan banjir airmata. Di dalam ruangan itu ada beberapa teman relawan, Mama Mia dan dua anak perempuan yang tunanetra. Salah satu diantaranya yatim piatu. Ketika acara nonton bareng film Di Timur Matahari berlangsung, om Danny duduk disampingnya dan menjadi relawan pembisik.
Kalau sudah begini apa lagi yang mesti kita lakukan? Para guru dan Mama Mia sangat terbuka, sebab mereka tahu mereka tidak bisa berjalan sendiri. So, maukah kamu ikut berjalan beriringan dengan mereka sebagai teman juga saudara?
Masih ada satu PR aksi #KITONG SLB SoE yang belum tertunaikan: bantu mama Mia bedah asrama. Ada banyak lemari dan tempat tidur yang butuh segera diperbaiki.
Kamu yang jomblo jadi ikut? :p

Liliba, 5 Agustus 2015
"29 tahun saya harus menjadi mama bagi puluhan anak disabilitas di asrama SLB Nunumeu SoE. Dan sepanjang masa itu juga saya harus berlaku adil bagi setiap anak. Mereka cemburu jika satu mendapat dan yang lain tidak. Jika ada bantuan, saya sembunyikan dulu, saya atur matang-matang supaya semua kebagian. Saya tidak mau capek jika ada yang cemburu lalu mogok bicara seharian. (Mama Mia, 49 tahun. 29 tahun jadi ibu asrama di SLB N Nunumeu)."

































Fatumnasi dan Komitmen Generasi Gaul





Seorang teman bertanya kepada saya, berapa waktu tempuh ke Fatumnasi. Teman saya ini akan mengajak karyawan dari tempatnya bekerja untuk outing. Dia bekerja di bagian HRD. Saya lantas berbagi informasi sedikit mengenai kondisi jalan ke Fatumnasi dan waktu tempuh. Diakhir pembicaraan saya bilang, jangan lupa mampir ke rumah Bapa Mateos sang tua adat di sana. Ya sekedar minta izin karena nanti akan masuk ke hutan lindung atau hutan adat. Teman saya kaget. Sedikit keberatan. Kok harus minta izin? Teman-teman saya sudah pernah ke sana bebas-bebas saja, kilahnya. Saya bilang apa susahnya sih cuma mampir 5 menit, memberi tahu maksud dan tujuan, lalu selesai.

Saya jelaskan lagi maksudnya ‘meminta izin’ dan bagaimana nanti akan berkaitan dengan kesadaran sosial dan komitmen kita. Tapi dalam tulisan ini saya mau mencoba menjabarkan lebih jelas. Bapa Anin adalah tua adat di Fatumnasi, generasi kesekian dari klan Fuka – Anin , warga asli Fatumnasi. Bapa Anin pernah berkisah kepada saya, “Nenek moyang kami awalnya bermukim di batu yang disebut Fatumnasi, artinya Batu Tua. Mereka tidur di gua, bergelantungan di pohon seperti kera makan buah dan tai kerbau!” Beliau kemudian menjadi kepala desa Fatumnasi di tahun 70-80an kemudian dipercaya oleh Pemkab TTS untuk mengelola pariwisata di Fatumnasi. Segala informasi tentang Fatumnasi berpusat di kediamannya. Jelas saja di depan rumahnya, ada tulisan "Homestay Lopo Mutis, pusat informasi - tamu harap lapor". Beliau juga salah satu juru kunci Gunung Mutis, gunung tertinggi di Timor yang masuk dalam wilayah Kecamatan Fatumnasi. Itu sebab Bapa Anin punya tanggungjawab terhadap wilayah adat (termasuk hutan, gunung dan mataair) di Fatumnasi. Dengan fakta ini masihkah kita menafikkan keberadaan dan peran penting beliau selama ini?

Atau barangkali saya yang terlalu khawatir dengan Fatumnasi? Tidak juga. Sebagai anak Mollo, saya merasa ikut bertanggungjawab untuk menyebarkan informasi yang tepat. Lalu apa pentingnya minta izin.

1.       Menguntungkan karena kita akan dapat banyak sekali informasi tentang sejarah orang Fatumnasi. Kehidupan mereka dan cara mereka merawat alam. Merawat dan membuatnya lestari adalah tugas kita juga bukan tugas orang Fatumnasi saja. Apa yang dirasakan Bapa Anin dan masyarakat Fatumnasi saat ini adalah usaha tanpa akhir yang sudah dilakukan turun temurun sejak dulu.  Beliau akan membagi kisah secara cuma-cuma dan mengajari kita tentang kearifan lokal. Hanya orang bebal saja yang tidak pedulian dengan hal-hal seperti ini.

2.       Ada pesan penting yang biasanya beliau selipkan. Sebuah harapan kepada para tamu, menghormati dan ikut serta dalam upaya pelestarian alam. Biasanya beliau akan menitipkan beberapa nasehat tentang perilaku kita selama di hutan atau di gunung. Beliau itu orang yang sangat rendah hati dan berwawasan luas. Semua yang mampir ke rumah dianggap anak sendiri. Sangat terbuka.

3.       Sebagaimana tamu yang terhormat, masuk rumah orang kan harus ketuk pintu dulu. Tuan rumah terhormat juga tidak curiga dan mengusir begitu saja. Ada senyuman, jabatan tangan bahkan pelukan hangat lalu mempersilahkan duduk. Tamu yang baik juga tidak asal menyerobot masuk ke dapur , ke kamar tidur, obrak-abrik lemari kan? Apalagi kemudian pulang dengan meninggalkan banyak sampah juga coretan di tembok. Tapi kalau mengetuk pintu dan menjalani proses seperti poin 1 dan 2, biasanya akan pulang bawa banyak kesan. Orang yang telah diberi hormat tidak mungkin akan berlaku bebal dan merusak.  Ia akan cepat sadar untuk menempatkan diri.

Nah sekarang bayangkan orang yang tidak melewati tiga proses di atas. Sudah pasti tidak punya komitmen/ikatan moral apa pun dengan tempat yang ia kunjungi. Dan itu memudahkan dia untuk berlaku seenaknya. Salah satu ya nyampah sembarangan, ya corat-coret bebatuan. Tidak sensitif.

Saya senang akhirnya saran saya diterima si teman (toh pengalaman di atas akan jadi pelajaran berharga karyawannya). Dan saya kira ini tidak berlaku saja di Fatumnasi tapi di semua tempat di muka bumi ini. Kepedulian sosial saat ini memang merosot. Orang-orang terlalu egois dan merasa tidak perlu untuk peduli dengan keberadaan orang lain. Akibatnya? Lihat Fatuleu yang kabarnya mulai kotor dan penuh coretan. Lihat pantai dan public space di kota kita. Orang hanya memikirkan dirinya: misalnya, lapar lalu makan. Sementara sisa makanan yang sudah menjadi sampah bukan lagi urusan dirinya. Bahkan untuk melangkah satu dua ke tempat sampah!

Saya menulis dan berharap ini akan jadi gerakan moral seluruh kaum muda. Yuk, kita sama-sama saling mengingatkan. Kalau kita mau kelak anak cucu kita masih bisa merasakan hal yang sama seperti kita rasakan saat ini: Taman Nostalgia yang bersih, pantai Koepan yang bebas sampah, Fatuleu yang hijau permai atau Fatumnasi yang alami. Semuanya dimanapun.

Supaya kita jadi anak gaul (cieeh) yang peduli dan punya komitmen. Jangan lagi dianggap anak gaul yang tidak boleh dikasih tau tempat indah, karena nanti kita nyampah sembarangan.

Rabu, 29 Juli 2015

Terima Kasih Seribu, #KupangBagarak!


Festival Pakariang baru saja berakhir menyisakan beberapa catatan kritis dan evaluasi untuk perbaikan di event berikutnya. Tapi harus beta apresiasi adalah semangat berjejaring, bersolidaritas dan semangat sukarela dari kawan-kawan muda lintas komunitas dalam event ini. Seratus lebih anak muda yang terlibat secara sukarela demi satu mimpi agar anak-anak bisa merayakan hari anak nasional dengan cara mereka, bukan dengan upacara dan mendengar berbagai ceramah dari orangorang dewasa (ini menurut om @gustibrewon). Para relawan ini mencoba menjadi kawan yang memfasilitasi lebih dr 40an permainan tradisional bagi ratusan anak kupang yang sudah hadir dua hari ini di pantai Lasiana. Apakah gerakan ini berakhir sudah? Festival ini memang harus ditutup tapi terselip salam 'jumpa lagi' utk event berikutnya. Memang dalam banyak kegiatan, 4L (lo lagi lo lagi) masih ada, tapi beta sonde lupa bahwa tiap event yg beta ikuti di kupang 2 tahun terakhir, selalu ada kawan baru, komunitas baru. Di Festival Santarang katumu Lumpen, di FGD deng KPK katumu Lelaki Baru, di Pakariang ini ketemu dengan Kupang Pung Koi. Selalu ada kejutan baru di setiap event anak muda di Kupang. Jadi mari rayakan keniscayaan itu. Yang di Timur harus tunjukan, katong bisa, hoe! Hahaha. Minggu depan akan ada aksi baru #Kitong Fatuleu Barat (kelas inspirasi di 6 sekolah di Fatuleu Barat kerjasama degan kawan-kawan guru SM3T) dan #Kitong SLB SoE (kerjasama dengan Forum SoE Peduli dan Persatuan Disabilitas Indonesia di Kupang). Sebuah upaya kunjungan untuk menyebar inspirasi dan menunjukkan, 'hei kawan lu sonde berjalan sendiri...' . Terima kasih untuk katong semua yang sudah turut serta memperjuangkan geliat-geliat komunitas anak muda di kota Kupang.
Terima kasih seribu #KupangBagarak!

penutupan Festival Pakariang

main congklak

OCD Beach Cafe Lasiana, venue Festival Pakariang

Setelah anak-anak selesai bermain, giliran yang tua-tuan sonde mau kalah. Main kasti!

main bongkar pasang

Lasiana selalu menawarkan sunset super

teman-teman Slankers Kupang dengan aksi Bakawan (babagi buku untuk kawan)

main ban...

relawan yang bertugas di dapur untuk makan siang relawan lainnya

panggung boneka dengan selipan dongeng lokal dan pesan moralnya

booth Bakawan (babagi buku untuk kawan) dari Slankers Kupang

Panggung Festival Pakarian

photobooth dari kawan-kawan Sekolah Musa

dengan salah satu otak dari Kupang Bagarak: om Gusti Brewon

Sekami Paroki Naikoten dengan hadiah ikan koi dr Komunitas Kupang Pung Koi

om Emil Fanggidae sekeluarga di photobooth Sekolah Musa

Noya Letuna, Dio dan Asri di photobooth Sekolah Musa

diapit Nadus, sebutan untuk relawan Kupang Bagarak

menemani kak Yulia di tempat penjualan tiket Festival Pakariang