KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Jumat, 26 Juni 2015

Bangga Jadi Syuradikara


Senang beberapa waktu lalu akhirnya saya bisa bereuni lagi dengan teman-teman seangkatan ketika kami sekolah di SMAK Syuradikara di Ende Flores. Kami angkatan ke-49 dari sekolah yang didirikan oleh Serikat Sabda Allah (SVD) provinsial Ende. Tiga tahun hidup bersama di sekolah dan asrama rasanya sudah cukup membuat kami seperti saudara saja. Momen bertemu disaat semua sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing tentu saja sebuah pengalaman yang mahal, maka kesempatan untuk bercengkrama, main kartu, mengobrol, makan dan 'baku cap' ala anak asrama dulu keluar semua. Seru. Terima kasih Syuradikara yg sudah mempertemukan kami sebagai kawan dan saudara. #BanggaJadiSyuradikara. Copyright foto: Ge Itammati Idea

sudah gemuk-gemuk semua, kecuali saya dan Oa Lamawuran

reuni sekalian merayakan ulang tahun Ransak

Dulu kami sekelas di 1.4: Iin Wunu, Elsa Rea dan Rian Putra

bersama Ransac dan Lan Hokor




Happy Birthday Ransaaak...

Selasa, 23 Juni 2015

Dari Lippo Plaza Sampai Ke Jembatan Liliba: Sebuah Fenomena


Kata teman saya, berbicara 'kekinian' maka ada tiga tempat yang lagi tren di Kota Kupang, khususnya di kalangan anak muda. Lippo Plaza, Gunung Fatuleu dan... Jembatan Liliba! Di Lippo Plaza meski bukan jenis mall yang komplit toh tidak menyurutkan jumlah pengunjung. Anak-anak muda bicara tentang pengalaman uji nyali di Rumah Hantu yang kabarnya sangat tidak menyeramkan. Terserahlah ya yang punya uang mau pergi liat rumah hantu atau sekedar cuci mata di departmen store karena kantong cekak (pengalaman pribadi ko kaka? hehe). Kalau gunung Fatuleu, saya agak sebal dengan banyaknyaorang latah lalu ke sana cuma buat buang sampah dan corat-coret bebatuan di sana. Yang ketiga, Jembatan Liliba ini. Sedih melihat banyak kasus bunuh diri di sini dan pelakunya anak muda. Banyak yang tewas tapi ada juga yang selamat karena tersangkut di dahan pohon. Banyak drama di jembatan ini, putus cinta alasan umum yang saya dengar. Tragis hingga satir.

Jumat, 19 Juni 2015

Biru dan Bayangan Semu


courtessy http://1ms.net
Sudah seharusnya kau tahu diri, Biru. Perjalanan itu memang panjang dan mengasyikan di awal, tentang matahari yang kau tuju dan kau sendiri bayangan yang terus-terus mengekor itu. Kau menempel terus karena rasa ingin tahumu yang besar dan dia hanya menganggapmu bayangan semata. Orang yang kau puja, orang yang terlalu besar dan tinggi (barangkali) sehingga sulit kau jangkau dan ia sendiri enggan untuk turun. Kau melihat kebaikan dan harapan menyala, lalu kemudian kau melihat semua omong kosong itu menyala. Semu.
Suatu pagi kau terbangun dari mimpi dan menyadari kau seharusnya tahu diri.
Seringkali berlaku baik saja tak cukup. Meluaskan segala bentuk perhatian dan respekmu barangkali hanya akan meninggalkan rasa tawar; orang lain akan merasa tergangggu dalam diam. Merasa risih dalam diam. Merutukimu dalam beberapa baris sepi. Lalu melanjutkan perjalanan tanpa menoleh.
Seringkali rasa hormat bisa jadi akan melahirkan seteru dan benci. Siapa sangka. Kau hanya merasa telah menemukan saudaramu yang lain, tapi kau harus tahu diri, Biru. Kau bukan siapa-siapa. Dan kau tak punyak hak kuasa apapun agar orang lain bisa berlaku baik dan adil padamu.
Maka baiklah kau tahu diri sekarang. Berbaliklah dan temukan jalanmu sendiri. Segala niat baikmu tidak serta merta akan melahirkan imbas yang sama padamu. Kau bisa saja menganggap orang lain ada tapi belum tentu orang lain akan melakukan hal sebaliknya padamu. Jika itu hambar, temukan jalan manismu sendiri. Jika itu asing, carilah jalan pulang. 
Pulang dan hapus semuanya. Anggap saja kau baru saja bangun dari mimpi dan tidak ada siapa-siapa yang pernah bermakna di dalam mimpimu. Bahkan dari orang yang pernah kau kira orang baik itu. Ternyata cuma bayangan semu.

Bertemu Umbu dari Humba Ailulu







Malam ini KPK yang belakangan ini jadi markas (sementara) Komunitas Sastra Dusun Flobamora kedatangan tamu spesial jauh dari Sumba: Umbu Nababan. Kami bicara sastra di Sumba dan sharing pengalaman penyelenggaraan festival sastra Santarang yang telah kami selenggarakan beberapa waktu lalu. Bersama Linda Tagie, Abdul Djou dan Romo Amanche. Umbu saya kenal hampir 6 tahun silam ketika kami dipertemukan oleh Maria Pankratia di forum menulis online yang kami rintis bersama Mudaers NTT Menulis. Ada Sandra Frans, kak Ephie Taga, Fransiska Eka, Yoyarib Mau, Abdul Djou, Doddy Nai Botha, Tuteh Pharmantara dan Eddie Djea. Kami sempat menulis beberapa cerpen, puisi bahkan novelet scr kolaboratif dan estafet mengingat kami hampir tidak saling ketemu kecuali di dunia maya. Cerpen yang saya tulis estafet dengan Fransiska Eka misalnya pernah di muat di Jurnal Sastra Santarang. Forum menulis itu menjadi penting sebab kami akhirnya bisa saling mengenal satu sama lain. Media komunikasi yang kami bangun tersebut mampu menjadi ajang kami untuk belajar, berdiskusi dan pada akhirnya bisa saling memotivasi satu sama lain. Hal itu terjadi jauh sebelum saya bertemu orang hebat lainnya seperti Mario F Lawi, Januario Gonzaga atau Amanche Franck OE Ninu di Dusun Flobamora. Kami juga bersama-sama bergiat di Flobamorata, Komunitas Blogger NTT. Umbu yang belajar arsitektur di Bali kemudian kembali ke kampungnya di Sumba dan aktif merintis beberapa komunitas antara lain Gerakan Pemuda Sumba (GPS), aktif menulis dan tentu saja menularkan semangat bersastra ke anak dan remaja di Waingapu Sumba. Bersama Vanny Kadiwanu, Yonathan Hani, Yustina Liarian, Umbu Wulang dkk, dibentuklah sebuah gerakan bernama Humba Ailulu dengan salah satu kegiatannya Galery Humba Ailulu, yakni mengumpulkan berbagai benda seni budaya Sumba dan memamerkannya secara meriah ke kalangan anak muda Sumba. Dalam berbagai usaha, mereka turut memperkenalkan, mengingatkan sekaligus melestarikan berbagai kekayaan Sumba. Beberapa waktu lalu NET pernah membuat profil Humba Ailulu di program Indonesia Bagus. Kini, Umbu dan Diana Timoria, Diakon Christo Ngasi termasuk kak Martha Hebi dkk terus berusaha untuk memperkenalkan sastra dari, oleh dan untuk Sumba. Umbu juga salah satu dibalik festival adat Tiga Gunung di Sumba, sebuah upaya konservasi dan pelestarian ekologi. Kini sedang diupayakan sebuah gagasan bagus bernama Sumba Art Gathering di bulan Agustus nanti (diinisiasi oleh kak Olin Monteiro) Saya berharap bahwa festival seni budaya itu nantinya akan merangkai/menjaring banyak simpul-simpul komunitas seni budaya yang tersebar di seluruh dataran Sumba. Pada Umbu, Vanny, Yonatan, Diana, Yustina, kak Martha, Christo Ngasi, kak Wendah Radja, Elson Sanggar Ossa (musisi lokal yang hebat dari Sumba Tengah), Herlin Mapar, Umbu Wulang, Sandro Dandara dan banyak sekali anak muda Sumba hebat yg saya kenal, saya apresiasi kerja-kerja budaya kalian! Senang setelah 6 tahun akrab di dunia maya akhirnya bisa kopdar dan bicara banyak hal. Tadi sempat juga mampir brsama Umbu dan Linda ketemu kawan-kawan Kupang Bagarak (kak Melly Hadjo, kak Echi Doek dan Sisca Solokana) yang sedang bersiap dengan even Pakariang di bulan Juli nanti. Jadi ingat kata om Danny Wetangterah, kita sebenarnya sedang berusaha mempertemukan simpul-simpul komunitas seni budaya anak muda dan berupaya untuk memperluas jejaringnya. Ada harapan untuk NTT lebih baik.
Romo Amanche koordinator Dusun Flobamora

Umbu Nababan

Rabu, 17 Juni 2015

Gallery Festival Sastra Santarang: Bincang Radio di RRI Pro 2 Kupang




beberapa waktu lalu dalam rangkaian Festival Sastra Santarang di Kupang, saya dan Ishack Sonlay dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora berkesempatan menemani sastrawan Ayu Utami, berbicara di RRI Pro 2 Kupang terkait festival sastra yang kami selenggarakan bersama dengan Komunitas Salihara yang diwakili Ayu. Tentu saja tujuan kerjasama kedua komunitas ini adalah untuk memperkuat jejaring sastra lintas komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Dan terima kasih kepada semua pihak yang sudah turut serta mengupayakan sehingga festival ini bisa terselenggara dengan baik. Terima kasih kepada lebih dari 15 komunitas seni budaya yang tersebar di berbagai daerah di NTT yang sempat hadir dan saling berbagai pengalaman di festival sastra Santarang kemarin. Bahkan yang jauh datang dari Ruteng, Maumere, Ende, Kefa, Atambua hingga Betun. Semoga ada kesempatan berikutnya untuk bertemu, berdiskusi, menyelenggarakan workshop menulis dan mementaskan kesenian apa saja yang kita bisa sebagai bentuk tanggungjawab kita pada tradisi dan kebudayaan kita.
Oya, terima kasih untuk RRI Pro 2 Kupang untuk kesempatan kerjasamanya. Semoga ada kerjasama berikutnya.  Terima kasih karena obrolan kala itu dipancarteruskan oleh RRI Pro 4 Kupang. Sukses untuk kita semua.

salam budaya...

Minggu, 14 Juni 2015

Kelas Menulis Kreatif Anak Pesisir Flores Timur


Salah satu penggalan memori yang masih bisa saya nikmati bersama kak Fanny Jonatans Poyk (sastrawan) dan kak Kristin dari Kantor Bahasa NTT di sela kegiatan menulis kreatif anak pesisir Flores Timur, di kota Larantuka beberapa waktu lalu. Saya selalu nampak sok serius setengah menghayal pikiran kemana-mana. Dasar!
#sastraNTT #AyoNTTMenulis #AnakPesisir #FloresTimur #throwback

Sabtu, 13 Juni 2015

Undangan: Antologi Puisi, Cerpen dan Kritik Sastra Temu II Sastrawan NTT 2015



copyright kupang.tribunnews.com
Salam Salam Sastra, Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur, Badan Pengembangan  dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, akan menerbitkan antologi cerpen, antologi puisi. Dan antologi kritik sastra sastrawan NTT yang direncanakan akan diterbitkan pada bulan September dan akan dilaunchingpada acara “Temu II Sastrawan NTT” pada bulan Oktober mendatang. Oleh karena itu, kami memohon partisipasi dari saudara sastrawan sekalian untuk mau mengirimkan cerpen, puisi, ataupun kritik sastra ke alamat pos-el kami. Syarat dan ketentuan terlampir di bawah ini. Atas perhatian dan kerjasama saudara sastrawan sekalian, kami ucapkan terima kasih.


1.    ANTOLOGI CERPEN SASTRAWAN NTT 2015

Syarat :

1. Tema Lokalitas NTT (bebas)

2. Naskah yang dikirim adalah naskah asli milik penulis sendiri yang belum pernah diterbitkan sebelumnya.

3. Masing-masing penulis dapat mengirim maksimal 5judul cerpen, kemudian kurator akan memilih naskah terbaik yang akan diterbitkan.

4. Naskah diketik ukuran A4, spasi 2 (double spasi), jenis huruf Times New Roman ukuran 12

5. Naskah maksimal 2.000-2.500 kata.

6. Naskah dikirim ke alamat pos-el antologikbntt@gmail.com dengan WAJIB melampirkan pas foto warna dan biodata penulis (riwayat kesastraan penulis).

7. Naskah dikirim melalui pos-el dengan mengetik format subjek “Antologi Sastrawan NTT 2015”.  Contoh ada di bagian akhir lampiran ini..

8. Naskah diterima paling lambat 30 Juni 2015

9. Naskah akan dicetak dan diterbitkan Kantor Bahasa NTT sebagai antologi cerpen sastrawan Nusa Tenggara Timur tahun 2015

10. Naskah yang diterbitkan menjadi buku akan dilaunching pada “Temu II Sastrawan NTT” tahun 2015


2.    ANTOLOGI PUISI SASTRAWAN NTT2015

Syarat :

1. Tema Lokalitas NTT (bebas)

2. Puisi yang dikirim adalah puisi asli milik penulis sendiri yang belum pernah diterbitkan sebelumnya.

3. Masing - masing penulis berhak mengirim puisi minimal 5 dan maksimal 8 judul puisi  dan  akan diseleksi oleh kurator untuk diterbitkan sebanyak 3-4 puisi.

4. Naskah diketik ukuran A4, spasi 2 (double spasi), jenis huruf Times New Roman ukuran 12 5. Naskah dikirim ke alamat pos-el antologikbntt@gmail.com dengan WAJIB melampirkan pas foto warna dan biodata penulis (riwayat kesastraan penulis).

6. Naskah di kirim melalui pos-el dengan mengetik format subjek “Antologi Sastrawan NTT 2015”. Contoh ada di bagian akhir lampiran ini..

7. Naskah diterima paling lambat 30 Juni 2015

8. Naskah akan dicetak dan diterbitkan Kantor Bahasa NTT sebagai antologi cerpen sastrawan Nusa Tenggara Timur tahun 2015

9. Naskah yang diterbitkan menjadi buku akan dilaunching pada “Temu II Sastrawan NTT” tahun 2015


3.    ANTOLOGI KRITIK SASTRA SASTRAWAN NTT 2015


Syarat :

1.    Kritik sastra yang dikirim adalah asli milik penulis sendiri yang belum pernah diterbitkan  sebelumnya.

2.    Masing-masing penulis berhak mengirim kritik sastra minimal 2 dan maksimal 3 kritik sastra dan akan diseleksi oleh kurator untuk diterbitkan sebanyak 1 kritik sastra.

3.    Karya sastra yang diulas dalam kritik sastra adalah karya sastra sastrwan NTT, maupun  sastrawan Nasional, dan bebas memilih puisi, cerpen atau novel.

4.    Naskah diketik ukuran A4, spasi 2 (double spasi), jenis huruf Times New Roman ukuran 12

5.    Naskah maksimal 2.000-2.500 kata.

6.    Naskah dikirim ke alamat pos-el antologikbntt@gmail.com dengan WAJIB melampirkan pas foto warna dan biodata penulis (riwayat kesastraan penulis).

7.    Naskah dikirim melalui pos-el dengan mengetik format subjek “Antologi Sastrawan NTT  2015”. Contoh ada di bagian akhir lampiran ini..

8.    Naskah diterima paling lambat 30 Juni2015

9.    Naskah akan dicetak dan diterbitkan Kantor Bahasa NTT sebagai antologi  kritik sastra sastrawan Nusa Tenggara Timur  tahun 2015

10.    Naskah yang diterbitkan menjadi buku akan dilaunching pada “Temu II Sastrawan NTT” tahun 2015