Kamis, 02 Februari 2012

Indira Fedel, Dari Komunitas Blogger NTT Untuk Flobamora

Akhirnya, akhirnya Novel Indira Fedel karya Kak Tuteh Pharmantara (ketua umum Komunitas Blogger NTT, Kepsek Akademi Berbagi Ende) terbit sudah.
Ikut bangga, sebab saya tahu betul usaha kak Tuteh selama ini untuk memajukan komunitas Blogger di NTT, menyebarkan virus menulis ke semua anak-anak muda di NTT khususnya di Ende. Wah, wah, Ende, kalian beruntung punya orang sehebat kae Tuteh.
Yang berminat beli, silahkan hubungi kak Tuteh via twitter @tuteh, via email: tuteh.pharmantara@gmail.com, via blognya : http://tuteh-pharmantara.blogspot.com/ juga boleh.
Pokoknya jangan lupakan untuk mendukung kemajuan perbukuan independent di NTT, kemajuan penulis muda NTT dengan membeli buku ini. 


Kak Tuteh, ikut bangga padamu kak. *peluk erat* Terima kasih sudah menginspirasi banyak anak muda NTT, terutama anak-anak muda di Flores untuk terus berkarya, berbagi dan berbuat banyak hal positif...
Mohon doanya, komunitas blogger TTS dan Akber SOE bisa terwujud dalam waktu dekaat...


Siap-siap Flobamora...
dalam waktu dekat menyusul buku Kumpulan Cerita-nya Sandra Frans, MudaersNTT asal SOE. Judulnya Hawa. Dan insya allah, Maret 2012, Cerah Hati cetakan ke-2 dilempar ke pasaran lagi..


semangat menulis, bro..
via jalur indie pun tak masalah. sekalian kita bisa belajar manajemen pemasaran, manajemen promosi, dll...
asyik kok..




salam MudaersNTT


@dickysenda

Selasa, 31 Januari 2012

Happy 3rd Unniversary Flobamora Community

Seharusnya kemarin
beta posting foto ini, posting ucapan selamat ini
tapi sonde terlambat
sebab beta selalu respek sama FC
selalu berterima kasih sama komunitas
yang selalu bikin beta semangat menulis
semangat untuk berbagi ide
semangat untuk berkomunitas
semangat ngeblog
memang seharusnya kemarin
tapi hari ini pun tak apa
karena FC selalu di hati hari ini
besok dan selamanya jiwa ini bergelora ingin ditumpahkan ke laptop, ke setiap hati
makasih untuk kak Tuteh, om Bisot, kae Ilham, om Deddy, dll yang sudah mengajak beta waktu itu, 3 tahun lalu, saat FC akan dideklarasikan di Maumere.

sekali lagi selamat yah...
sukses untuk kitong smua...


Taubneno SOE, 1 Februari 2012



Kangen

Kangen suasana seperti ini
kangen bermain
bersukacita bersama mereka
kangen sama Playgroup, Kindergarten dan Pendidikan Dasar Sekolah Alam ANAK PRIMA
Jogjakarta

Senin, 30 Januari 2012

Surat Terbuka Untuk Flobamora Community Yang Berulang Tahun


 #Lomba10HariNgeblog

Dear Flobamora Community…
Salam sejahtera untukmu, untuk hidup katong semua. Puji Tuhan, katong masih diberi semangat untuk bersama-sama memajukan nusa Flobamorata tercinta. Sonde terasa ini sudah tahun ketiga yah. Jika diibaratkan dengan balita, maka katong sama saja sedang berada di periode golden age, masa paling emas dari sejarah perjalanan hidup seorang insan manusia. Ketika miliaran sel otak bertumbuh dengan super cepat, sebagai bekal bagi potensi kognitif, afeksi dan psikomotoriknya di masa-masa hidup selanjutnya.  Namun pada perspektif lainnya, katong juga sedang bertumbuh dan berkembang, sedang belajar berjalan atau berlari kecil meski kadang terjatuh sebab motorik kasar katong belumlah mencapai titil optimal. Sedang belajar untuk ‘bersuara’ meski keseringan masih perlu ‘dikasih tahu’ bagaimana seharusnya diri ini berbicara atau pun bersikap. Bahwasannya katong sudah diberi kemampuan untuk melewati seleksi alam ini, jauh dari sepengetahuan kita, kan? Makanya tak ada yang salah dengan trial and error dalam hidup ini, sebab mencoba berarti mempersilahkan katong untuk mengingat bahwa kemampuan katong bisa lebih dari itu, dan jikapun gagal, katong sudah setingkat lebih maju karena sudah pernah mencoba. Sebab mencoba dan gagal pada akhirnya akan mempersilahkan katong untuk mengingat bahwa kesalahan sebisa mungkin tak boleh diulangi lagi.
Secara pribadi beta senang menjadi bagian dari tubuh Flobamora Community karena kesediaan semua anggota untuk berbagi semangat, menularkan virus-virus positif, entah itu menulis, bikin buku, bikin seabrek kegiatan yang lebih dari untuk berbagi semangat, namun ada di dalamnya berbagi kasih, untuk hidup yang lebih baik lagi. Terima kasih paling spesial untukmu, sebab sudah menjadikan katong bagian dari generasi muda NTT yang selangkah lebih maju dalam cara berpikir ataupun bersikap. Harus beta akui itu.
Menulis ini, beta jadi ingat peristiwa tiga tahun lebih sebelum dirimu dilahirkan (sebab dirimu lahir bahkan diluar peridiksi). Boleh dibilang peristiwa ini terjadi pada saat dirimu sedang dikandung.
 
Dari: tooty pharmantarta
Topik: Bls: Tanya lagi...
Kepada: send4_dicky@yahoo.co.id
Tanggal: Kamis, 4 Desember, 2008, 2:47 PM

Pokoknya keep in touch yah :)
thx udah mo sama2 majuin flobamora community. kk sekarang nyari responden dari kabupaten2 laen di NTT... dan masih nyari yang mo ngasih kata sambutan pembuka waktu launching resmi nanti... usul kk sih bertepatan dengan ultah NTT tanggal 20 desember 2008 getuh. kita liat perkembangannya beberapa hari ke depan yaaa hehehee...

salam,
tuteh(founder sekaligus admin flobamora community)

***

Waktu itu beta juga yang paling semangat mendukung karena merasa visi dan misi kita sejalan. Bahkan saking semangatnya sempat dua kali dikirimin pulsa sebagai bonus karena paling sering ‘berceloteh’ di rumahmu. Beta memang paling cerewet kalau sudah berada di zona yang sama dengan dirimu, karena nyambung saja. Katong sama-sama tahu apa yang harusnya katong lakukan. Malah keseringan, kamu yang sering bikin surprise atas kesenangan-kesenangan katong. Yihaaa…

Dear Flobamora Community,
Selamat ulang tahun yah. Pengen rasanya kirim kue bendera untukmu. Kue itu khas buatan mamatua di rumah dan memang ada hanya saat momen ulang tahun saja. Rasanya legit manis sebab harapannya hidup ini demikian. Berlapis-lapis warnanya, biar usia dan rejeki kita berwarna dan terus-terus bertambah lapisnya. Ada atau tak ada kuenya, beta rasa doanya sudah jauh lebih penting untuk dihadirkan dari hati beta yang terdalam, hanya untukmu, untuk keberlangsungan katong, kekuatan anak-anak muda NTT.
Berbicara kekuatan katong sebagai generasi muda NTT, beta selalu percaya kalau itu ada dan terjadi hanya karena ‘community’ sebagai identitas resmi kita.  Kekuatan katong  adalah berada bersama, bekerja bersama, berbagi bersama  dan bermimpi bersama, menguatkan tulang dan jiwa katong. Sonde ada yang mustahil jika katong lakukan bersama-sama. Bukan lagi namanya community jika misalnya sekarang katong hanya bekerja dan bermimpi sendiri-sendiri, tak mau berbagi ide dan solusi apalagi inginnya merasa hebat sendiri. Tapi beta jauh lebih yakin, bahwa sikap-sikap tadi bukanlah ciri anak-anak Flobamora Community. Beta rasa katong bisa kroscek lagi ke hati kecil masing-masing. Kalo ada yang jawabannya beda, silahkan angkat tangan he-he he…Tapi kalau tentang tren penggunaan internet di kalangan anak muda NTT, semua tentunya sesuara, karena toh itu sudah ikut andil menguatkan keberadaan, kebersamaan, niat berbagi dan mimpi katong dalam dunia yang tak berbatas.

Survey beberapa lembaga internasiol di akhir tahun 2011 seolah serempak memberikan jawabannya terkait tren penggunaan internet di Indonesia yang diprediksikan meningkat 13 juta pertahun hingga kini diperkirakan sudah lebih dari 55 juta pengguna, dengan persentase pengguna terbesarnya datang dari kalangan orang muda antara 15-49 tahun (Nielsen, 2011 dan MarkPlus Insight, 2011). Memang sih belum ada data pasti tentang penggunaan internet di NTT (kalau ada plis beta dikasih tahu yah?)
Apapun itu, kalau internet sudah menawarkan sejuta kemudahan untuk mewujudkan ‘kekuatan’ kita, trus kenapa diam saja? Ayo bergerak.
Dear Flobamora Community
Beberapa mingu lalu beta sempat mengirimkan beberapa ide yang tiba-tiba saja terpikirkan ketika sedang mengobrol dengan anggota FC lainnya, kak Tuteh Pharmantara dan Sandra Olivia Frans. Kebetulan kami sama-sama sedang berproses untuk menerbitkan buku. Beta dengan buku kumpulan puisi yang akan cetak ulang, Sandra dengan buku kumcernya Hawa, dan kak Tuteh dengan novel Indira Fedel. Kebetulan lain, karya kami sama dirilis via jalur indie dengan penerbit yang sama. Jelas buku ini tendensinya bukan untuk ajang latah atau pamer-pameran. Beta selalu percaya jika semua yang dimulai dengan semangat dan niat yang baik, didukung dengan usaha untuk membuat yang terbaik, pastilah bisa. Kak Tuteh jelas lebih punya segudang pengalaman untuk itu. Ketika di Jogja, saya berkenalan dengan banyak teman muda yang memulai debutnya dari karya independent bagi sebagai penulis maupun sebagai publisher.
Beta, Sandra dan Kak Tuteh sepakat bahwa kalau serius dan ditekuni, bisalah hasilnya kita pertanggungjawabkan. Apalagi untuk memulai proses ini, kami tak sendirian. Ada orang-orang sekeliling, anak-anak muda NTT juga yang berpotensi dalam mendukung terbitnya buku kami. Misalnya, Beta dan Sandra yang memakai desainer cover buku dari MudaersNTT sendiri. Katong bisa, bukan semata karena kemampuan diri sendiri. Ada begitu banyak pihak yang turut menyukseskan hidup kita. Pegang itu, sebab artinya nama kita masih flobamora ‘community’.
Dalam surat yang beta khusus kirim untuk Sandra dan Kak Tuteh (meski akhirnya harus beta share disini, karena penting juga buat semua MudaersNTT).

***

Soe, 18 Januari 2012
Dear Sandra dan kak Tuteh
Sandra dan kak Tuteh, ini sekedar berbagi pengalaman saja, soal strategi pemasaran buku. Kebetulan beta punya pengalaman kecil ketika menerbitkan buku kumpulan puisi Cerah Hati (terbitan IBC Jogjakarta). Sekedar berbagi saja karena pengalaman ini juga beta dapatkan dari teman-teman muda di Jogja ketika menerbitkan buku-buku mereka.
Katong sebagai penulis pemula sebenarnya sudah diuntungkan dengan majunya teknologi printing, sehingga ‘semua orang bisa menerbitkan buku’, tentunya dengan alasan yang logis, bahwa dia mampu menulis, karya-karyanya bagus, digarap dengan maksimal meskipun melibatkan editor dan desainer pemula dan independen tapi punya dedikasi yang benar sehingga kualitasnya pun bisalah dipertanggungjawabkan Itulah yang sedang kita gagas sekaligus jalani sekarang ini.
Untuk mewujudkan semua, salah satu pendukungnya adalah strategi pemasarannya. Ini penting sebab kita menempuh jalur indie, plus kita sendiri adalah orang pemula. Tak masalah. Beruntung, selain kemajuan teknologi printing tadi, kita masih juga ditolong sama majunya teknologi komunikasi, utamanya internet dengan jejaring sosialnya, seperti blog, facebook dan twitter. Tiga perangkat yang sangat sangat membantu kita penulis pemula untuk memperkenalkan buku kita. Membantu mempromosikan secara gratis. Ya kan? Tentunya ada teman dan saudara kita, orang-orang paling loyal dalam hidup kita.
Maka itulah yang sudah beta lakukan ketika secara indie juga (dibantu beberapa teman, dibantu kalian semua) mempromosikan CH. Yang beta bikin saat itu antara lain,
Pertama, mulailah berpromosi dengan melibatkan teman dekat dan keluarga. Jadikan mereka pembeli pertama. Dulu sasaran saya mencetak CH salah satunya bahwa tak masalah cetak sedikit, karena sasaran saya jelas: teman-teman kampus, teman menulis, teman-teman di komunitas, saudara. Sudah itu saja. Tak muluk-muluk. Kalau nanti melebar masuk ke manajemen Gramedia atau Toga Mas, itu bonus dari Tuhan. Tapi bahwa sasaran kita jelas, dari kalangan teman dan keluarga. Itu harus.
Kedua, pastikan bahwa mereka dari lingkaran dekat kita itu sudah beli, minta mereka untuk memposting foto mereka yang sedang memegang buku kita, lantas foto itu bisa diposting ke blog, ke facebook, ke twitter. Strategi jenis ini menurut saya sudah terbukti sangat ampuh dalam membentuk ‘imej’ sekaligus menarik perhatian orang (diluar lingkaran teman dekat dna keluarga) untuk membelinya. Makanya share foto-foto itu, tag ke siapa-siapa saja yang kita yakini akan tertarik dengan apa yang kita lakukan sekalipun mereka mungkin tak suka genre buku kita (apalgi punya saya dulu, buku puisi. Itu sangat segmented). Tapi biasanya mereka akan merespon, kalau gak beli sekalipun paling gak kita sudah meninggalkan kesan positif di benak mereka, bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang positif, tidak main-main. Biasanya dengan itu, respek mereka dengan sendirinya akan muncul.
Ketiga, minta orang-orang dekat meriview atau paling gak berkomentar. Ini bisa diawal ketika buku masih dalam tahap sudah ‘final editing’ namun masih dalam bentuk naskah pra cetak (berformat PDF), kita bisa mengirimkannya ke orang-orang dekat atau mereka yang ‘punya nama dan kompetensi’, jika ada. Hasilnya dimuat sebagai endorsement. Pilihan kedua, setelah buku dirilis. Komentarnya nanti bisa kita munculkan di facebook dan blog, sebagai bahan promo, juga bahan ‘propoganda’ dalam maknA positif untuk membentuk imej DAN menarik keinginan orang untuk membeli.
Keempat, bikin acara ‘mini launching’ dengan teman dekat dan teman komunitas.
Tak usah bayangkan ini launching ala penulis besar. Ketika saya di Jogja, acara ‘mini launching’ ini saya gelar bersama teman-teman kursus di pusat Bahasa UGM. Teman sekelas saja, kira-kira ber-10. Tak ada acara special sebab niat awal kami hanya mau makan malam di sebuah warung lesehan, kita ngobrol, cerita ngalor ngidul, cuma 20% membahas buku saya(ditodong baca 2 buah puisi), sisanya membicarakan banyak hal. Tapi waktu itu mereka mendukung sekali, semuanya beli buku saya. Kebetulan semuanya suka foto (karena keturunannya Narcissus), maka ada sesi foto-foto sambil memegang buku saya. Karena itu pula buku saya jadi muncul di setiap foto imbasnya muncul juga di FB dan blog saya  juga teman-teman saya he he he. Jadi intinya, disaat keseringan kita ngumpul/nongkrong bareng, disitulah kita bisa sekalian nebeng promo, lewat foto-foto narsis bersama. Mudah dan gratis kan?
Kalaupun nanti dalam perjalanan ketemu orang-orang yang ahli yang mau membantu membedah atau mendiskusikan ini buku kita, why not? Bonus lagi dari Tuhan.
Kelima, sering-sering berpromosi lewat status FB, lewat ‘curhatan’ kita di blog, via twitter. Sering kirim foto-foto buku kita dalam berbagai versi background. Sering-sering posting NUKILAN isi buku kita di dinding facebook atau kicauan twitter. Jangan lupa sertakan info buku, penerbit apa, ISBN, tebal, harga jual, ongkos kirim, hotline pemesanan, desain cover siapa, pake foto karya siapa. Kan, bangga juga kalau semua SDM pendukung buku kita adalah teman-teman kita sendiri, orang-orang muda.
Keenam, beta akan selalu siap sedia untuk menjadi tim promotor HAWA. Dengan senang hati. Bukan untuk apa-apa. Cuma sesuai saja sama misi beta selama ini, visi-misi komunitas MudaersNTT  Menulis, bahwa katong anak muda haruslah bikin hal-hal positif meski kecil, yang ada di sekitar kita. Apalagi teknologi sekarang sudah sangat-sangat memudahkan kita. Trus kenapa diam sa? Berbuat sesuatu sebisa katong, jangan hanya menunggu dan menonton saja hehehe. Menerbitkan buku seperti ini, salah satunya juga untuk MEMBAGI semangat kepada sesama teman kan? Inti dari semangat berbagi di Akber, berbagai bikin happy, terkandung juga kan?
Ide-ide ini yang selalu bernyala-nyala dalam pikiran beta, pengen bersama teman-teman Mudaers NTT menulis dan teman blogger di Flobamora Community, mewujudkan mimpi-mimpi seperti ini. Dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya sekarang beta sudah mulai berkolaborasi dengan Marsie, Doddy dan Gerald untuk menggarap cover Cerah Hati cetakan ke-2. Ikut senang juga bahwa cover Hawa digarap Yosua, Mudaers dari SOE juga. Jadi tugas katong semua memang itu juga. Bersama-sama memajukan potensi bersama. Saling mendukunglah. Semoga kedepannya semakin banyak dari kita menerbitkan buku. Bukan untuk gagah-gagahan tentunya, bahwa karena beta yakin kita BISA, kita punya POTENSI, trus kenapa malu dan takut bikin buku? Pengen juga bikin komunitas sejenis ini di SOE (sudah pernah dibicarakan dengan Sandra), seperti semangat teman-teman di Ende. Pengen ada Akademi Berbagi ‘cabang’ SOE juga. Smoga dalam waktu dekat bisa terwujud, yah San? Teman-teman yang bisa diajak untuk berbagi satu dengan yang lain, mendukung satu sama lain.
Siap juga bantu promosiin bukunya kk Tuteh.
*menulis ini sambil diiringi One And Only-nya Adele. Saya sedang jatuh hati sama penyanyi ini…*
Salam MudaersNTT..salam Flobamorata…

Di luar, SOE sedang galau, penuh bilur rintik dan sayapsayap kabut. Maaf kalau isi surat ini tidak terkesan ‘Galau’ di benak kalian yah? Hehehehe

 (Christian Dicky Senda)

***

Pada akhirnya beta harus mengakui ini. Beta bangga dengan kerja keras katong semua selama 3 tahun belakangan ini. Tapi kedua jempol harus beta angkat khususnya buat teman-teman blogger di Ende, yang selama ini paling berjasa untuk membuat FC ini terus bedenyut, tertus terpompa jatungnya, terus kembang kempis paru-parunya. Kalian yang selalu menularkan semangat dan ‘kekuatan’ bagi kami lainnya yang keberadaanya masih terpencar-pencar. Karena itu juga, beta dan Sandra sekarang ini sedang berproses untuk menggaet Mudaers lainnya di kota kecil SOE. Semoga.

Selamat ulang tahun. Teruslah sepakat untuk memperjuangkan komunitas blogger NTT, menjadikan anak-anak muda NTT Berjaya di rumah sendiri. Berdaya di kampung sendiri. Sebab hanya karena kitalah, NTT kedepan akan menjadi lebih baik…

Salam FLOBAMORATA
(mohon maaf bila ada kata-kata diatas yang kurang berkenan di hati pembaca. Jika ada, mohon saya dikoreksi juga dimaafkan).

Sahabatmu,
Christian DiCKY Senda
(beta: saya, katong: kita, sonde: tidak)

Minggu, 29 Januari 2012

Lelokasen, 20 Januari...




Eksis di perjalanan


Dipimpin bapatua yang masih bugar di usia 72

Giovanni 'peserta' termuda :)

 

Kamis 19 Januari 2012, om terkasih saya meninggal dunia. Bersama bapatua, mamatua, ipar, ponakan dan kakak saya, kami pergi ke rumah duka, kira-kira 5 km dari rumah saya di Kapan, tepatnya di kampung Lelokasen. Hanya dengan berjalan kaki saja kami pergi. Berikut ini foto-fotonya yang sempat saya abadikan dari datangnya kami hingga esoknya saat prosesi penguburan jenazah. Unik memang mengikuti tradisi upacara kematian di kalangan suku Dawan Timor. Meski sudah menganut agama Kristen dan kita sudah berada di abad secanggih ini, tapi tetap ada laku tertentu/ ritual adat yang masih setia dijalani, kearifal lokal yang lestari. Misalnya, tradisi mkae atau ratap tangis yang masih dilakukan  para wanita di sekitar jenazah dan akan menangis dan terus menangis setiap ada tamu yang datang melayat. Jangan kaget, sebab itu tradisinya. Mereka akan berganti-gantian duduk di sekitar jenazah, dan terus ‘menggugah’ siapapun yang datang melayat untuk ikut larut dalam kesedihan. Tradisi ini sempat ditulis om Dion DB Putra di blognya DISINI .
Ada juga tradisi lainnya, misalnya peti yang ditutup kain tenun ikat Timor, peti yang ditutup dan dipaku seorang atoin amaf, (atoin amaf itu saudara laki-laki dari ibu) dan tradisi dimana anak dan istri yang ditinggal diminta untuk  menyebrang/melewati kolong peti sebelum peti diarak ke liang lahat (supaya apa? Entah, saya juga belum dapatkan makna pastinya…). Selanjutnya, anak dan istri almarhum tidak di perbolehkan untuk menghantar jenazah ke pekuburan. Mereka hanya boleh keluar hingga depan pintu rumah saja.
Karena lokasi pekuburan yang jauh dari rumah, maka peti jenazah ditandu (menggunakan dua batang bambu)  oleh para pemuda kampung Lelokasen, sambil berjalan super cepaaat.


Selamat jalan, Jusuf Kamlasi...






membawa hantaran berupa beras, kopi, gula parsir, dll


  









 






                           
            

 
                                                      
Siap-siap ditandu

                          
Dihantar warga Lelokasen



 


 




Melewati kebun singkong

Tiba di lokasi pemakaman

Dilepaskan dari tandu

Peti jenazah diturunkan ke liang

Puji-pujian terakhir


Tabur bunga

        


rampe: daun pandan dan aneka bunga

makan siring pinang

ikutan makan sirih pinang
Gotong royong

Pulang
Link Terkait: SEBAB JALAN KE FATUBIAN JAUH

Taubneno SOE, Januari 2012
#Lomba10HariNgeblog Komunitas Blogger NTT

Sabtu, 28 Januari 2012

Yuk, Berbudaya di Jalanan


Minggu 22 Desember 2012, menjadi hari penting bagi alam sadar kita masyarakat Indonesia bahwa beraktivitas sebagai pejalan kaki di negeri ini begitu besar resikonya. Ngeri membayangkan bagi saya (yang kemana-mana keseringan berjalan kaki, selain naik angkutan umum, sebab saya belum punya motor) berada di tempat kejadian dan melihat langsung, sebab menonton tayangannya saja di TV bikin saya miris.
Saya ingat betul, pernah menetap 6 tahun di kota Jogja sebagai anak kos yang keseringan berjalan kaki, sebab pikir saya, itu menyehatkan jantung saya (selain upaya menghibur diri sebab saya tak punya uang untuk mengkredit sebuah motor he-he). Kenyataanya kota Jogja itu kecil, sehingga mudah bagi saya untuk mengakses ke kampus, ke mall, ke gereja, ke mana saja, yah enaknya memang jalan kaki. Teman-teman saya sampai heran, kok bisa yah? Keciiil, jawab saya. Beruntung karena saya terlahir sebagai bolang, di kota kecamatan kecil di Mollo yang terbiasa kemana-mana yah dengan berjalan kaki. Saat tinggal di Ende, saya terbiasa mondar mandir rute asrama Syuradikara di Jalan Wirajaya menuju rumah om saya di jalan Sam Ratulangi dekat LP Ende. Belum lagi rute asrama pertokoan di jalan Kelimutu, keciiil. (#eeh anak gaul Pasar Senggol, yah? Ckckck).

Tak ada ruginya kan? 

Kalau nonton film, saya selalu terpukau dengan kebiasaan orang-orang di Tokyo atau Manhattan, misalnya, yang sibuk, salah satunya bersibuk ria di jalanan. Ketika lampu merah menyala, ratusan manusia menyemut sekedar untuk menyebrang. Sebagai penotnon rasanya wooowww! Bayangkan bahwa di Negara maju saja, aktivitas jalan kaki masih menjadi pilihan sadar yang penting bagi mereka. Semacam sudah membudaya. Toh menyehatkan kan? 

Untungnya, penyelenggara pemerintahan mereka begitu paham untuk memfasilitasi ‘budaya jalan kaki’ warganya. Area pedestrian dibikin mulus dan lebar (juga bersih), semulus, selebar  dan sebersih jalanan untuk kendaraan umum/pribadi. Namun pada kondisi yang bertolak belakang, mungkin ini kondisinya sebagian besar masyarakat kita. Sebab hanya di Indonesia, trotoar dipakai sebagai lahan parkir, buat jalan pintas para pengendara sepeda motor dikala macet, buat jualan pedagang kaki lima, buat macam-macam (seolah) yang penting bukan buat para pejalan kaki. 

Kejadian tragis Minggu siang di halte Tugu Tani Jakarta, mungkin hanyalah satu diantara seribu potret buram yang didalamnya tergambar ketidakadilan yang dialami oleh para pejalan kaki. 

***

Saya masih ingat betul, dua hari saja sebelum tragedy Xenia menabrak sejumlah pejalan kaki di Jakarta, saya masih memantau dan ikutan berkomentar di sebuah ‘kicauan’ novelis Ayu Utami di akun twitternya @BilanganFu. Ayu berkiau, ‘Siapakah musuh utama pejalan kaki? @JalanKaki’ dan ‘Siapakah sahabat utama pejalan kaki? @JalanKaki’

FYI, @JalanKaki adalah akun twitter dari sebuah komunitas masyarakat pejalan kaki di kota Jakarta.
Di blog @JalanKaki http://jalankakijakarta.wordpress.com mereka mendeskripsikan komunitas mereka sebagai sebuah usaha kecil bersama untuk semakin mengenal kota Jakarta dan menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih menyenangkan. Menarik yah.

Dari kicauan Ayu itu, banyak sekali komentarnya terkait musuh dan sahabat pejalan kaki, namun anehnya tak ada satupun (termasuk saya) yang berkomentar bahwa musuh pejalan kaki itu ternyata adalah ‘narkoba atau pengguna narkoba’ dan ‘mobil yang kejam’. Yah, sebab kejadian Minggu Tragis di Tugu Tani, akhirnya membuka mata kita, bahwa musuh pejalan kaki ternyata juga sopir mabuk yang bikin mobil yang dikendarainya jadi kejam sama pejalan kaki.


Ah, entah sampai kapan kita harus terus-terusan menaruh harap buat para penyelenggara pemerintahan kita, dan tak lupa juga untuk menaruh harap pada kesadaran kita masing-masing yang separuh hidup kita ada di jalanan (#eh bukan sebagai anak jalanan yah? Lol. Maksudnya yang  terbiasa beraktivitas rumah-kantor/sekolah/kampus pp). Kalau soal keselamatan kita dan orang lain di jalan, itu semata karena kunci yang kita pakai adalah kehati-hatian, kedisiplinan, tanggungjawab dan saling menghargai sesama pengguna jalan. Kembali lagi ke budaya sebagaimana budaya kaum urban dibawah beton kota Tokyo atau new York. Budaya kita sebagai pejalanan kaki sekaligus pengendara kendaraan bermotor. Silahkan tanya ke hati kecil kita, ‘sudahkah saya hati-hati, disiplin, santun dan menghargai orang lain di jalanan?’
Tak bagus juga kalau kita saja yang berteriak-teriak kalau pemerintah tak becus bikin jalan atau pedestrian bagus, dan disaat yang sama kita malah gak becus berkendara.

Mungkin kita juga perlu menonton tindakan yang terbilang ‘nekad’ dari seorang ibu pejalan kaki di Ibu Kota berikut. Nekad sekaligus mulia. Jadi ingat kampanye save our pedestrian yang dulu digalakan chanel music VH1 (entah sekarang gimana, karena lama sudah tidak lagi nonton VH1). 
video diembed dari youtube.com 

Salam jalan kaki…

(Taubneno Soe, 28 Januari 2012)
#Lomba10HariNgeblog komunitas Blogger NTT

Jumat, 27 Januari 2012

Bersama Wajah-Wajah Malaikat


#Lomba10HariNgeblog

Untuk hidup jiwa semestinya bermegah bersama harumnya mawar
Dalam kasihNya yang tak berbatas apalagi tawar
Untuk jiwa hidup semestinya menyegarkan bagai air pegunungan
Dalam berlapis-lapis cintaNya yang mengalir dari hati ke hati
Senyum ke mata ke telinga ke kulit ke jiwa ke kepala kembali ke senyum
Kepada kepolosan yang kerap dirajut anak-anak kekasih Tuhan
Kepolosan yang bermakna: Ia agung lagi mulia
Maka kecuplah cintaNya
Lewat keceriaan wajah-wajah malaikat ini


-Taubneno-Soe, Januari 2011-


Gambar diatas diambil saat acara Natal bersama serikat kerasulan anak missioner Indonesi (Sekami)
Paroki Santa Maria Immaculata Kapan. Mereka, masa depan Gereja, masa depan Bangsa, masa depan bumi yang lebih damai. 
Benar kata @AkberEnde, berbagi itu bikin happy, semoga secepatnya Akademi Berbagi SoE diproklamirkan…amiin

Kamis, 26 Januari 2012

Sejenak Mengintip Keunikan Kota SoE


 #Lomba10HariNgeblog

 Tanggal 21 Januari 2012, saya berkesempatan mengelilingi kota Soe, dengan kamera digital kecil saya, sekedar memotret kota yang kini jadi tempat bermukim saya.

Soe, kota kecil di pulau Timor dan juga merupakan ibu kota dari Kabupaten TTS, dengan jumlah penduduknya, 38.615 (BPS 2009 dalam www.ttskab.go.id).

Pada 1920, Kota Soe ditetapkan menjadi ibukota Zuid Midden Timor atas kesepakatan bersama dari ketiga raja yang berkuasa di sana. Ketiga raja itu antara lain Raja Lay Akun Oematan (Kerajaan Molo), Raja Pae Nope (Kerajaan Amanuban), dan Raja Kolo Banunaek (Kerajaan Amanatun).

 

Koin-koin kuno Bpk. Markus Banunaek



Motif ikat Amanuban

 
Motif ikat Amanatun



 


Gereja Efata SOE

Nama kota SoE sendiri sudah mulai dikenal pada tahun ±1905/1906 oleh pemerintah Hindia Belanda. Dengan suku yang beragam, tak hanya orang Dawan, ada juga pendatang seperti orang Sabu, Rote, Flores, dan Jawa namun yang paling signifikan sekarang ini (menurut saya yah)  adalah makin banyak orang Bugis yang menetap di kota Soe, dengan usaha toko kelontong di segala sudut kota, dari yang kecil-kecilan sampai yang paling besar ada di kota Soe. Mereka yang kini mulai mendominasi perekonomian SoE selain warga keturunan Tionghoa yang sudah lebih duluan aktif berdagang di Soe. Itulah Soe, kota kecil di ketinggian 1000 mdpl, yang kini makin beragam saja. 


Interior Mater Dolorosa
Sulat Knino, Alkitab versi Bahasa Dawan





Gereja tertua di kota SOE, Maranatha

Masjid Al Ikhlas, Masjid terbesar di kota SOE

Mater dolorosa SOE


Menuju pasar lama/ kompleks pertokoan/ kawasan 'Pecinan' SOE

Alun-alun kota atau dikenal sebagai lapangan PUSPENMAS




Mama Taneo dan jualannya
Mama Taneo yang sehari-hari berjualan kain tenun ikat khas dari berbagai wilayah di Kab TTS. Yang berminat membeli bisa datang langsung ke pasar Inpres Soe, jalan Hayam Wuruk Kelurahan Taubneno, persis di pojok kiri pasar/depan kantor Pegadaian. No HP mama Taneo yang bisa dihubungi 082144939911.
Motif Kadal/Tokek yang menjadi ciri tenun ikat Timor. Bermakna 'kesakralan'
Selain Kain tenun ikat, ada juga tempat sirih-pinang, tas dan dompet yang dianyam daunlontar dan dilapisi muti berwarna-warni. Ada juga mahkota dari perak, tudung anyaman lontar yang berfungsi untuk menutup hantaran saat upacara meminang, dsb.

berbagai motif kain tenun TTS



Lapak kain ikat milik Bpk. Banunaek

kayak motif Macaaan yah? he he he



Selain mama Taneo, ada juga Bapak Markus Banunaek yang sehari-hari juga berjualan di Pasar Inpres SOE. Uniknya Bapak Markus juga menjual berbagai koin kuno bergambar Ratu Wilhelmina dari Belanda hingga logam sen rupiah bergambar pangeran Diponegoro.

Monumen El Tari
Monumen El Tari, terletak di halaman kantor Bupati TTS. Terkenal dengan moto ‘tanam, tanam sekali lagi tanam’. Monumen ini diresmikan pada tanggal 21 September 1978.
Hutan Air Besi

Ada dua hutan kota yang sangat lebat, menyediakan oksigen yang berlimpah, sekaligus air bersih yang berlimpah bagi warga kota Soe, yakni hutan Air Besi dekat kampung Sabu dan hutan Oenasi di kelurahan Taubneno.
Pertama dan satu-satunya di kota SOE

Toko buku Sinar Putain, toko buku pertama, tertua dan (mungkin) satu-satunya di kota Soe. Tempat saya dulu membeli majalah Bobo.
Hutan Kota Air Besi

Koin 'Pangeran Diponegoro'


Selengkapnya tentang Soe dan Kabupaten TTS pada umumnya, bisa mampir situs resmi pemkab TTS di www.ttskab.go.id


Salam nakaf mese ansaof mese1



1sehati, sepemikiran (bhs. Dawan-Timor)