KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Rabu, 29 Juli 2015

Terima Kasih Seribu, #KupangBagarak!


Festival Pakariang baru saja berakhir menyisakan beberapa catatan kritis dan evaluasi untuk perbaikan di event berikutnya. Tapi harus beta apresiasi adalah semangat berjejaring, bersolidaritas dan semangat sukarela dari kawan-kawan muda lintas komunitas dalam event ini. Seratus lebih anak muda yang terlibat secara sukarela demi satu mimpi agar anak-anak bisa merayakan hari anak nasional dengan cara mereka, bukan dengan upacara dan mendengar berbagai ceramah dari orangorang dewasa (ini menurut om @gustibrewon). Para relawan ini mencoba menjadi kawan yang memfasilitasi lebih dr 40an permainan tradisional bagi ratusan anak kupang yang sudah hadir dua hari ini di pantai Lasiana. Apakah gerakan ini berakhir sudah? Festival ini memang harus ditutup tapi terselip salam 'jumpa lagi' utk event berikutnya. Memang dalam banyak kegiatan, 4L (lo lagi lo lagi) masih ada, tapi beta sonde lupa bahwa tiap event yg beta ikuti di kupang 2 tahun terakhir, selalu ada kawan baru, komunitas baru. Di Festival Santarang katumu Lumpen, di FGD deng KPK katumu Lelaki Baru, di Pakariang ini ketemu dengan Kupang Pung Koi. Selalu ada kejutan baru di setiap event anak muda di Kupang. Jadi mari rayakan keniscayaan itu. Yang di Timur harus tunjukan, katong bisa, hoe! Hahaha. Minggu depan akan ada aksi baru #Kitong Fatuleu Barat (kelas inspirasi di 6 sekolah di Fatuleu Barat kerjasama degan kawan-kawan guru SM3T) dan #Kitong SLB SoE (kerjasama dengan Forum SoE Peduli dan Persatuan Disabilitas Indonesia di Kupang). Sebuah upaya kunjungan untuk menyebar inspirasi dan menunjukkan, 'hei kawan lu sonde berjalan sendiri...' . Terima kasih untuk katong semua yang sudah turut serta memperjuangkan geliat-geliat komunitas anak muda di kota Kupang.
Terima kasih seribu #KupangBagarak!

penutupan Festival Pakariang

main congklak

OCD Beach Cafe Lasiana, venue Festival Pakariang

Setelah anak-anak selesai bermain, giliran yang tua-tuan sonde mau kalah. Main kasti!

main bongkar pasang

Lasiana selalu menawarkan sunset super

teman-teman Slankers Kupang dengan aksi Bakawan (babagi buku untuk kawan)

main ban...

relawan yang bertugas di dapur untuk makan siang relawan lainnya

panggung boneka dengan selipan dongeng lokal dan pesan moralnya

booth Bakawan (babagi buku untuk kawan) dari Slankers Kupang

Panggung Festival Pakarian

photobooth dari kawan-kawan Sekolah Musa

dengan salah satu otak dari Kupang Bagarak: om Gusti Brewon

Sekami Paroki Naikoten dengan hadiah ikan koi dr Komunitas Kupang Pung Koi

om Emil Fanggidae sekeluarga di photobooth Sekolah Musa

Noya Letuna, Dio dan Asri di photobooth Sekolah Musa

diapit Nadus, sebutan untuk relawan Kupang Bagarak

menemani kak Yulia di tempat penjualan tiket Festival Pakariang

Rabu, 22 Juli 2015

Hau Kamelin dan Semangat Kerja Kreatif-Kolaboratif



Saya sangat menikmati proses menulis kreatif akhir-akhir ini. Tentu saja aktifitas mengajar di sekolah dan bergiat di komunitas memberi banyak ruang dan wantu bagi saya untuk bereksplorasi; membaca, mendengar, mencari tahu juga jalan-jalan dan bertemu banyak orang. (Juga menulis dan berdialog dengan sangat intim antara diri saya, imajinasi dan ide, dengan bapak dan mama saya). Saya beruntung punya keluarga yang sangat mendukung aktifitas saya. Bapak dan mama saya adalah alasan kuat mengapa saya terus menulis hingga saat ini. Mereka adalah dongeng yang nyata, sehingga saya begitu menikmati proses kreatif ini dan mulai membuka diri terhadap hal-hal di luar diri saya: tradisi dan mitos. Mimpi dan alam baka. Tentu saja saya baru memulai sedangkan jalan di depan saya masih amat panjang dan memungkinkan saya untuk lebih mendalami semuanya. (Baca: Sinopsis Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi).
Manuskrip Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi sebenarnya sudah saya siapkan dari tahun lalu namun dalam perjalanan mood dan hal baru yang saya temui justru memaksa saya untuk tidak cepat puas. Ada proses pengendapan naskah yang memang harus saya lalui. Pengalaman harian kita kelak ternyata memengaruhi cara pandang kita atas apa yang sudah kita buat. Manuskrip lagi-lagi mengalami perombakan: alur, konflik dan karakter setiap tokoh. Bahkan prosesnya masih berlanjut ketika naskah tersebut saya berikan ke beberapa orang teman untuk membacanya. Akhirnya di bulan Maret 2015 saya beranikan diri untuk menyerahkan manuskrip Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi kepada teman saya Mario F Lawi untuk menyuntingnya. Mario saya rasa orang yang tepat karena darinya saya mendapat penguatan juga catatan-catatan kritis. Ia punya selera dan wawasan bersastra yang luas. Mario jugalah yang menyarankan saya untuk mengirim beberapa cerpen dari manuskrip ini ke beberapa koran Nasional. Saya memang harus memperbaiki lagi beberapa hal terkait masukan dari editor saya ini. Pada momen ini saya harus membaca ulang, mencari informasi pendukung yang baru, termasuk juga belajar, misalnya dari hal-hal kecil semacam EYD yang tidak saya ketahui sebelumnya. Tentu saja proses panjang terhadap naskah buku ini adalah serangkaian pelajaran penting yang sekaligus mematangkan diri saya. Dan saya menikmatinya. Hal yang sama sebenarnya ketika saya menggarap buku Kanuku Leon dulu, tentu saja dengan level kematangan yang berbeda. Ini menurut saya, barangkali anda punya penilaian sendiri terhadap diri saya. (Baca: Prsoes Kreatif Kanuku Leon)
Apakah selesai sampai di situ? Ternyata belum. Ada satu lompatan baru yang tidak saya lakukan di Kanuku Leon dulu dan hendak saya lakukan sekarang yakni memberikan manuskripnya ke tiga orang teman dekat saya untuk dibaca (antara lain Armin Bell dan Januario Gonzaga). Pada tahap ini mas AN Wibisana, teman saya yang juga bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, saya minta untuk jadi peneliti aksara (proof-reader). Hingga akhirnya saya harus memperbaiki beberapa typo yang saya dan Mario lewatkan. Terima kasih mas Abu untuk ketelitiannya.
Jauh sebelum naskah fix, saya sudah beberapa kali bertemu dengan Ge Itammati Idea untuk brainstorming konsep sampul. Ini untuk kesekian kalinya saya bekerjasama dengan kawan sejak masa SMA di Syuradikara Ende (pernah bekerjasama untuk sampul buku puisi Cerah Hati cetakan kedua, sampul antologi cerita Alumni Syuradikara, sampul Kanuku Leon dan beberapa desain t-shirt). Saat itu saya ingin mengajak beberapa teman ilustrator untuk membantu menggarap ilustrasi tiap cerpen, beberapa mengiyakan lalu membatalkan hingga akhirnya hanya ada ilustrasi dari adik kelas saya di Syuradikara, Allen Fernandez yang memukau saya dengan hasil interpretasi bebas atas cerpen saya Hari Terakhir Pahtuaf. Dari maju mundurnya diskusi saya dan Ge, sempat hendak menggunakan beberapa foto milik ka’e Valentino Luis untuk sampul dan ilustrasi beberapa cerpen, namun karena satu dan lain hal maka ide itu disimpan dulu (berharap untuk buku berikutnya). Akhirnya saya dan Ge memutuskan untuk menggunakan ilustrasi satu-satunya yang masuk untuk dijadikan sebagai sampul buku. Ge menggarap ekstra disaat dirinya harus mempersiapkan pernikahannya dan akhirnya jadilah sampul keren ini. Terima kasih untuk kalian semua. (Baca: Epilog: Dongeng dari Mollo dan Seroara).
Sungguh saya menikmati proses-proses kreatif-kolaboratif ini. Bagi saya ada banyak potensi anak muda NTT yang perlu didukung dan dikembangkan lewat kerjasama seperti ini. Saya dan Ge masih punya banyak mimpi bersama untuk kerja kreatif berikutnyaa. Terima kasih alam semesta dan penciptanya yang selalu membuka jalan untuk bertemu orang-orang hebat di sekitar, termasuk anda yang membaca tulisan saya ini. Barangkali berikutnya, giliran kita yang akan bekerjasama. Bukan mustahil kan? 
Bagi yang berminat beli buku saya ini silakan ikut preorder (via whatsapp 081338037075 atau email: dickysenda@gmail.com). Buruan sebelum kehabisan karena saya cetak terbatas (maklum masih bermain di jalur indie).

Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi
© Christian Senda
Editor: Mario F Lawi
Peneliti Aksara: AN Wibisana
Ilustrasi Sampul: Allen Fernandez
Desain Sampul: Ge Itammati Idea
Penerbit: Indie Book Corner Jogjakarta

Dongeng dari Mollo dan Seroara



Waktu SD pelajaran yang paling saya tunggu-tunggu adalah Agama Katolik. Guru saya sangat piawai mendongeng, ya ia menceritakan ulang kisah Alkitab dengan gaya mendongeng. Sebelum saya masuk sekolah, kebiasaan bercerita sudah menjadi tradisi keluarga. Kakek saya punya segudang pengalaman semasa bertugas sebagai tentara KNIL dari Aceh hingga Semarang kerap diceritakan dengan bangga untuk saya. Bapak dan Ibu saya juga pencerita ulung. Sembari orang tua dan guru saya bercerita, ruang imajinasi saya pun berkembang pesat dengan sendirinya. Saya punya ruang pribadi yang tak diketahui siapa pun kecuali saya sendiri, ruang rahasia di kepala saya. Untuk masuk ke dalam ruangan itu, saya biasanya menggunakan buku harian sekadar untuk mengekspresikannya dalam beragam bentuk.
Saya mengenal dunia luar ketika saya yang anak rumahan dari pedalaman Mollo pergi merantau ke kota Ende di Flores untuk melanjutkan studi di Syuradikara. Di Asrama maupun di Sekolah, saya menemukan dunia yang lebih luas. Saya menemukan lebih banyak dongeng dari para pembina, doa dan buku-buku bacaan. Saya mulai keranjingan menulis puisi dan cerpen di buku harian yang saya simpan rapat-rapat di lemari. Cinta dan persahabatan kala itu memberikan efek kejut yang luar biasa. Saya mulai membuka diri.
Barangkali saya masih kurang banyak membaca buku, tetapi saya terlalu suka mendengar dan mengamati. Cerita-cerita yang saya tulis di sini adalah proses yang panjang dari mendengar, mengamati dan berimajinasi atas peristiwa yang terjadi di sekitar saya, dalam keluarga dan apa yang sedang terjadi di kampung saya. Saya adalah orang Mollo juga orang Seroara, keduanya sama-sama berbicara tentang orang gunung yang saya anggap sebagai penjaga kehidupan dan kematian. Di Mollo ada hutan belantara dan berjuta kubik batu marmer yang menyimpan dan mengalirkan air untuk sebagian besar pulau Timor. Di Mollo ada gunung megah―Mutis―yang dipercaya jadi tempat arwah orang-orang mati berkumpul. Surga. Di Seroara, dongeng dipelihara sebagai sebuah misteri. Seroara adalah kampung tempat bapak saya lahir, terletak di perbukitan perbatasan Ende dan Sikka.
Di Mollo, hampir seluruh hidup saya diisi dengan begitu banyak dongeng dari para bijak. Mollo memberikan energi tersendiri bagi kekuatan ruang imajinasi saya. Sementara bapak sesekali masih setia memberi nutrisi ke alam imajinasi saya tentang Seroara. Dan untuk Mollo juga Seroara, saya berani menuliskan semua dongeng ini.
Saya berterima kasih kepada para penutur (saya sebut mafefa) yang berhasil saya temui, Mateos Anin, salah satu juru kunci Gunung Mutis yang tinggal di Fatumnasi. Kepada keluarga saya, buku hidup saya: Bapatua, Mamatua, Opa Soleman Kamlasi, Oma Aminah Rajimin alias Yohana Kamlasi dan keenam kakak saya. Kepada keluarga besar Kamlasi di Mollo dan Amanatun, klan Ana Sonda di Flores. Kepada Agi Malagina dengan tulisan Keunikan Tradisi Imlek Dalam Tradisi Timor-nya. Kepada Romo Patris Neonub, Pr yang banyak menulis artikel tentang Suku Dawan telah membantu saya dalam penyusunan alur di beberapa cerpen. Inspirasi yang memenangkan imaji. Kepada Januario Gonzaga, AN Wibisana dan Armin Bell yang sudah bersedia membaca naskah ini dan memberi beberapa masukan penting. Kepada Allen Fernandez dan Ge Itammati Idea dua sahabat, sesama alumni Syuradikara yang ikut memperindah sampul buku ini (sketsa dari Allen adalah interpretasi bebas cerpen Hari Terakhir Pahtuaf). Kepada Valentino Luis untuk diskusi dan petualangan singkat (yang tanpa sadar) ikut memperluas ruang imaji tentang Mollo, termasuk memberi masukan untuk beberapa cerpen di buku ini. Beta tunggu foto-fotomu untuk ilustrasi buku berikutnya, ka’e!
Kepada para sahabat yang selalu menginspirasi, saudara saya di Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang, #MudaersNTT Menulis, Kupang Bagarak, Forum SoE Peduli, Solidaritas Giovanni Paolo II, Alumni Syuradikara angkatan 49 dan Gerakan Mari Berbagi.
Untuk kalian semua yang telah membaca dongeng-dongeng ini, terima kasih. O ya, jika berniat ke Mollo, kabari saya. Mampirlah ke rumah. Ada kopi Mollo racikan ibu dan satu lagi―bapak ibu saya senang jika diajak ‘mendongeng’. Kita bisa menyusun rencana ekspedisi Mollo sehabis mendongeng. Percayalah.



Bagi yang berminat beli buku saya ini silakan ikut preorder (via whatsapp 081338037075 atau email: dickysenda@gmail.com). Buruan sebelum kehabisan karena saya cetak terbatas (maklum masih bermain di jalur indie).

Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi
© Christian Senda
Editor: Mario F Lawi
Peneliti Aksara: AN Wibisana
Ilustrasi Sampul: Allen Fernandez
Desain Sampul: Ge Itammati Idea
Penerbit: Indie Book Corner Jogjakarta

Sinopsis Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi



Di sebuah rumah beratapkan hun, Pahtuaf sedang gelisah di dekat tiang perempuan yang beralaskan batu suci tempat ritual pemujaan. Ia merasa ajalnya sudah dekat padahal ia belum punya anak lelaki sebagai penerus takhta. Sementara Sani, seorang imam Katolik punya pengalaman hidup yang sarat dengan tradisi dan mitos Atoin Meto. Mitos tentang Saok Nitu (hilang disembunyikan setan/arwah), fakta anak indigo,  tradisi memperlakukan orang sakit jiwa, Alefe Nakaf (tradisi penggal kepala musuh), Maet Mone (kematian tak wajar) dan Saok Nate (mendoakan leluhur) mengental bersama tradisi Gereja Katolik.
Di Flores seorang guru agama dengan bijaksana menyimpan barang mas leluhur yang punya kekuatan gaib bersama dengan sebuah patung Bunda Maria serta poster neraka yang menyeramkan, hadiah dari seorang misionaris asal Eropa. Di pantai Selatan Timor dekat bandar Tun Am seorang pria berkulit putih terdampar, ratusan tahun setelah Pigafenta dalam eskpedisi Magelhaens mendarat di bandar yang sama. Pria itu menulis demikian: “seperti mimpi, ketika kami tidur di atas muntah dan tercium wangi hau kamelin, tiba-tiba dunia pecah.”
Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi berisi 16 dongeng tentang cinta, keluarga, mitos, pohon cendana dan perjumpaan dengan para arwah.

Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi
© Christian Senda
Editor: Mario F Lawi
Peneliti Aksara: AN Wibisana
Ilustrasi Sampul: Allen Fernandez
Desain Sampul: Ge Itammati Idea
Penerbit: Indie Book Corner Jogjakarta

NB: Pre-order Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi whatsapp 081338037075 atau email: dickysenda@gmail.com).


Rabu, 15 Juli 2015

Sekami Bikoen dan Masa Kecil di Mollo




Catatan Reflektif dari Pekan Sekami Stasi St. Stefanus Noehaen 
 Saya termasuk beruntung karena punya banyak sekali memori yang baik tentang masa kecil di kampung, tentang Sekami dan berbagai kegiatan seni dan kreatifitas di lingkungan Gereja. Rumah dan sekolah saya persis mengapit Gereja St. Maria Immaculata di Kapan, Mollo Utara. Sekolah SDK Yaswari III seperti rumah dan gereja pun demikian. Tentu saja karena guru dan pastornya asyik. Saya jadi suka membaca karena ada setumpuk majalah dan buku bekas kiriman dari Kupang yang bisa diakses secara bebas oleh anak-anak Sekami di pastoran. Saya mengenang almarhum Romo Agus Parera pastor paroki kami kala itu.

Bahagia rasanya setiap kali paroki kami dikunjungi para suster, frater dan siswa seminari dalam aksi panggilan. Saya kagum dengan cara mereka berkesenian. Mereka bermain teater dengan sangat keren, disamping jago bermain banyak alat musik dan tentu saja suara mereka merdu dalam paduan suara. Ada efek bagi anak-anak Sekami seperti saya. Setiap kali drama Natal dan Paskah menjelang, saat itulah momen yang paling kami nantikan. Mungkin beginilah cara anak-anak di kampung seperti saya mengisi masa kecil dan terima kasih, sejak dulu gereja Katolik di kampung-kampung sudah memainkan peran itu. Ada banyak hal menarik terjadi di kalangan anak Sekami, dan ketika saya besar semua itu menyisakan rasa bangga di dada. Sesederhana itu pengalaman bergiat bersama Sekami memengaruhi sisi psikologis saya. Apakah kita menyadari bahwa hal kecil-kecil seperti ini punya pengaruh bagi kehidupan seseorang di masa dewasanya kelak?

Ini bukan soal semua anak-anak akan menjadi pastor dan suter kelak. Sejatinya ada begitu banyak mimpi besar yang bisa dipancing lewat berbagai aktifitas berkesenian di lingkungan Gereja. Tanpa sadar Gereja mengasah sensitivitas berkesenian, lebih dari itu, seni mengasah dan membentuk kepribadian manusia. Generasi baru yang akan meneruskan Gereja di masa depan.

Ketika saya mendapat kabar bahwa tanggal 6 – 9 Juli 2015 akan  berlangsung kegiatan Pekan Sekami Stasi St. Stefanus Noehaen di Bikoen Amarasi Timur, saya begitu antusias karena turut diundang oleh Romo Alfons, imam yang bertugas di stasi tersebut. Solidaritas Giovanni Paolo tempat saya dan kawan-kawan bergiat, memang selalu memberi dukungan moril dan materil untuk umat di Amarasi Timur. Tentu saja di Giovanni Paolo, kami belajar untuk ‘memberi dari kekurangan.’ Ya, saya begitu antusias! Saya mengingat masa kecil saya dulu sebagai anak Sekami di kampung, maka saya pun percaya pada antusiasme, kegembiraan dan mimpi dari 134 anak Noehaen Uf, Hanana hingga Oemoro yang datang berkumpul selama beberapa hari di Bikoen. Mereka tidur di tenda yang terbuat dari daun gewang, masak dan makan bersama, olahraga, bernyanyi, berdoa dan ikut beberapa kegiatan pelatihan kreatif yang difasilitasi oleh para guru agama, frater dan relawan dari Komsos, juga guru-guru Sekami. Anak-anak hadir dan boleh mengekspresikan diri mereka secara terbuka. Rasanya diri mereka seperti saya sekian tahun silam yang senang berkegiatan di Gereja karena ada banyak aktivitas kesenian di sana, Ada banyak tamu keren dan inspiratif yang kerap berkunjung. Ada dongeng, teater, ada drama musikal, koor dan macam-macam kegiatan kreatif. Mereka yang berkemah di alam terbuka rasanya seperti saya dulu dengan seorang suster dan teman-teman beribadah sekalian piknik di padang Lelokasen di Mollo Utara. Masuk ke dalam dunia spiritual melalui interaksi kita dengan alam semesta.

Barangkali kawan-kawan saya di Solidaritas Giovanni Paolo pun melihat dan merasakan hal yang sama. Beberapa tahun terakhir syukurlah kami bisa merintis sebuah rumah baca sederhana di Noehaen, persisi di samping kapela yang terintegrasi dengan PAUD dan kegiatan-kegiatan Sekami. Beberapa kali ada nonton bareng, kegiatan outbound, dan tentu saja kegiatan rutin membaca buku di akhir pekan. Pastonya pun luar biasa peduli dengan perkembangan anak-anak Amarasi Timur. Romo Alfons namanya.

Memang benar, sebesar atau sekecil apa pun tugas kita adalah membantu mengisi masa kecil mereka dengan hal-hal positif. Saya pribadi tentu saja punya banyak utang budi pada Sekami di Gereja saya dulu dan kiranya gerakan saya bersama teman-teman di Solidaritas Giovanni Paolo adalah upaya sederhana kami untuk turut sertamembangun kepribadian dan iman generasi Gereja berikutnya. Toh semua anak sonde harus menjadi biarawan – biarawati kelak, tapi anak-anak kita sudah dipersiapkan sejak dini benar-benar manusia Katolik seutuhnya. Jangan kita jadi bangga bilang bahwa ada peningkatan jumlah umat Katolik karena keluarga-keluarga Katolik begitu produktif melahirkan anak, tapi selanjutnya, apa persiapan dan peran Gereja dan kita semua untuk ‘menumbuhkan’ mereka? Tentu saja kita tidak ingin menambah masalah bagi dunia ini kan? Kepada umat yang hadir, Romo Sipri Senda (koordinator Giovanni Paolo) berpesan, “ayo sisihkan uang untuk pendidikan anak-anak lewat koperasi.”

Sekali lagi, saya bahagia karena lewat kegiatan seperti pekan Sekami ini, wawasan anak-anak sedang dibuka bahwa ada banyak sekali alternatif mimpi yang bisa mereka raih dalam hidup ini. Tentu saja mereka kelak akan bangga, hidup dalam iman, harap juga kasih sebagai seorang Katolik. Seperti saya kini yang merasa bahagia pernah dibesarkan dalam lingkungan Gereja Katolik yang menyenangkan. Tentu saja kegiatan ini berakhir dengan satu pernyataan dari umat Bikoen, “di Kapela kami belum ada guru Sekami.” Anda punya solusi?

Salam hangat dari Bikoen...



Christian Senda, menulis cerpen, bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora dan Solidaritas Giovanni Paolo.







Selasa, 14 Juli 2015

#FSPBerbagi: Tentang Ikhlas, Rela dan Terbuka


Forum SoE Peduli, sekumpulan anak muda TTS baru saja bikin kegiatan penyuluhan kesehatan dan pengobatan gratis, sosialisasi isu KDRT dan human trafficking (didukung LSM Sanggar Suara Perempuan), menyumbang buku-buku bacaan anak dan beberapa aktivitas kreatif bersama anak-anak di desa Haumenbaki, kecamatan Amanuban Barat, TTS. Terima kasih untuk pendeta gereja Bethesda, kak Emma Fay, yang sudah memfasilitasi pertemuan FSP dengan masyarakat setempat. Terima kasih untuk teman dan sahabat-sahabat saya yang luar bisa dari FSP: dokter Sandra Frans utk segala semangat dan inisiatifnya. Joseph yang sudah membantu memfasilitasi kegiatan ini, menyiapkan mobil dan berkomunikasi dengan kak Emma. Josua yang luar biasa untuk urusan membaca resep dan menyiapkan obat, Tika yang sudah menyiapkan banyak materi flyer dr LSM Sanggar Suara Perempuan. Pasutri muda dan keren, Essy dan Yerri, juga pasangan keren lainnya, Iren dan Im yang heboh dengan berbagai kegiatan kreatif untuk anak-anak Haumenbaki. Tentu saja pak fotografer kita Donny Lodo. Suatu kebanggan bisa bergiat bersama kalian. Terima kasih untuk kesempatan luar biasa ini. Berbagi itu bukan saja soal materi, lebih dari tenaga juga pikiran. Berbagi itu sebenarnya soal kesiapan memberi diri dengan ikhlas, rela dan terbuka. Kesiapan memberi diri pada perbedaan dan keberagaman. Pada momen ini beta belajar, keikhlasan, kerelaan dan keterbukaan diri itulah energi hidup kita, bukan? Salam #FSPBerbagi.

foto-foto oleh Donny Alexander Lodo.










Sabtu, 04 Juli 2015

Pakariang: Pesta Kreativitas dan Permainan Tradisional Anak Kupang 2015



Latar Belakang #Pakariang

Dalam rangka mewujudkan Kota Kupang yang ramah anak, memperingati Hari Anak Nasional dan mengkampanyekan permainan anak yang mengajarkan toleransi, integritas, kerja sama dan kreatifitas; maka komunitas #KupangBagarak bekerja sama dengan 18 komunitas lain mengadakan Festival PAKARIANG 2015 (Pesta Permainan Tradisional dan Kreatifitas Anak Kupang, 2015).
Disadari bahwa saat ini sedang terjadi pergeseran pola bermain anak-anak, dari permainan anak konvensional yang mengutamakan kerja sama, toleransi, integritas dan kreatifitas yang sarat dengan nilai-nilai sosial; menuju ke permainan anak modern berbasis gadget yang cenderung individualis, dan membuat anak anti sosial.
Karena itu Festival ini digagas karena kerinduan #KupangBagarak dan 18 komunitas lain untuk menghadirkan wadah bermain tahunan bagi anak-anak di Kupang yang kreatif dan mengajarkan nilai-nilai sosial seperti toleransi, integritas, kerja sama sekaligus merayakan Hari Anak Nasional.


Bentuk Kegiatan #Pakariang
Di kemas dalam bentuk Festival Permainan Tradisional dan Kreatifitas Anak, selama 2 (dua) hari, yaitu 25 – 26 Juli 2015, bertempat di Depan OCD Cafe, Pantai Lasaiana, Kota Kupang NTT yang akan terdiri dari 6 sub kegiatan


A.    Festival Permainan Anak Tradisional
Pada kegiatan ini anak-anak akan diajarkan oleh relawan dan orang tua untuk memainkan kembali permainan anak-anak tradisional NTT. Disiapkan kurang kebih 40 permainan anak yang dibagi menjadi 4 kategori: Permainan individual (Pakariang BETA), permainan berkelompok (Pakariang KELUARGA), permainan berbahan alam (Pakariang ALAM)  

B.    Creative and Art Corner (PAKARIANG KREATIF)
Di kelompok ini, anak-anak akan diajarkan oleh relawan dan orang tua untuk melakukan aktifitas kreatif dan seni misalnya membuat permainan sendiri dari bahan alami atau barang-barang bekas, face painting, dll

C.    Perlombaan (PAKARIANG LOMBA)
Pada Festival PAKARIANG 2015 ini akan  6 lomba anak yaitu:
1.    Lomba Balap Sepeda (Grass Track Sepeda),
2.    Lomba Foto PAKARIANG,
3.    Lomba Tulis dan Membaca Puisi
4.    Lomba Menulis Pengalaman Bermain
5.    Lomba Melukis,
6.    Lomba karaoke lagu anak-anak

Semua pemenang lomba akan mendapatkan PIALA BERGILIR, yang akan di lombakan lagi pada PAKARIANG 2016.

D.    Pentas Seni (PAKARIANG SENI)
Pentas musik akan diisi artis-artis lokal yang akan diundang diantaranya:
•    H2K
•    Alchopeta
•    Diaz n’ The Gank
•    VELTA
•    D’Stakn
•    RD
•    ALPI
•    Miracle Worker
•    dll

E.    Story Telling dan Panggung Boneka (PAKARIANG BACARITA)
Di bagian ini anak-anak akan diajak untuk mendengar cerita-cerita lewat pencerita dan panggung boneka. Cerita yang diceritakan akan berisi nilai-nilai penting kehidupan, misalnya soal kerjasama, toleransi, integritas, dll.

F.    Kuliner Tradisional (PAKARIANG MAKAN)
Sepanjang Festival, akan disediakan makanan-minuman sehat yang dapat dibeli oleh keluarga yang datang mengunjungi festival.

G.    Kampanye Hak Anak, Kesehatan Anak dan Kelompok Disabilitas (PAKARIANG PEDULI)
Panitia akan mengundang beberapa LSM dan Lembaga yang bekerja di isu anak dan disabilitas untuk terlibat juga memanfaatkan momentum festival untuk melakukan kampanye hak anak dan kampanye hak-hak penyandang disabilibitas. Kampanye akan dilakukan lewat media pameran, spanduk, games atau media kreatif lainnya.
LSM dan Lembaga yang akan diundang antara lain: Childfund, Save The Children, Plan International dan Handicap International, Komisi Perlindungan Anak, Fakultas Kedokteran UNDANA dan Komunitas KAKI.


Pelaksana dan Pendukung #Pakariang
PAKARIANG 2015 melibatkan 15 Komunitas Pemuda di Kupang dan Soe, antara lain:
1.    #KupangBagarak
2.    KOMPAK (Komunitas Peace Maker Kupang)
3.    SekolahMUSA (Multimedia untuk Semua)
4.    Komunitas Sastra Dusun Flobamora
5.    OCD Community
6.    Geng Motor ImuT
7.    KNPI Kota Kupang
8.    Kapadala Crew
9.    Playing For Change Kupang
10.    Forum Pemuda Tenggara
11.    Komunitas MITRA
12.    Timor Ink – Miracle Worker
13.    Hip-Hop Kupang
14.    Komunitas LENTERA
15.    SPG (Serikat Pekerja Guru) Kota Kupang
16.    Forum Soe Peduli
17.    Panggung Boneka STAKN Kupang
18.    Persani NTT
19.    Underwater Kupang