KANUKU LEON
*Flobamora Nel Cinema: Dulu, Kini dan Nanti ~ Kanuku Leon
Penting:

Rabu, 10 Agustus 2011

*Flobamora Nel Cinema: Dulu, Kini dan Nanti


By on Rabu, Agustus 10, 2011




 
Berikut ini ada 13 film yang pernah dibuat dan sedang dibuat di NTT, baik FTV, Film feature hingga dokumenter. Beberapa diantaranya bahkan dibuat oleh sineas lokal NTT sendiri. *angkat topi*. Sebenarnya mungkin ada banyak film-film yang terkait dengan NTT, Flobamora tercinta yang mungkin masih luput dari perhatian penulis.
1.      Surat Untuk Bidadari (1994)

Produksi: SET Film
Sutradara: Garin Nugroho
Cast: Adi Kurdi, Nurl Arifin, Viva Westi
FYI: Ketika syuting film Surat untuk Bidadari di Sumba, Nusa Tenggara Timur, ada adegan pemerkosaan. Bagi orang Sumba, adegan seperti itu tabu. Karena Garin bersiteguh, areal pembuatannya pun ditutupi dengan kain hitam. Tapi, ternyata, banyak warga setempat ingin menyaksikan pengambilan adegan "tabu" itu, mereka mengintip dengan memanjat pohon.
Surat Dari Sahabat
Prestasi: "Berliner Zeitung Prize" kepada Surat untuk Bidadari karya Garin Nugroho. Penghargaan itu berdasar hasil penilaian sembilan juri atas 39 judul film yang dipilih dari sekitar 500 film alternatif di seluruh dunia. Bukan hanya bisa lolos dari 39 judul film itu, tapi terpilihnya tiga film, salah satunya Surat untuk Bidadari, sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sehingga penghargaan tersebut menjadi  yang pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di forum internasional.

Lewat film ini, para kritikus di Jerman menganggap, "Garin telah mengirim suasana surealistis dan menunjukkan bahwa Garin mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin dalam gerakan New Wave," tulis Variety Weekly edisi Februari 1994.
2.      Paraing Marapu (1990)
Film dokumenter dengan judul international The Villege of Ancestprs pernah diikutkan dalam Yamagata International Documentary Film Festival tahun 1991, dan diputar kembali di ajang Jakarta International Film Festival tahun 2001. Disutradarai oleh Dudit Widodo (Anda yang suka menonton acara Mancing Mania di Trans7 mungkin kenal sekali dengan orang ini). Durasi film 60 menit ini diproduseri oleh Toengoel Siagian.
Sinopsis Paraing Marapu:
Di Sumba, sebuah upacara penguburan Raja Pao yang besar-besaran dan mewah, diselenggarakan oleh keluarga dan para pengikutnya yang setia pada tahun 1983. Masyarakat Sumba meyakini bahwa ada kehidupan setelah kematian. Orang yang dimakamkan, dibekali dengan berbagai persembahan. Mereka juga percaya bahwa semua jiwa binatang yang ada menemani raja ke surga, tempat di mana nenek moyang mereka sekarang berdiam.
Kontak produsen film Paraing Marapu:
Cinevisi, T. +62-21-31934333, 2305177, 3159052
Jl Kramat IV/29, Jakarta Pusat 10430
Indonesia
3.      Nusa Nipa, 2010 (dalam tahap produksi???)
Film wisata sejarah yang didanai Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu melibatkan PT Melia Kreasi Film. Pengambilan gambar akan segera dilakukan di Flores.
Film dokumenter itu, tambah Gana, akan memaparkan kisah Bung Karno yang dibuang di Ende selama empat tahun (1934-1938). Setelah keluar dari Penjara Sukamiskin di Bandung 31 Desember 1931, Bung Karno ditangkap untuk kedua kalinya pada 1 Agustus 1933, namun tidak diadili dan langsung dibuang ke Ende, Flores.
Di masa pengasingan itu, Bung Karno didampingi istrinya, Inggit Gunarsih, mertuanya, Amsih, anak angkatnya, Ratna Juami dan guru dari anak angkatnya, Asmara Hadi.

4.      Ring of Fire Adventure (2010) – masih dalam tahap produksi
Dokumenter seorang bapak (Youk Tasil) berusia 54 tahun dengan keempat anaknya keliling indonesia termasuk NTT dengan motor. Sempat bikin masyarakat Lamalera kaget mengira ada sekelompok teroris bersepeda mtor masuk kampung. 

5.      Di ujung jalan (The Road), dokumenter, 78 menit, 2010
Kisah tentang keluarga-keluarga yang kehilangan saudara, suami, istri, anak yang merantau di Malaysia. Menjadi buruh migrant sudah mentradisi di wilayah Flores. Namun kekerasan, penganiayaan, kematian, bahkan penggantian nama demi uang, harus mereka lakukan. Noel, Santi dan Epen, tiga orang anak yang merindukan kedatangan orangtuanya yang menjadi buruh migran di Malaysia, pada sebuah perayaan Paskah. Noel, Santi dan Epen terus menunggu, karena perayaan Paskah adalah momen mudik bagi masyarakat di Larantuka untuk saling bertemu, berkumpul dan melepas kerinduan.
 Film karya sutradara Tonny Trimarsanto ini juga pernah dikompetisikan di ajang Cinemanila International Film Festival Philiphines 2010, diputar di Jakarta International Film Festival 2010
6.       Air Mata Ibu
Genre: dokumenter
Durasi: 30 menit
Tahun produksi: 2003
Sutradara: Tonny Trimarsanto

Apa yang bisa dilakukan ibu-ibu ketika mendapati bayi yang dilahirkannya terlilit spiral? Lantaran para bidan tidak dibekali ketrampilan untuk mencopot alat kontrasepsi dan bidan bidan itu hanya bisa memasangnya saja? Apa yang dirasakan ibu ketika melihat anaknya meninggal tak berdaya, lantaran tidak mempunyai uang untuk ke dokter ? Sebuah kisah yang mengungkapkan sisi gelap pelaksanaan Program Nasional Keluarga Berencana selama 30 tahun di Nusa Tenggara Timur.
 Film yang juga disutradarai oleh Tonny Trimarsanto pernah diputar di Docs-Indocs Jakarta 2003, In Witness JAFF ASIA NETPAC Film Festival 2007

       7.      Angin Rumpt Savana (SET FILMS), TV Series, 1996
Stradara Garin Nugroho. Salah satu lokasi syutingnya di Sumba.
Cast: Maudy Koesnaedy, Unique Priscilla.

8.      Sepoi Sabana di Ujing Pinang
Sebuah Film Dokumenter Karya Emanuel Tome Hayon, Bekerjasama dengan Biro Pemberdayaan Perempuan Provinsi NTT dan Bantuan Teknis Gender dari Kemitraan Australia Indonesia untuk Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir. Sepoi Sabana di Ujung Pinang adalah sebuah film dokumenter yang memotret tarik menarik situasi dan kondisi budaya, geografis, serta dinamika pembangunan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menyuguhkan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, khususnya perempuan, untuk memperoleh akses pelayanan kesehatan berkualitas. Wilayah Sumba Timur hanyalah merupakan salah satu contoh yang mewakili situasi dan tantangan masyarakat NTT.


9.      Tanah Air Beta (2010)
Produksi: Alenia Pictures
Sutradara: Ari Sihasale
Durasi: 90 menit
Pemain: Alexandra Gottardo, Thessa Kaunang, Lukman Sardi, Robby Tumewu, Yeduha Rumbindi, Patricia Griffith. 
When Timor-Timur split from Indonesia, there was a separation of two brothers who love each other, they are forced to live in different conditions and locations. Until makes Merry (10 years) had to stay alone with her mother “Tatiana” (29 th) in a refugee camp in Kupang, NTT. While her older brother Mauro (12 years) living with an uncle in Timor Leste!


Tatiana and her daughter Merry, lived in a refugee camp with hundreds of thousands of other refugees.
Life was very hard in a refugee camp and in the midst of uncertainty about the existence of her son, did not make the mother “Tatiana” becomes weak.
Longing for her brother and mother’s suffering, has made Merry grown into an intelligent girl and pleaded.
One day, a volunteer officer said to tatiana “there is the possibility to meet with her son”


10.  Meusine Poi (Bi Flobamora)
Sutradara Frans Piter Kembo
Film dokumenter ini mengisahkan kehidupan kelurga tunanetra yang berjuang untuk mempertahankan hidup. Keluarga ini memiliki seorang anak yang sehat dan tidak cacat seperti kedua orangtuanya.
Rasa cinta dan sayang pada sang anak membuat keluarga ini rela bekerja keras demi membiaya hidup dan sekolah anak mereka yang kemudian disebut Meusine Poi atau Cahaya Yang Timbul.

11.  Film Tentang Komodo
(belum ada judul)
Sutradara Olivia Zalianty,
mulai produksi pertengahan 2011.
Film feature 2,5 jam.

12.  Bunda Reinha
Produksi :  Jiwa Creation
Durasi: 61 menit
Direktor & Cinematographer :   Deyna
Excecutive Producer   : Jacobus Haryanto Santoso
Producer : Devan Haryant
Editor : Asvan Tatra
Script Writer : Elizabeth Hardiyanti
Fixer : Florentinus Budiman  
Narator  :  Derry Sunarso
500 tahun yang lalu di Larantuka, Flores-Indonesia, sebuah patung ditemukan di tepi pantai.
Ini adalah titik awal penyebaran agama Katolik di Larantuka. Misionaris Katolik yang datang
beberapa tahun kemudian menyatakan bahwa inilah patung Bunda Maria. Sejak itulah
dipercaya bahwa Bunda Maria adalah misionaris pertama di Larantuka. Patung yang kemudian
disebut Tuan Ma ini dipercaya sebagai bunda mereka sekaligus pelindung kota.
Di Larantuka, umat Katolik melangsungkan sebuah prosesi bernuansa Portugal setiap Paskah.
Prosesi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan diikuti oleh ribuan umat. Ritual devosi
dan liturgi tersebut tetap setia mereka jalankan hingga sekarang



13.  Prahara Tsunami Bertabur Bakau

Genre: dokumenter
Sutradara: Emanuel Tome Hayon dan Mikhael Yosviranto
Prahara Tsunami Bertabur Bakau
Prestasi: film terbaik dan terfavorit pilihan pemirsa Metro TV di kompetisi film dokumenter Eagle Award 2008.
Ceritanya tentang Baba Akong dan istrinya, yang setia menanam dan menjaga hutan bakau di teluk Maumere-Flores pasca Tsunami hebat yang melanda laut Flores 1992. 


Ada lagi??


 Mollo Utara, Timor 9 Agustus 2011
mendukung #filmindonesiaberkualitas


*flobamora nel sinema: flobamora dalam sinema (italia)

0 comments:

Poskan Komentar

Beta tunggu lu pung komentar di sini, danke...