KANUKU LEON
04/01/2012 - 05/01/2012 ~ Kanuku Leon
Penting:

Sabtu, 28 April 2012

Film-film Favorit Sutradara Joko Anwar



Referensi bagus buat Anda para cinemania

1. Punch-Drunk Love (2002) Film yg bikin saya percaya sama cinta dan film lagi.
1. (Ada dua) Dead Poets Society (1989). Film yang ngajarin saya untuk berani berpikir bebas.
2. Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) This films explains my love life. In the most accurate way.
3. True Romance (1993) Title says it all. Truest romance is also the bloodiest.
4. Lost in Translation (2003) Magical. Percaya apa nggak, pertama kali gue nonton ini, gue nggak suka.
5. The Crying Game (1992) Sekolah film saya. Banyak banget dari film ini yg saya curi buat film2 saya.
6. (tied) Billy Elliot (2000). So wonderful it's hard to describe it.
6. The Butcher Boy (1997). Film yg akan buat anda mikir masalah anda gak ada apa-apanya. Siapapun anda.
7. Naked Lunch (1991). Film yg bikin gue bulat pikiran jd sutradara.
8. Tin Drum (1979). Film ajaib, liar, sakit, touching, dengan craftmanship luar biasa.
9. Sleepless in Seattle (1993). It made me want to have a father like Tom Hanks.
10. Crimes and Misdemeanors (1989). Personally, I think this is Woody Allen's deepest film

Diambil dari www.twitter.com/jokoanwar

Rabu, 25 April 2012

Mollo Dari Masa ke Masa (sebuah catatan sejarah)


Prolog:
Berikut adalah sedikit cerita tentang Kapan atau Mollo pada umumnya yang saya gali dari sebuah obrolan panjang bersama orangtua saya, bapatua Ignasius Senda dan mamatua Ferderika Kamlasi. Cerita sejarah berikut ini bukanlah sebuah cerita yang paling benar. Artinya masih ada keterbukaan untuk menambah atau mengoreksi cerita berikut. Ide untuk menulis kembali semua cerita dari mulut orang tua saya, semata hanya karena selama ini saya kesulitan mendapat sumber tertulis yang otentik mengenai Mollo dan masyarakatnya. Mengingat kebiasaan masyarakat kita hanya mengandalkan cerita secara lisan (dengan adanya mafafa atau para penurut dalam stuktur masyarakat Mollo atau  suku Dawan pada umumnya). Dengan tulisan ini, maka diharapkan bahwa generasi penulis dan setelahnya bisa dengan mudah mengetahui sejarah dari sumber tertulis, terutama tulisan yang bisa ditemui dengan muda di dunia maya, di era teknologi seperti sekarang ini (Blog, Google atau Wikipedia). Selamat membaca.


Nama, Tetaplah Punya Arti
Kapan adalah nama ibu kota resmi dari kecamatan Mollo Utara, dan kabupaten Timor Tengah Selatan. Berada di dataran tinggi antara 1000 hingga 1100 mdpl, dengan puncak tertingginya Gunung Mutis.
Sebenarnya ada dua versi nama ibu kota Mollo, Kapan (dari nama Kapan Tunan, sebuah kampung di ujung kampung Cina, sekarang) dan O’besi, yang kini menjadi nama desa di kecamatan Mollo Utara. O’besi sendiri artinya kandang besi. Orang Mollo menyebut kandang besi untuk sebuah penjara besar yang dibangun oleh Belanda di Oe Bobe, sebuah sungai yang membelah kampung Cina kini dengan pasar lama/ kampung Bugis. Oe Bobe adalah sebuah mata air yang pada saat terjadi perang antara Mollo dengan Amanuban, sering dipakai sebagai tempat untuk ‘mencuci darah’ para musuh yang sudah dikalahkan. Konon ceritanya, setelah darahnya dicuci di Oe Bobe, mayatnya kemudian di buang ke Kapan Tunan.
Berbicara mengenai nama-nama kampung yang ada di sekitar Kapan juga menarik.
Misalnya soal Kapan yang notabene berada di dataran tinggi sehingga banyak di temukan pohon kasuasi/pinus/cemara yang disebut masyarakat lokal sebagai pohon ‘Ajaob’. Ajaob inilah yang kemudian dipakai juga sebagai identitas beberapa kampung di Kapan, selain nama kampung dengan awalan Oe (air) atau Fatu (batu)
 Seperti ‘Ajaoana’ dekat Kampung Baru sekarang, artinya adalah pohon ajaob/cemara/kasuari yang kecil atau mini.
Ajaobaki, artinya pohon cemara yang tumbuhnya berbaris rapi membentuk sebuah pagar. Di Ajaobaki kini masih bisa kita temukan sebuah sonaf atau istana raja Mollo.
Ajaobtomas, artinya pohon cemara yang konon menjadi tempat dikuburnya kepala seseorang bernama Thomas yang menjadi korban perang antara Mollo dengan Amanuban waktu itu. Letak Ajaobtomas sekarang adalah area di cabang Netpala hingga di kantor camat Mollo utara sekarang.
Ada juga nama kampung Fatu tasu (batu tacu. Tacu adalah sebutan untuk kuali), meliputi area di sekeliling kantor PLN Kapan, sebab disitu ada sebuah batu besar yang mirip dengan kuali. Dan ada satu lagi kampung yang namanya cukup unik, dekat dengan Fatutasu, yakni Maonsin.  Maonsin sendiri artinya adalah tempat yang di sana terdapat banyak pohon sirihnya (manus).
Berbicara mengenai nama kampung yang unik, ada juga kampung Embun Mollo. Petaknya diantara Fatutasu dan Pasar lama/ kampung Bugis. Embun Mollo sendiri awalnya merujuk kepada sebuah bangunan pesangrahan yang dibangun diatas sebuah bukit, yang dibangun oleh swap raja Mollo setelah kemerdekaan Indonesia, selain gedung SD (kini SD Gmit 01 Kapan, sebelumnya adalah SR, dibangun tahun 1910) dan Kantor Camat (kini beralih fungsi menjadi Puskesmas). Ketiganya merupakan bangunan termegah pada waktu itu (sebab merupakan rumah batu/ rumah yang dibangun dengan semen pertama di Kapan). Dibangun oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Sia Aging. Sia pula yang membangun sebuah rumah pribadi yang tergolong megah untuk ukuran Kapan pada waktu itu, letaknya di kampung Cina, sempat menjadi kantor polisi ketika rumah tersebut dijual kepada pemerintah, namun kemudian diambil alih menjadi rumah pribadi oleh mantan camat Mollo Utara,  Piet Oematan, hingga kini.
Tentang Embun Mollo, yang menjadi tempat penginapan atau hotel/motel atau apapun itu, adalah sesuatu yang menarik untuk kota kecil semacam Kapan, karena pada akhirnya menjadi hotel pertama dan satu-satunya hingga kini. Meski kondisi sekarang jauh lebih memprihatinkan. Bukan karena bangunannya kini reyot. Tidak. Bangunan sekarang malah jauh lebih baik 2 kali lipat dari dulunya, cuma pemerintah kecamatan kini sebagai pengelola sepertinya tidak tahu harus melakukan apa untuk sebuah tempat penginapan seperti ini! Sayang sekali.
Sejak awal Embun Mollo dibangun pun memang pihak swap raja agak kewalahan mengelola. Tamu yang menginap pada waktu itu belum mendapat fasilitas makan dan minum lansung dari pihak Embun Mollo. Waktu itu masih harus memesan makanan dari warung nasi milik seorang pensiunan tentara KNIL yang beristrikan seorang perempuan Magelang, Soleman Kamlasi dan isrtinya Johana Rajimin-Kamlasi.
Karena kesulitan tersebut, akhirnya Soleman mengusulkan teman baiknya sesama pensiunan KNIL dari Soe, Opa Naatonis yang beristrikan perempuan Semarang untuk mengelola Embun Mollo. Semenjak itu, tercatat bahwa Embun Mollo mengalami perkembangan pesat, dilihat dari makin banyaknya tamu yang menginap. Bahkan dimasa kejayaannya, Embun Mollo menjadi tempat menginap dari keluarga AH Nasution yang kebetulan sedang berkunjung ke Soe. Namun kejayaan itu pun tak lama. Sebab sepeninggal opa Naatonis, pesangrahan ini pun tak terurus lagi hingga berakhir menjadi sebuah rumah tua nan angker. Hingga akhirnya di awal tahun 2000, dipugar kembali oleh pemerintah kecamatan. Hasilnya, aula dan puluhan kamar yang ada dibiarkan kosong.


Para Pendatang di Mollo
Tentang warga Kapan yang berasal dari Bugis, adalah sisi lain kota Kapan yang menarik.
Disebutkan bahwa mereka sudah menetap di Kapan sejak tahun 1960-an. Ketika itu mereka sudah menghuni los-los yang ada di pasar dengan rumah sederhana. Disebutkan ada tiga orang tokoh Bugis pertama di Kapan, antara lain Paman Bacok (kemudian kembali ke Bugis tahun 1964), paman Salam dan Haji Ramli. Selanjutnya diikuti oleh Haji Yasin dan generasi berikutnya yang kini masih setia di Kapan dengan toko kelontong dan usaha menjangkau semua pasar yang ada di Mollo dengan truk-truk mereka, antara lain ke pasar Eban, Tobu, Fatumnasi, Lilana, dll. Menariknya lagi ereka pun menjadi komunitas yang sangat terbuka dan mau berbaur dengan masyarakat Kapan lainnya.
Suku lainnya yang menambah keunikan Kapan adalah suku Sabu, yang populasinya kini cukup pesat. Tercatat kehadiran mereka sudah ada sejak tahun 1950-an. Saat itu menjadi papalele, sebuah sebutan untuk para pedagang yang datang untuk membeli hasil bumi, dan kebanyakan berasal dari suku Sabu atau Rote. Adalah Ama Kore Tua, Ama Habel Willa dan Ama Ju, yang disebut-sebut sebagai tokoh asli Sabu yang pertama kali datang selanjutnya menetap di Kapan. Disusul kemudian Marten Djara. Pada era Marten Djara inilah yang disebut-sebut, banyak orang Sabu dari Kupang datang dan menetap di Kapan. Hingga kini, kebanyakan dari mereka masih melakukan profesi yang sama, yakni berdagang hasil bumi seperti sayuran, bawang putih, kentang, dsb. Beberapa diantaranya juga sukses sebagai pengusaha angkutan umum (bus dan angkot) serta pengusaha toko kelontong. Generasi berikutnya dari  Habel Willa, yakni Gustav Willa yang kini menjadi kepala desa wilayah O’besi.


Gereja Katolik di MOLLO
Dicerikan sejak tahun 1930-an, di Kapan, sudah ada sepasang keluarga Katolik, yakni Abraham Seran yang berasal dari Atambua, yang datang ke Mollo karena menikah dengan seorang perempuan Mollo bermarga Tapatab. Karena satu-satunya keluarga yang Katolik, akhirnya mereka pun melakukan ritual agama Katolik hanya sebatas di rumah saja. Baru sekitar tahun 1950-an, ketika Alexander Fransiskus Karel Oematan, seorang klerk atau pegawai pemerintahan bagian keuangan yang beragama Katolik datang bersama keluarganya dari Maumere dan menetap di Kapan. Suatu ketika, seorang anak dari Abraham Seran tak sengaja mendengar ada ritual doa di rumah AFK Oematan yang dirasa mirip dengan apa yang mereka lakukan selama ini di rumah. Lalu si anak pergi dan menyampaikan itu ke Bapaknya. Kata Abraham, ‘Oh baek sudah, itu dia, kita pung orang….’’, artinya, yah mereka itu orang Katolik sama seperti kita. Maka dari situlah hubungan berlanjut. Ketika kemudian AFK Oematan pindah dari Pasar Lama ke Kampung Baru, lalu membangun sebuah kapela kecil persis di bawah pohon beringin di depan gedung paroki Kapan sekarang ini berdiri.
Ketika itu, pastor (Vincent Lecco, berkebangsaan Ceko) dari Soe baru akan berkunjung ketika ada upacara pembaptisan, selain itu ibadah mingguan dipimpin sendiri oleh AFK Oematan. Selanjutnya bergabungnya beberapa anggota gereja baru keturunan Tionghoa, misalnya keluarga Oma Tjeap dan Oma Monika Tanjung.
Tahun 1967, barulah orang-orang katolik di Kapan dilayani sepenuhnya oleh seorang pastor asal Jerman, Pater Erick Brunning, yang pada saat itu juga baru saja tiba dari Eropa tiga bulan sebelumnya. Setahun kemudian, Pater Erick memberikan sakramen perkawinan pertama untuk pasangan suami istri Ignasius Senda dan Ferderika Elizabeth Kamlasi. Pater Erick kemudian membangun rumah pastor (kemudian dipugar tahun 2005) dan poliklinik, yang kondisi kini masih kokoh, terawat dan masih dapat digunakan oleh para suster CIJ (yang hadir di Kapan tahun 1974) dalam melayani umat yang sakit.
Pastor-pastor yang tercatat pernah bertugas di Kapan setelah Pater Erick, antara lain Pater Theodorus asal Chili, kemudian Pater Vinsen Besi, pastor pribumi pertama di Kapan (kemudian pindah dan mengajar di seminari Lalian, Atambua). Disusul kemudian pater Blasisus Fernandes, Pater Wilem Laga, Pater Yustinus Tegu Wona, Romo Agus Parera, Romo Dominikus Juan Faot (alm), Romo Alo Lake dan Romo Tony Duka (2008-sekarang).


Kapan, 26 April 2012

Seperti yang diceritakan oleh Ignasius Senda dan Ferderika Elizabeth Kamlas, kepada
Christian Dicky Senda

Surat Dari Sahabat (Lanjutan Dia-loe-gue Kita)


 Semalam seseorang mengirim pesan ke kotak pesan di akun facebook saya dan bikin saya surprise. Isinya seperti berikut:

''Halo teman Dicky, selamat malam..  
saya sering mengikuti statusmu (di Facebook) yang kadang membuat saya iri, kok ada ya, orang yang begini tekun untuk membaca dan menulis, saya juga sering punya ide tapi tidak cukup tekun dan tertarik untuk buat sesuatu dengan ide itu, tapi tidak apa-apa, masing-masing punya talenta yang berbeda
Saya hanya mau bilang tetap semangat, dunia ini butuh orang-orang seperti dirimu untuk melihat suatu hal dari berbagai sisi dan untuk semakin memperkaya dunia..
Tetap buat status yang buat saya 'iri' ya, supaya saya juga tetap semangat, tekun di ladang saya, hehehe, GBU


Judith Seran''

 Saya langsung membalas tidak di kotak pesan, melainkan di dinding akunnya kaka Judith,:

''Halo kaka Judith...makasih untuk pesan di inbox...by the way, saya jawab disini saja e... kayaknya beta kenal kaka nih...Kalo sonde salah kakak yang jadi dirigen saat konser OMK Soe Desember lalu kan? Wah saat itu beta nonton...keren. Soal pesan di inbox: beta juga butuh kawan, orang-orang muda seperti kaka untuk sama-sama katong wujudkan hal-hal positif yang bisa katong buat jadi kenyataan. Di Soe beta juga ada bikin komunitas blogger dgn dokter Sandra Frans. Pengen ngumpulin sebanyak mungkin anak-anak muda di Soe yang mau akan perubahan. Yuk sama-sama kita mulai dr hal-hal kecil, misalnya beta deng Sandra suka nulis, kita sudah nerbitin buku puisi dan cerpen, mungkin yang pertama dari anak muda Soe...Pengen semakin banyak lagi talenta dikumpulin. Seperti kaka dan kawan-kawan OMK yang jago nyanyi, mungkin suatu saat kita bikin acara musikalisasi lagu, puisi dan cerpen. Kayaknya kereeen tuh kak, gimana? Hehehehe....
Btw, makasih yah kak untuk surat singkatnya. Kapan-kapan ada waktu kita bisa kopdar di Soe dengan kawan-kawan komunitas Uno.''

Akhirnya misi saya selama ini direspon. Ini bukan pertama kali. Saya selalu menyambut baik respons seperti ini. Karena saya sadar, saya tidak mungkin melakukan sendirian, saya butuh kawan-kawan yang punya visi misi yang sama. Seperti saat ide saya membuat kelompok menulis MudaersNTT kemudian disambut baik Marsie Seda, Doddy Botha, Sandra Frans, kae Tuteh Pharmantara, Eka Wangge, Umbu Nababan, Ephie Taga, dll. Semua berawal dari keisengan saya melempar ide ke facebook, misalnya saat saya mengajak Charles Tanesib, Yeni Willa, Adelaide Oematan dan Nesi Sipa,yang notabene kami semua anak-anak Kapan. Saya bilang, yuk kawan-kawan, kapan nih kita menulis sejarah kedatangan orang Cina, Bugis dan Sabu di Kapan. Lalu kita posting ke blog atau ke wikipedia. Dan kami sedang memulai itu. Puji Tuhan. 

Andakah orang Muda NTT lainnya yang punya semangat yang sama? Mari sama-sama katong wujudkan....



Selasa, 24 April 2012

Dibalik Layar Film Atambua 39 Derajat C (Miles Film)


Mira Lesmana, produser Atambua 39 Derajat C
  
 


Kru di Namosain-Kupang, salah satu lokasi syuting

Gudino Soarez, aktor Timor berikutnya



sumber foto: www.twitter.com/mirles

Senin, 23 April 2012

Mamatua deng Bapatua


deng Mamatua

Jemmy O.M. Senda deng Bapatua

Kamis, 19 April 2012

Kata Mereka Tentang Buku Puisi #CerahHati



Membaca Senda, seperti membaca  masa depan. 
‘Kulihat negeriku hamil tua siap  melahirkan generasi-generasi tangguh,
yang puisinya adalah pedang pembelah jiwa.  Menjatuhkan status quo, korup dan kerdil budi.
Mari kita rayakan  lahirnya penyair NTT asal Mollo, TTS. (Jonatan Lassa. Forum Academia NTT)

Membaca Cerah Hati seperti merasai satu demi satu lembaran kejujuran hati...
(Anastasia Fransiska Eka Wangge. Blogger dan penikmat sastra. Bergiat di Flobamora
Community dan Mudaers NTT Menulis)

Bagi saya Cerah Hati adalah pelangi. Saya berayun-ayun dan meluncur bebas membaca puisi demi puisi.
Selamat atas cetakan ke-2 Cerah hati! (Tuteh Pharmantara. Ketua umum Komunitas Blogger NTT,
kepala sekolah @AkberEnde, penulis novel Indira Fedel. Twitter @tuteh)

Sebagaimana air segar mengalir dari Gunung Mutis untuk tanah Timor, begitupun syair-syair sahabatku
Christian Dicky Senda, mengalir – mencerahkan hati, menyuburkan ladang sastra Flobamora.
(Amanche Franck Oe Ninu. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora)
 
Membaca Cerah Hati mengingatkanku pada kerinduan tak berakhir dari dunia yang bersua,
bawakan harapan setiap senyuman lewat  torehan hitam di atas putih. Kejujuran dari mata hati
hingga bengap dari anak rantau, rindukan kosmik tanah kelahiran menjadi isi dari setiap hentakan
detik dunia.  (Abdul M Djou. Blogger dan Penyair muda NTT)
 
Christian Dicky Senda telah berhasil membangun imej tersendiri yang lekat di hati pembaca.
Tulisannya mengenai wanita, ibu, alam, negeri, dapat membawa saya  untuk tenggelam asyik dan
menggelitik agar ikut menulis.  (Sandra Olivia Frans. Blogger,
Penulis kumpulan cerpen dan prosa pendek ‘Hawa’. Twitter @sandrafrans )

NB: Cerah Hati adalah buku puisi anak Mollo-Timor, diterbitkan secara indie via Indie Book Corner. 
Desain cover Gerald Louis Fori (anggota kelompok MudaersNTT). Info dan pemesanan 08113822122 dan buku akan dikirim ke alamat tujuan. Harga buku Rp. 35.000, belum termasuk ongkos kirim.